kejujuran dan kebenaran
AKHLAK, DASAR ISLAM

Inilah Buah Dari Kejujuran Dan Kebenaran

Alomuslim.com Kehancuran kini telah menimpa sebagian besar negeri kaum muslimin. Demikian halnya yang terjadi pada negara kita ini. Hal ini disebabkan karena kaum muslimin telah meninggalkan ajaran-ajaran mulia agama ini. Kaum muslimin, terutama para penguasa, telah terpedaya dengan kekuasaan dan kekayaan, hingga mereka rela melakukan apapun agar bisa berkuasa dan menguasai kekayaan.

Para penguasa itu tidak ragu ketika harus mengorbankan keimanannya. Mereka membuat berbagai tipu daya untuk bisa berkuasa, mereka menyebarkan berita dusta untuk menjatuhkan semua pihak yang bersebarangan dengannya, hingga melakukan tindakan korupsi agar bisa cepat mengumpulkan kekayaan.

Kondisi rakyatnya-pun demikian. Mereka juga kerap kali melakukan berbagai tindakan yang bertentangan dengan syariat. Seperti, melanggar peraturan lalu lintas, menyontek ketika ujian, menyogok untuk mendapatkan perkerjaan atau menyuap petugas agar dibebaskan dari perkara hukum serta banyak lainnya.

Ajaran Islam telah menetapkan yang seharusnya bagi seorang muslim, baik penguasa maupun rakyat, yakni senantiasa menjadi orang yang jujur dan mencintai kebenaran. Prinsip hidup mereka bergantung pada kedua hal tersebut, kejujuran dan kebenaran, dan tidaklah keduanya menunjukkan kepada selain kebaikan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

“Hendaklah kamu berbuat jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga, selama seseorang terus-menerus berlaku jujur dan berusaha jujur sampai dicatat disisi Allah sebagai orang yang jujur..” (HR. Muslim no. 2607)

Seorang muslim senantiasa menetapi kebenaran didalam perkataan dan perbuatan. Seorang muslim juga memandang kejujuran bukan sekedar kewajiban saja, tetapi ia merupakan penyempurna keislaman dan keimanannya. Sehingga tidak sempurna islam dan imannya apabila dirinya masih berbuat dusta dan mengingkari kebenaran.

Buah yang akan dipetik

Sungguh, kejujuran dan kebenaran ini memiliki buah yang bagus yang akan dipetik oleh orang-orang yang senantiasa melakukannya, diantaranya :

1. Leganya Hati Dan Tenangnya Jiwa

Kejujuran dan kebenaran akan membuat hati seseorang menjadi lega dan jiwanya menjadi tenang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, pernah bersabda :

“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu, karena jujur itu adalah ketenangan, sedang dusta adalah keragu-raguan.” (shahih. HR. At Tirmidzi no. 2518)

Sementara orang yang senantiasa berdusta dan mengingkari kebenaran, hidupnya akan selalu gelisah, dibayang-bayangi ketakutan dan hidupnya menjadi tidak tenang. Bagi pelakunya, akan menyeret untuk terus-menerus berdusta demi menutupi kedustaannya.

2. Berkah Dalam Usaha Dan Tambahan Kebaikan

Bagi seseorang yang jujur dalam pekerjaan dan usaha yang ia lakukan, hal itu akan membawa berkah dalam usaha serta menghasilkan tambahan kebaikan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Dua orang yang berjual beli berhak melakukan khiyar (tawar menawar) selagi belum berpisah, jika keduanya jujur dan saling terus terang, maka keduanya diberkahi dalam jual belinya..” (HR. Bukhari no. 6079)

Hal ini juga tentu berlaku bagi orang yang jujur dalam pekerjaannya, dimana ia tidak menipu, memperdaya atau berdusta kepada atasan maupun rekan kerja dan semua rang yang terlibat dengannya.

3. Kebahagiaan Setingkat Para Syuhada

Menjadi syuhada (orang yang mati syahid) merupakan cita-cita setiap umat muslim. Namun hanya dengan keinginan yang jujur di hati, seseorang dapat mencapai derajat tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan jujur (benar), maka Allah akan menyampaikannya pada (kedudukan) orang-orang yang mati syahid, meskipun ia mati diatas ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1909)

Demikianlah beberapa buah dari kejujuran dan kebenaran. Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi seseorang yang mencintai kejujuran dan kebenaran. Allahumma aamiin.

Referensi : Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *