Siapakah Keluarga Imran Yang Namanya Diabadikan Dalam Al Qur’an?

Alomuslim.com – Dalam Al Qur’an ada sebuah surat yang dikenal dengan nama Ali Imran (keluarga Imran), yakni urutan ketiga setelah surat Al Fatihah dan Al Baqarah. Siapakah sebenarnya keluarga Imran tersebut? Apakah Imran seorang Nabi? Apa keistimewaannya, sampai diabadikan sebagai nama surat di Al Qur’an? Ada banyak lagi pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Dalam surat Ali Imran ayat 33, Allah berfirman :

 إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).”

Keluarga Imran adalah salah satu keluarga yang diberikan kelebihan dan kemuliaan oleh Allah atas keluarga-keluarga lain pada masanya. Imran merupakan nama seorang ulama di kalangan Bani Israil yang tinggal di Palestina. Imran dikenal oleh kaumnya sebagai orang yang shaleh, dan merupakan pimpinan para ulama yang bertugas mengurusi Baitul Maqdis. Apabila kaumnya ingin menyembelih kurban untuk Allah, maka Imran-lah orang yang bertugas untuk menyembelih kurban tersebut.

Para ahli sejarah menyebutkan, Imran memiliki seorang isteri yang mandul. Hingga ketika istrinya sedang mengandung, sang istri bernazar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau anak yang lahir adalah laki-laki, maka ia akan dijadikan sebagai anak yang berkhidmat di Baitul Maqdis. Pada saat istrinya sedang mengandung ini, Imran wafat, sehingga ia tidak pernah bertemu dengan anaknya.

“(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata; “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran : 35)

Tetapi ternyata yang dilahirkan bukan laki-laki, tetapi seorang anak perempuan. Kemudian anak perempuannya diberi nama Maryam, yang menurut bahasa mereka berarti pelayan, maksudnya adalah melayani Baitul Maqdis. Dalam makna yang lain berarti Abidah atau perempuan yang rajin dalam beribadah, karena dirinya mengkhususkan diri untuk beribadah di Baitul Maqdis.

“Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya diapun berkata; “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahrikannya itu; dan anak laki-laki tidaklah sama seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syetan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran : 36)

Sungguh, Allah telah menerima doa isteri Imran dengan penerimaan yang baik. Maka ketika Maryam tumbuh dewasa dibawah asuhan pamannya Nabi Zakariya, ia menjadi seorang wanita yang shalehah dan ia benar-benar mewujudkan nazar orangtuanya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Maryam adalah seorang wanita yang suci dan ia merupakan ibu dari Rasul Allah, Isa bin Maryam.

Salah satu hikmah dari kisah keluarga Imran adalah bagaimana seseorang akan dimuliakan ketika ia bertekad atas seluruh hidupnya hanya untuk berkhidmat dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Referensi :

  • Al Qur’an Al Karim
  • Kisah Nabi Isa Alaihissallam, Firanda Andirja, MA

Leave a Comment