Ketentuan Mengenai Kain Kafan
DASAR ISLAM, KEMATIAN DAN JENAZAH

Beberapa Ketentuan Mengenai Kain Kafan

Alomuslim.com – Ketentuan Mengenai Kain Kafan Para ulama telah bersepakat bahwa hukum mengkafani mayit adalah fardhu kifayah. Syariat Islam juga telah memberikan pedoman mengenai cara memakaikan kain kafan untuk mayit. Beberapan ketentuan yang harus diperhatikan, diantaranya hadits dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menyebutkan :

“Bahwa Rasulullah dikafani dengan tiga kain dari Yaman yang berwarna putih sahuliyyah (nama sebuah desa di Yaman) dari kusuf dan tidak memakai baju gamis serta tidak pula memakai imamah.” (HR. Bukhari no. 1264, Muslim no. 941)

Berdasarkan dalil tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa jenis kain kafan adalah sebagai berikut :

1. Berwarna Putih

Hal itu juga berdasarkan pada sabda Nabi , ‘Pakailah pakaian yang putih, karena itu adalah pakaian yang terbagus, dan kafanilah mayit kalian dengan kain warna itu.’ (HR. Abu Dawud no. 3878, At-Tirmidzi no. 994, Ibnu Majah no. 1472)

2. Tiga Kain

Rasulullah  dikafani dengan tiga lapis kain, maka berdasarkan hal tersebut menjadikan ketentuan bahwa untuk memakaikan kain kafan adalah tiga lapis. Sementara untuk wanita, sebagian ulama berpendapat bisa dipakaikan sampai lima lapis karena semasa hidup wanita lebih banyak membutuhkan penutup, maka demikian halnya ketika telah meninggal.

3.Kain Terbuat Dari Kapas

Dalam hadits diatas disebutkan kata Kursuf, maksud dari kata tersebut adalah kapas. Jadi kain yang digunakan untuk mengkafani mayit terbuat dari kapas. Namun apabila sampai tidak mendapati kain kafan yang mencukupi untuk menutupi mayit, maka mayit dapat ditutupi dengan tumbuh-tumbuhan sejenis idzkhar, jika barang tersebut juga tidak ada, maka dapat diganti dengan memakai apa saja dari tumbuh-tumbuhan di bumi ini.

4. Tidak Dipakaikan Gamis dan Surban

Namun jika ingin dipakaikan gamis, maka hal tersebut diperbolehkan, namun tidak memakaikannya lebih baik, karena hal itulah yang dilakukan terhadap jenazah Rasulullah . Untuk yang membolehkan memakaikan gamis, mereka berpendapat dari keterangan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Abdullah bin Ubai ketika meninggal dunia, anaknya datang menemui Nabi dan berkata, ‘Ya Rasulullah, berikanlah gamismu untuk mengkafani ayahku dan shalatilah serta mintalah ampunan untuknya.’ Maka Nabi memberikannya. (HR. Bukhari no. 1269, Muslim no. 2774)

Selain dari hadits diatas, terdapat juga beberapa keterangan tambahan yang harus diperhatikan dalam memakaikan kain kafan untuk mayit,

5. Salah Satu Kain itu Adalah Kain Berjahit atau Berwarna

Diriwayatkan dari Jabir, dari Nabi , beliau bersabda :

“Jika salah seorang diantara kalian meninggal dunia dan memiliki banyak harta, maka kafanilah ia dengan kain yang berjahit.” (HR. Abu Dawud no. 3150, Al Baihaqi 3/403)

6. Hendakya Diberi Wewangian

Hal ini seperti termaktub dalam riwayat Jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jika kalian memberi wewangian pada tubuh mayit, maka berilah wewangian tiga kali.”

Ada juga beberapa ulama yang berpendapat hal itu sebagai sesuatu yang sunnah saja, sebab hanya dianggap sebagai kebiasaan orang yang masih hidup ketika mandi dan memakai pakaian baru.

Wallahu ‘alam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *