Ketika Kesucian Madinah Dan Mekah Dirusak Oleh Khalifah Islam

Ketika Kesucian Madinah Dan Mekah Dirusak

Alomuslim.com – Setelah gelombang fitnah yang mendera umat Islam terjadi pada masa khalifah Ali bin Abu Thalib radhiallahu anhu, dimana masa kepemimpinannya selama kurang lebih empat tahun dihabiskan untuk melerai segala kekacauan dikalangan kaum muslimin, yang sudah tersebar ke berbagai wilayah.

Kemudian muncul Mu’awiyah sebagai pemimpin kaum muslimin pada tahun 40 Hijriyah, yang menerima penyerahan kekuasaan dari Al Hasan bin Ali radhiallahu anhu dan memintanya untuk menyudahi berbagai kekacauan dikalangan kaum muslimin. Keadaan kaum muslimin-pun kembali tenang, setiap orang dapat beribadah dengan tenang dan hidup dalam damai.

Tetapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama, hingga pada tahun 51 Hijriyah, Mu’awiyah membuat sebuah keputusan yang merubah sejarah Islam dan sebagian besar para sahabat menganggap ia merusaknya. Mua’wiyah mengangkat anaknya Yazid bin Mu’awiyah menjadi penerusnya sebagai Khalifah, dan peristiwa inilah yang kembali menghacurkan kedamaian kaum muslimin serta memunculkan kekacauan yang baru.

Ketika Yazid dinobatkan sebagai khalifah pada tahun 61 Hijriyah, yang saat itu masih berusia sekitar 35 tahun, ia benar-benar menjadi khalifah yang sangat buruk. Yazid memimpin kaum muslimin dengan kesewenangan dan jauh dari kemuliaan. Sehingga banyak dari kalangan para sahabat yang masih hidup pada saat itu menentangnya. Tetapi Yazid tidak ragu untuk membunuh siapapun yang menentangnya.

Terjadilah, apa yang telah Allah tetapkan bagi kaum muslimin, pada tahun 63 Hijriyah, ketika sampai sebuah berita kepada Yazid, yang mengatakan bahwa penduduk Madinah melakukan pemberontakan dan tidak lagi mengakui Yazid sebagai khalifah. Yazid kemudian mengirim pasukan dalam jumlah besar kepada penduduk Madinah untuk memerangi mereka.

Sejarah mengenal kejadian ini dengan sebutan peristiwa Harrah (satu tempat di sebelah timur Madinah). Dimana kaum muslimin, diantaranya adalah para sahabat Rasulullah, dibunuh dan kota Madinah dihancurkan serta hampir seribu perawan dirusak kegadisannya. Salah satu riwayat menyebutkan, bahwa tatkala Yazid melakukan kekejian terhadap penduduk Madinah, ia melakukannya sambil minum-minuman keras dan berbuat kemunkaran di Istananya.

Setelah menghancurkan Madinah, pasukan tersebut melanjutkan misinya menuju Mekah untuk menghancurkan pasukan yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair. Dalam perjalanan inilah, pimpimpinan tentara yang telah merusak kesucian Madinah meninggal dunia, yaitu Uqbah bin Muslim, dan digantikan dengan Al Husein bin Numyr Al-Sakuni

Tantara itu tiba di Mekah pada bulan Shafar tahun 64 Hijriyah. Mereka memerangi pasukan Abdullah bin Zubair dan melempari kota dengan manjaniq (sejenis pelontar batu) yang mengandung api sehingga mengabitkan sebagian penutup Ka’bah terbakar, atap-atapnya dan dua tanduk domba yang merupakan bekas kurban Nabi Ibrahim juga ikut terlalap api.

Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan Yazid pada bulan Rabi’ul Awwal, ketika perang itu masih berlangung. Abdullah bin Zubair berkata kepada tentara Yazid bin Mu’awiyah, ‘Wahai orang-orang Syam, sesungguhnya pemimpinmu yang zhalim telah mampus.’ Maka tantara tersebut segera kembali ke Syam dengan kehinaan.

Sungguh Allah telah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang hina, dan layak untuk mendapatkan laknat. Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah, maka Allah akan menanamkan rasa takut kepadanya dan Allah, malaikat serta seluruh manusia akan melaknatnya.” (HR. Muslim)

Referensi : Tarikh Khulafa, Imam As-Suyuthi (Pustaka Al Kautsar : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *