Ketika Terjadi Perbedaan Hari Raya Ied
SERBA-SERBI

Ketika Terjadi Perbedaan Hari Raya Ied

Alomuslim.com – Dalam penetapan awal waktu bulan Hijriyah kerap kali terjadi perbedaan di kalangan umat Islam, baik antar kelompok atau bahkan dengan beberapa negara muslim lainnya. Sehingga berdampak dalam pelaksanaan hari Raya Ied yang akan berbeda-beda pula antar kelompok atau negara. Lalu sebaiknya kita mengikuti yang mana?

Perbedaan seperti ini pernah terjadi pada masa sahabat, sebagaimana hadits dari Kuraib. Ketika Kuraib berangkat ke Syam, untuk bertemu Mu’awiyah. Ketika itu masuk 1 Ramadhan dan ia masih di Syam. Kuraib melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian ia pulang dan setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas radhiallahu anhu bertanya, ‘Kapan kalian melihat hilal?’ Kuraib menjawab, ‘Kami melihatnya malam Jum’at.’ 

Ibnu Abbas melanjutkan pertanyaannya, ‘Engkau melihatnya sendiri?’ Kuraib menjawab, ‘Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku-pun melihatnya. Mereka puasa dan Mu’awiyahpun puasa.’ Ibnu Abbas menjelaskan ; ‘Kami (di Madinah) melihatnya malam sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawwal.’

Kuraib bertanya lagi, ‘Mengapa kalian tidak mengikuti ru’yah Mu’awiyah dan puasanya Mu’awiyah?’ Ibnu Abbas menjawab ; ‘Tidak, seperti inilah yang telah diperintahkan Rasulullah shallallahu alaihi was sallam kepada kami.’ (HR. Muslim no. 1087)

Perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriyah merupakan hal yang wajar, karena setiap wilayah memiliki keadaan yang berbeda dalam melihat hilal (awal bulan). Sehingga kaidah yang berlaku, apabila disuatu negeri telah terlihat hilal sementara di negeri lainnya belum terlihat, maka bagi umat muslim di negeri yang telah melihat hilal boleh menetapkan waktu awal bulan tanpa harus memperhatikan negeri lainnya.

Dengan demikan hari raya Ied dikaitkan dengan waktu hilal disuatu negeri bukan dengan patokan negeri lain atau dengan aktivitas jama’ah haji di Arab Saudi ketika menentukan hari Raya Iedul Adha. Syaikh Utsaimin rahimahullahu, pernah berkata :

“Andaikan ru’yah di suatu negeri terlambat dari Mekkah, sehingga tanggal 9 di Mekkah adalah tanggal 8 di negeri mereka, maka hendaklah mereka berpuasa pada tanggal 9 di negeri mereka yang bertepatan dengan tanggal 10 di Makkah, inilah pendapat yang kuat.” (Al Fatawa XX/29)

Ketika pemerintah suatu negeri muslim telah menetapkan awal bulan Hijriyah, maka kaum muslimin di negeri tersebut wajib mengikuti meskipun penetapannya menyelesihi beberapa negeri muslim atau Arab Saudi sekalipun, yang merupakan kiblat kaum muslimin. Demikian halnya dengan kelompok-kelompok di suatu negeri yang menyelisihi ketetapan pemerintah, maka mereka wajib mengikuti ketetapan dari pemerintah.

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Bagaimana Sikap Kita Jika Terjadi Perbedaan Hari Raya Kaum Muslimin? Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
  • Apakah Puasa Arofah Tanggal 9 Dzulhijjah Mengikuti Hilal di Negeri Masing-masing Ataukah Tergantung Wukuf Jama’ah Haji di Arafah?, Najmi Umar Bakkar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *