keutamaan malam nisfu syaban
SERBA-SERBI

Adakah Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban?

Sebagian besar diantara kita mungkin pernah menerima ataupun menyebarkan pesan atau artikel singkat yang menjelaskan tentang keutamaan dan kemuliaan malam nisfu Sya’ban. Sebaiknya anda tidak lagi meneruskan penyebaran pesan tersebut. Berikut ini penjelasannya.

Malam nisfu Sya’ban diyakini oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia memiliki keutamaan yang besar. Sehingga banyak diantara mereka yang mengerjakan ibadah-ibadah khusus pada malam tersebut, seperti shalat atau membaca Quran, agar mendapatkan keutamaannya.

Tapi yang menjadi pertanyaan, adakah tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ibadah-ibadah yang harus dilakukan pada malam nisfu sya’ban? Apakah benar malam nisfu Sya’ban memiliki keutamaan besar?

Keutamaan Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban termasuk salah satu bulan mulia, yang keberadaannya terletak antara Rajab dan bulan suci Ramadhan. Di antara keistimewaannya, bulan Sya’ban adalah waktu dinaikkannya amalan setiap manusia.

Mengenai keutamaan bulan Sya’ban, ada hadits dari Usamah bin Zaid. Ia pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia tidak pernah melihat beliau melakukan puasa yang lebih semangat daripada puasa Sya’ban. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Keutamaan Malam Nisfu Syaban

Terdapat beberapa dalil yang dijadikan pegangan oleh kaum muslimin terkait dengan keutamaan malam nisfu sya’ban. Diantara beberapa dalil tersebut adalah,

  • Dalil pertama,

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.”

(HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Keterangan hadits ;

Menurut para ulama, hadits diatas masuk dalam kategori hadits maudhu’ (palsu). Artinya, hadits tersebut tidak benar dikatakan sebagai hadits yang berasal dari lisan atau ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam kaidah ilmu fiqih, hadits maudhu’ tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

Adapun hadits di atas diriwayatkan dari jalur Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib, secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dalam jalur periwayatan haditsnya ada seorang perawi bernama Ibnu Abi Sabrah. Ibnu Abi Sabrah dalam periwayatan hadits statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta). Hal ini sebagaimana keterangan dari Ibnu Hajar dalam At-Taqrib. Imam Ahmad dan juga gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.” [Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132]

  • Dalil kedua, diambil dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu

فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: “أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله” فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال :” إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

“Aku pernah kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku keluar, ternyata beliau di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi bertanya; “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi jatah Aisyah).

Aisyah mengatakan : Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka anda mendatangi istri yang lain. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam nisfu syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba bani kalb.”

Keterangan hadits ;

Terdapat perselisihan pendapat mengenai derajat hadits ini. At-Turmudzi menegaskan : “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadis ini.” Lebih lanjut, imam Bukhari menerangkan mengenai beberapa orang yang meriwayatkan hadits ini : “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al-Mathalib, 1/84).

Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad-Daruquthni tentang hadis ini : “Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al-Ilal Al-Mutanahiyah, 3/556).

Akan tetapi Syaikh Albani menshahihkan hadits ini. Beliau menjelaskan bahwa kelemahan dalam hadis ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadis ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadits Dhaifah, 3/138).

  • Dalil ketiga,

إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Keterangan hadits,

Hadis ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al-Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadis dishahihkan oleh Imam Al-Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1144.

Beliau menilai hadis ini sebagai hadis shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadis ini sebagai hadis lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadis yang menyebutkan tentang keutamaan nisfu syaban sebagai hadis dhaif.

Lalu Bagaimana Dengan Amalan Di Malam Nisfu Sya’ban?

Melihat beberapa dalil yang disebutkan diatas, bahwa hadits yang menjelaskan tentang kekhususan mengerjakan ibadah pada malam nisfu Sya’ban derajatnya maudhu’ (palsu), maka tidak boleh kita mengamalkannya.

Sementara hadits lainnya yang diperselisihkan oleh para ulama, tidak menyebutkan adanya ibadah khusus yang harus dikerjakan, melainkan hanya menjelaskan keutamaan malam nisfu Sya’ban saja.

Jadi dalam hal ini sebaiknya kita tidak mengerjakan ibadah khusus, sebagaimana yang banyak dikerjakan oleh kaum muslimin dengan membuat perayaan dan berkumpul-kumpul sambal membaca Qur’an, mengerjakan shalat malam dan sebagainya dengan jumlah tertentu.

Hal ini tidak sama sekali ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang lebih baik adalah kita meninggalkannya.

Namun, kalau tetap ingin beribadah, maka kerjakan saja sendirian dengan tidak mengkhususkan niat sebab malam nisfu Sya’ban. Sebagaimana ibadah-ibadah pada malam hari di bulan-bulan lainnya.

Dan tetap mengerjakan ibadahnya adalah yang sesuai dan telah di contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan mengerjakan ibadah yang mengada-ada atau diada-adakan sendiri.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi :

 


Artikel Lainnya :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *