Kisah Awal turunnya Al qur'an
KISAH NABI DAN RASUL, SIRAH NABAWIYAH

Kisah Awal Turunnya Al Qur’an

Alomuslim.com – Al Qur’an pertama kali diturunkan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah terjadi pada bulan Ramadhan. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah di kitab-Nya yang Mulia :

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan ang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).” (QS. Al Baqarah : 185)

Sesungguhnya wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengannya ialah mimpi yang benar. Dan tidaklah beliau bermimpi dalam tidurnya, kecuali pasti beliau melihatnya laksana rekahan sinar pagi. Artinya sangat jelas terlihat.

[irp posts=”1099″ name=”5 Keutamaan Membaca Al-Quran”]

Mulai saat itu, Allah menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suka menyendiri dan tidak ada pekerjaan yang lebih disukainya lebih dari menyendiri. Selama beberapa hari ketika beliau hendak keluar rumah menuju tempat yang sepi, setiap kali melewati batu dan pohon kecuali keduanya pasti berkata : ‘As Salaamu Alaika ya Rasulullah.’ Tetapi beliau tidak mendapati seseorangpun yang mengucapkan hal itu, melainkan hanya melihat batu dan pohon saja.

Rasulullah juga kerap kali menyendiri di Gua Hira’ setiap tahun di bulan Ramadhan. Hingga suatu kali ketika sedang menyendiri di Gua Hira’, beliau bermimpi di datangi oleh Malaikat Jibril, dengan berucap “Bacalah” dan kemudian menyampaikan sebagian dari surat Al Alaq ayat 1-5.

Setelah malaikat Jibril selesai menyampaikan ayat itu, Rasulullah terbangun dari tidurnya dan mendengar suara dari langit yang mengatakan, ‘Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril.’ Seketika itu beliau keluar dari Gua Hira’ kemudian melihat ke arah langit, maka beliau mendapati malaikat Jibril dalam sosok seorang laki-laki yang membentangkan kedua kakinya ke ufuk langit.

Tidaklah Rasulullah melihat kepada ufuk langit yang lain, kecuali Jibril berada disana juga. Dan beliau hanya bisa terpana bagaikan patung menyaksikan wujud Jibril yang seperti itu.

Referensi : Sirah Nabawiyah Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam (Akbar Media : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *