Kisah Kaum Nabi Luth Alaihissallam

Alomuslim.com – Berbicara mengenai kaum Nabi Luth alaihissalam, berarti kita akan membicarakan mengenai suatu kaum yang berbuat kekejian yang belum pernah dilakukan oleh seorang manusiapun sebelumnya. Yakni, penyimpangan seksual yang menyukai sesama jenis (homoseksual) dan meninggalkan para wanita yang secara fitrah diciptakan untuk menjadi pasangan hidup mereka. Kaum Nabi Luth tinggal di kota Sadum (Sodom) yang merupakan ibu kota negeri Ghaur Zaghar, hari ini dekat dengan sungai Yordan.

Nabi Luth hidup satu zaman dengan Nabi Ibrahim Al Khalil, dan beliau merupakan anak dari Haran bin Tarih, yang merupakan saudara pertama Nabi Ibrahim. Nabi Luth meninggalkan negeri pamannya di Palestina menuju kota Sadum berdasarkan perintah dan izin dari Nabi Ibrahim Al Khalil. Sebagaimana Nabi dan Rasul yang diutus kepada satu kaum, Nabi Luth juga menyeru kaum Sadum untuk beribadah kepada Allah semata, melarang melakukan kemunkaran serta meninggalkan perbuatan menjijikan yang telah menjadi kebiasaan mereka, yakni homoseksual.

Selain melakukan penyimpangan seksual, kaum Nabi Luth juga gemar merampok, mengkhianati kawan, melakukan kemunkaran di tempat-tempat pertemuan baik dengan tutur kata ataupun tindakan dengan berbagai macam jenisnya. Bahkan menurut salah satu sumber, mereka juga gemar beradu kentut di tempat-tempat perkumpulan anpa merasa malu dengan teman-temannya. Ketika Nabi Luth menyeru kepada kaum Sadum untuk berhenti meninggalkan semua perbuatan buruk tersebut, tidak ada seorangpun yang menerima seruannya atau beriman kepadanya.

Mereka enggan meninggalkan perbuatan yang dilarang dan tetap saja seperti itu. Mereka tidak memberikan tanggapan apapun selain dengan menyatakan, “Usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (menganggap dirinya) suci.” (QS. An-Naml : 56). Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai akal, mereka mencela Nabi Luth dengan kata-kata yang seharusnya diucapkan sebagai pujian. Dan puncak dari penentangan mereka kepada Nabi Luth adalah dengan mengatakan, “Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Al-Ankabut : 29)

Saat itulah Nabi Luth memanjatkan doa keburukan untuk kaum Sadum, memohon kepada Rabb seluruh alamagar menolongnya atas kaum yang berlakuk kerusakan. Allah memperkenankan doa Nabi Luth dan mengutus para utusan mulia dari kalangan Malaikat, yang datang ke rumahnya dengan wajah yang rupawan. Para Malaikat ini sebelumnya telah menjumpai Nabi Ibrahim Al Khalil yang mengabarkan tentang akan adanya penghancuranbagi kaum Nabi Luth, juga mengabarkan kelahiran putranya, Ishaq.

Ketika para Malaikat sampai di kota Sadum, Nabi Luth kemudian membawa mereka ke rumah tanpa diketahui seorangpun kecuali keluarganya. Nabi Luth merasa takut dengan keberadaan tamunya, khawatir apabila ia tidak bisa menyelamatkan mereka dari kaumnya. Istrinya kemudian keluar dan memberitahukan kaumnya tentang keberadaan tamu Nabi Luth yang merupakan laki-laki yang amat tampan. Mendengar berita seperti itu, syahwat kaumnya bergejolak, dan mereka bersegera mendatangi rumah Nabi Luth.

Rumah Nabi Luth dikepung oleh kaumnya, mereka memaksa masuk untuk bisa menemui tamunya Nabi Luth. Nabi Luth menahan mereka di depan pintu rumahnya dan menasihati mereka agar meninggalkan syahwat terhadap sesama jenis dan agar mereka mau menikahi puteri Nabi Luth. Tapi mereka menolaknya dan terus memaksa hingga situasi tidak terkendali. Kemudian para Malaikat berkata, “Wahai Luth! Sesungguhnya, kami adalah para utusan Rabbmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (QS. Luth : 81)

Para ahli tafsir menyebutkan, Malaikta Jibril kemudian keluar menemui kaumnya lalu memukul mereka dengan kepakan sayapnya hingga mereka buta. “Dn sungguh, mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan peringatan-Ku! Dan sungguh, pada esok harinya mereka benar-benar ditimpa azab yang tetap.” (QS. Al Qamar : 37-38). Mereka akhirnya pulang dengan meraba-raba dinding sambil mngucapkan kata-kata yang mengancam para utusan Allah.

Para Malaikat kemudian menghampiri Nabi Luth dan memerintahkannya untuk pergi bersama keluarganya pada akhir malam dan agar tidak menoleh ke belakang saat mendengar suara azab yang menimpa kaumnya. Nabi Luth keluar bersama dua orang puterinya, dan meninggalkan istrinya bersama kaumnya. Tidak seorangpun dari kaumnya yang ikut bersama mereka. Setelah Luth beserta keluarganya keluar dari negeri Sadum dan matahari terbit, saat itulah putusan Allah tidak dapat terelakan dan siksa keras menimpa kaum Nabi Luth.

Allah berfirman, “Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar, yang diberi tanda oleh Rabbmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang zalim.” (QS. Hud : 82-83)

Allah telah mengabadikan kisah kaum Nabi Luth dalam kitab-Nya yang mulia agar manusia mengambil pelajaran darinya dan meninggalak segala keburukan yang pernah diperbuat oleh orang-orang terhadulu. Maka sangatlah mengherankan apabila hari ini ada sebagian orang yang berteriak-teriak menyuarakan kebebasan hak asasi agar bisa melegalkan praktek homoseksual. Sungguh mereka orang-orang yang tidak pernah mengambil pelajaran dari kisah kaum terdahulu. Allahul musta’an. 

Referensi : Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir (Ummul Qura : 2018)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may like