Kisah Nabi Shalih Dan Mukjizat Unta Betina

Kisah Nabi Shalih Dan Mukjizat Unta Betina

Alomuslim.com – Nabi Shalih alaihissalam merupakan seorang Rasul yang diutus kepada kaum Tsamud yang tinggal di Hijir (bukit berbatu), sebuah kawasan terletak diantara Hijaz (Arab Saudi) dan Tabuk, yang hari ini dikenal dengan nama Mada’in Shaleh, 450 kilometer dari Madinah ke arah utara. Kaum Tsamud tinggal di bukit-bukit yang dipahat menjadi rumah tinggal bagi mereka. Nabi Shalih merupakan salah seorang Rasul diantara empat orang Rasul yang berasal dari bangsa Arab.

Nabi Shalih hidup sepuluh generasi setelah masa Nabi Nuh alaihissalam dan beliau termasuk keturunan Nabi Nuh dari jalur putranya, Sam. Sementara Tsamud adalah nama kakek dari Nabi Shalih dan kaumnya, yang hidup lima generasi setelah masa Nabi Nuh. Kaum Tsamud adalah kaum yang menyembah berhala, sebagaimana halnya kaum Nabi Nuh dan kaum Ad pada masa Nabi Hud alaihissalam.

Allah mengutus Nabi Shalih untuk berdakwah mengajak kaumnya meninggalkan berhala-berhala yang mereka sembah dan hanya menyembah Allah saja. Kaum Tsamud merupakan sekumpulan orang-orang yang keras kepala, tidak hanya mengingkari ajakan dakwah Nabi Shalih, tetapi mereka tidak ragu untuk menyakiti  bahkan hendak membunuh Nabi Shalih, padahal beliau adalah saudara bagi mereka.

Nabi Shalih tetap berdakwah dengan penuh kelembutan dan selalu berusaha untuk menasihati kaumnya agar mengikuti ajakan dakwah beliau. Para ahli tafsir menyebutkan, pernah suatu kali kaum Tsamud sedang berada dalam perkumpulan, kemudian Nabi Shalih mendatanginya dan berdakwah menyeru mereka kepada Allah. Karena telah kesal dengan dakwah Nabi Shalih, kemudian diantara mereka ada yang menantang beliau untuk mengeluarkan seekor unta betina yang sedang hamil dengan ciri-ciri tertentu dari batu besar yang ada di dekat tempat pertemuan tersebut.

Mereka membuat perjanjian dengan Nabi Shalih, jika hal itu bisa dilakukannya maka mereka akan beriman kepada Nabi Shalih. Setelah itu Nabi Shalih menghampiri tempat shalat, kemudian shalat dan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar permintaan mereka dikabulkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memerintahkan bongkahan batu besar tersebut untuk mengeluarkan seekor unta betina besar dan hamil dengan ciri-ciri tepat seperti yang mereka inginkan.

Saat melihat mukjizat unta betina tersebut, sebagian kaumnya beriman namun sebagian besar tetap kafir dan membangkang. Diantara orang yang beriman adalah adalah Junda’ bin Amr, ia termasuk salah seorang pemimpin kaum Tsamud. Sementara diantara yang menghalangi orang-orang untuk beriman adalah Dzuab bin Labid dan Habbad, si pemilik berhala-berhala kaum Tsamud serta Rabbab bin Sha’ar.

Nabi Shalih dan kaum Tsamud membuat sebuah kesepakatan lain, yakni membiarkan unta betina tersebut untuk ada tengah-tengah mereka, tidak menyakitinya, memakan rerumputan di manapun dalam kawasan mereka, mendatangi air hari demi hari. Saat datang ketempat minum, unta betina meminum air sumur selama seharian, sementara kaum Tsamud menunda keperluan air hingga hari berikutnya. Menurut salah satu riwayat, mereka meminum air susu unta betina itu hingga kebutuhan mereka terpenuhi.

Setelah situasi itu berjalan cukup lama, para tokoh kaum Tsamud berkumpul untuk membuat kesepakat dengan tujuan menyembelih unta betina Nabi Shalih, agar mereka tidak lagi terusik dan dengan leluasa memenuhi kebutuhan air mereka. Akhirnya disepakati sebagai eksekutor penyembelihan unta betina tersebut adalah seorang pemimpin kaum Tsamud, Qidar bin Salif bin Junda’ dan akan dibantu oleh beberapa orang dari perwakilan masing-masing kaum.

Ibnu Jarir dan ulama tafsir lain menyebutkan, bahwa jumlah orang-orang yang hendak menyembelih unta betina Nabi Shalih adalah Sembilan orang. Saat unta betina itu meninggalkan tempat air, Mashra’ salah seorang dari mereka memasang perangkap dan memanahnya. Kemudian ia menikam kedua lambungnya dan mengajak rekan-rekannya untuk ikut menyerang. Dan yang pertama kali mengikuti adalah Qidar, yang langsung menebaskan pedang ke arah unta betina tersebut, dan tepat mengenai urat kakinya sehingga unta betina itu tersungkur.

Unta betina terjatuh dan mengeluarkan suara sangat keras hingga memaksa janin yang ada dalam perutnya keluar. Qidar kemudian menikam kepalanya lalu menyembelihnya. Anak unta betina tersebut berhasil meloloskan diri, naik ke atas gunung dan mengeluarkan keras sebanyak tiga kali. Dalam riwayat Abdurrazaq disebutkan, bahwa anak unta itu mengatakan, ‘Ya Rabb! Mana ibuku?’ setelah itu ia masuk ke dalam bongkahan batu besar dan menghilang.

Setelah Nabi Shalih mengetahui kaumnya menyembelih unta betina tersebut, beliau memperingati mereka dengan ancaman untuk bersukaria selama tiga hari sebelum adzab Allah datang menimpa mereka. Namun, ancaman keras ini ternyata tidak juga mereka percaya. Bahkan lebih parah lagi, mereka justru hendak membunuh Nabi Shalih agar segera menyusul unta betinanya. Tetapi Allah menyegerakan adzab bagi mereka yang hendak membunuh beliau hingga mereka semua binasa.

Hari pertama dari tiga hari yang diberikan kebebasan untuk bersenang-senang adalah Kamis. Setiap satu hari berlalu, wajah mereka berubah menjadi merah, namun pada hari ketiga wajah mereka berubah menjadi hitam. Pada hari Ahad pagi, mereka berkumpul menanti adzab seperti apa yang akan menimpa mereka dan dari mana arah siksaan itu tiba. Saat matahari terbit, datanglah suara menggemuruh dari langit di atas mereka, bumi yang dipijak berguncang hebat, semuanya diam tidak mampu bergerak, hingga nyawa mereka melayang dan tidak seorangpun selamat kecuali mereka yang beriman. Kisah mereka Allah abadikan dalam Al Qura’an sebagai pelajaran bagi umat-umat yang datang setelahnya.

“Ingatlah, kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, binasalah kaum Tsamud.” (QS. Hud : 68)

Referensi : Kisah Para Nabi, Ibnu Katsir (Ummul Qura : 2018)

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like