Kisah Sahabat Abu Hurairah Sang Pewaris Hadits 2

Kisah Sahabat Abu Hurairah 2 – Sebelumnya kita telah sedikit mengenang tentang perjalanan sahabat Abu Hurairah r.a semasa muda. Dimana ia masih dalam masa jahiliyah hingga akhirnya ber-syahadat dan menjadi muslim yang sangat taat. Kemanapun Rasulullah SAW pergi, beliau selalu saja mengikuti langkahnya. Bahkan hampir di semua ekspedisi atau perjalanan Rasulullah Abu Hurairah selalu setia mengikutinya.

Kisah Sahabat Abu Hurairah r.a

Abu Hurairah Didera Kemiskinan dan Kelaparan

Abu Hurairah r.a memang berbeda dengan kebanyakan laki-laki di Madinah lainnya. Ia tidak pergi ke pasar untuk bekerja dengan cara menjadi pedagang seperti kebanyakan kaum Muhajirin. Ia juga tidak berladang  atau bercocok tanam seperti kaum Anshor, karena memang ia tidak memiliki lahan untuk digarap. Itulah mengapa sahabat Abu Hurairah yang rumahnya berjarak dekat dengan tempat tinggal Rasulullah SAW selalu memiliki waktu yang longgar untuk ikut di setiap perjalanan Nabi SAW.

Abu Hurairah r.a selalu mendedikasikan dirinya untuk mengejar ilmu. Itulah yang menjadi salah satu penyebab ia kerap mengalami kesusahan atau kesulitan dalam segi ekonomi. Waktunya memang dihabiskan hanya menuntut ilmu dan menambah pengetahuannya. Bahkan sahabat Abu Hurairah r.a juga pernah menceritakan bahwa kelaparan adalah kondisi yang sudah sangat sering ia alami.

Ketika aku merasa lapar/kelaparan, aku biasa berkunjung ke salah seorang sahabat Rasulullah dan bertanya tentang ayang-ayat di al-Qur’an hanya agar ia kemudian mengajakku ikut ke rumahnya dan memberikan kepadaku makan.”

Ia juga pernah berkisah, pada suatu ketika Abu Hurairah didera rasa lapar yang teramat sangat menyiksa. Lalu ia mengikatkan sebongkah batu pada perutnya, dengan harapan rasa laparnya bisa sementara tertahan. Ia duduk di pinggir jalan yang sering menjadi jalan lewat para sahabat. Lalu beberapa saat kemudian sahabat Abu Bakar datang.

…….. Ketika Abu Bakar lewat aku bertanya padanya tentang satu ayat di Kitabullah agar ia mengajakku ke rumahnya. Tapi ia tidak mengajakku.”

Lalu beberapa saat kemudian sahabat Umar bin Khattab yang lewat. Abu Hurairah melakukan yang serupa, seperti apa yang ia lakukan saat Abu Bakar lewat. Tapi hasilnya tetap nihil, Umar bin Khattab juga tidak mengajaknya pulang kerumah. Hingga akhirnya Rasulullah SAW yang lewat di jalan itu.

Rasulullah yang mengetahui Abu Hurairah dalam kondisi lapar,”Abu Hurairah!” Sapa beliau. Abu Hurairah menjawab,”Saya datang ya Rasulullah.” Beliau Nabi SAW pun segera mengajaknya pulang kerumah. Sesampainya di rumah, Rasulullah melihat ada satu mangkuk yang berisi susu. Nabi SAW menanyakan kepada keluarganya tentang semangkuk susu tersebut,”Darimana kalian mendapatkannya?”

Seseorang mengirimkan susu itu untukmu, ya Rasulullah.” jawab orang di rumah Rasulullah SAW. Beliau pun lalu berkata kepada Abu Hurairah,”Abu Hurairah, pergilah engkau kepada para Ahlus Suffah dan undanglah mereka kemari.”

Abu Hurairah pun pergi melaksanakan perintah Rasulullah. Ia mengundang semua kaum Ahlus Suffah untuk datang memenuhi undangan Rasulullah. Sesampainya di rumah Rasulullah, Abu HUrairah dan para Ahlus Suffah pun dijamu dengan hidangan susu.

Pengetahuan Hadits Abu Hurairah Diuji

Kemampuan Abu Hurairah dalam mengingat begitu banyak hadits memang mengundang rasa kagum para sahabat. Kebanyakan dari mereka selalu datang ke Abu Hurairah r.a untuk bertanya perihal hadits Rasulullah yang pernah ia dengar, dan dalam kondisi serta situasi apa hadits itu terjadi.

Suatu ketika Marwan bin Al-Hakam penasaran dengan kemampuan dan ketepatan sahabat Abu Hurairah r.a dalam mengingat hadits. Ia sengaja mendatanginya untuk menguji kemampuan tersebut secara diam-diam. Ketika ia duduk bersama dengan Abu Hurairah, tanpa sepengetahuan Abu Hurairah, Marwan bin Hakan menugaskan seseorang untuk mencatat semua hadits Rasulullah yang Abu Hurairah ucapkan. Ia menunggu waktu hingga satu tahun untuk menguji ingatan Abu Hurairah.

Setelah satu tahun kemudian, Marwan bin Hakan kembali pada Abu Hurairah dan menanyakan kembali hadits yang setahun lalu pernah ia tanyakan. Dan yang terjadi adalah Abu Hurairah menjawab pertanyaan Marwan bin Hakam dan mengulangi hadits yang dulu pernah ia ucapkan dengan tepat, persis, dan tak ada satu katapun yang ditambah maupun dikurangi. Mulai saat itulah Marwan bin Hakam benar-benar mengakui kehebatan dan keistimewaan Abu Hurairah dalam menghafal hadits.

Bahkan tak hanya mengingatnya saja, Abu Hurairah juga termasuk sangat getol menyebarkan sekaligus memberikan pengajaran kepada orang lain tentang hadits-hadits Rasulullah yang tertancap abadi dalam ingatanya. Dikisahkan bahwa suatu ketika Abu Hurairah masuk ke dalam sebuah pasar besar di Madinah. Ia berada di tengah-tengah para penduduk Madinah yang kala itu sedang sibuk berniaga. Lalu, tiba-tiba ia berseru:

Bodoh sekali kalian ini, hai orang Madinah!”

Orang yang mendengarnya pun kaget, lantas menjawab,”Kebodohan apa yang kamu pandang dari kami Abu Hurairah?”

Peninggalan Rasulullah SAW sedang dibagikan sedangkan kalian masih saja disini! Apa kalian tidak menginginkannya?

penghuni pasar kembali bertanya,”Dimana, Abu Hurairah?” Ia menjawab singkat,”di Masjid.”

Orang seisi pasar pun berbondong-bondong pergi ke masjid dan meninggalkan lapak-lapak mereka. Abu Hurairah menunggu di tempat yang sama. Beberapa saat kemudian mereka kembali dan berkata,”Abu Hurairah, kami telah pergi dan memasuki Masjid, tapi kami tak melihat apa yang dibagikan.”

“Kalian tak melihat satu orang pun di dalam Masjid?”

Kami melihat iorang shalat, membaca al-Qu’an dan beberapa membicarakan yang halal dan haram.”

Lantas Abu Hurairah menjawab tegas,”Celakalah kalian, itulah peninggalan Rasulullah SAW.”

Sifat Tawadhu Sahabat Abu Hurairah r.a

Tak selamanya kaum Muslim yang dipimpin oleh Rasulullah SAW berada dalam kehidupan yang serba sulit. Suatu ktika, datang satu masa dimana mayoritas umat muslim berada di titik kejayaan mereka, begitu juga dengan Abu Hurairah. Ia memiliki harta, rumah nyaman yang digunakan untuk tempat tinggal, juga istri dan anak. Bahkan suatu ketika Abu Hurairah juga mendapatkan anugerah jabatan sebagai seorang gubernur si wilayah Bahrain setelah sahabat Umar bin Khattab mengangkatnya. Namun, beliau tetap pada sifat ketawadhu’annya.

Tak pernah sedikitpun Abu Hurairah bangga dan mencintai harta dunia yang telah ia miliki. Abu Hurairah bahkan semakin menambah intensitas waktunya hanya untuk beribadah. Seakan sisa waktunya dan keluarganya tak pernah kosong dari ibadah, baik shalat, dzikir, dan rutinitas Qiyamul lail yang tak pernah sekalipun dilewatkan.

Begitu juga akhlaknya terhadap orang tua. Dari muda hingga telah berkeluarga Abu Hurairah sangat menjaga hubungannya dengan sang ibu. Hormat dan santunya sahabat Abu Hurairah r.a kepada ibundanya benar-benar merupakan satu contoh yang harus kita tiru. Bahkan tak pernah sekalipun kakinyamelangkah keluar rumah sebelum mengucapkan salam kepada ibunya, setelah itu mereka saling berdo’a dan mendo’akan satu sama lain.

Penutup

Begitu besar jasa dari sahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu kepada seluruh umat muslim di penjur dunia. Berkat ketulusan dan usaha keras beliau, warisan Rasulullah masih terjaga, terpelihara dan terus tersebar hingga saat ini. Maka tak ada satupun yang setara untuk membalas jasa-jasa beliau. Semoga Allah Azza wa Jalla selalu ridhlo kepadanya. Beliau meninggal di usia 78 tahun, tepatnyapada tahun 59 hijriyah. Namun, meskipun begitu nama dan kisah sahabat Abu Hurairah sang Pewaris Hadits masih terus hidup hingga sekarang seiring dengan terus terpeliharanya hadits Rasulullah SAW.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *