Kisah Sahabat Abu Hurairah Sang Pewaris Hadits 1

Abu Hurairah Sang Pewaris Hadits 1

Kisah Sahabat – Abu Hurairah Sang Pewaris Hadits – Nama ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Bahkan hampir setiap hari ketika saat ita membuka literatur, artikel, atau bacaan tentang islam, seringkali nama Abu Hurairah disebutkan. Penyebutannya selalu/seringkali ditemui di bagian ekor satu hadits yang dicantumkan untuk menguatkan satu kisah atau hukum.

An Abi Hurairata radliyallahu anhu, qal: ‘Qala Rasulullahi salallahu alaihi wa sama……”

Begitulah kira-kira kalimat awal atau pembuka satu hadits yang acap kali kita temui di ceramah-ceramah maupun artikel-artikel syi’ar islam. Bahkan di khotbah jum’at atau kesempatan lainnya yang pada sesi tertentu yang terkait dengan hadits dan sirah, fikih, dll. Dari sana kita mulai dikenalkan dengan nama seorang Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.

Bukan satu yang kebetulan, karena memang dari jasa beliaulah hingga saat ini kita bisa mengerti apa yang dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya. Berkat beliau, Abu Hurairah radliyallahu anhu, ratusan hadits Nabi SAW dapat disebarkan dan dilestarikan untuk pedoman generasi-genarasi muslim hingga akhir jaman. Dibelakang beliau barulah ada nama sahabat lainnya yang juga merawikan begitu banyak hadits Rasulullah SAW. Nama-nama yang dimaksud adalah seperti halnya Anas bin Malik, Abdulullah bin Umar, Aisyah Ummul Mukminin, Jabir ibn Abdullah, serta Abu Said Al-Khudri.

Kisah Abu Hurairah r.a

Asal-Usul Abu Hurairah r.a

Kisah Sahabat Abu Hurairah

Abu Hurairah yang pada saat masih jahiliyah bernama Abdus Syamms berasal dari sebuah suku yang dikenal dengan nama suku Daus. Suku Daus sendiri adalah sebuah kelompok penduduk yang tinggal di Jazirah Arab sisi selatan tepatnya di wilayah Tihamah. Sebuah daerah yang berada di pinggiran laut merah.

Suku Daus dipimpin oleh seorang kepala suku yang berwibawa, ia dikenal dengan sebutan nama Tufail bin Amr. Dari Tufail inilah Abu Hurairah bersyahadat dan memeluk agama islam, mengikuti keyakinan Rasulullah SAW yang mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan Allah. Dari semua warga di Tihamah atau suku Daus, Abu Hurairah-lah yang pertama kali mendapat hidayah memeluk islam, dimana kebanyakan warga suku Daus masih ngotot dan mengimani kepercayaan lama mereka. Kepercayaan atau keyakinan yang telah dianut sejak masa leluhur mereka.

Sejak itu Abu Hurairah selalu mengikuti langkah kepala suku Tufail. Beliau pun ikut sang kepala suku ketika pergi berkunjung ke Mkkah untuk sowan Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Saat itulah pertama kalinya Abu Hurairah bertatapan muka dan bertegur sapa dengan Rasulullah SAW.

Bertemu dengan Abu Hurairah, Rasul bertanya,”Siapa namanu?

Abu Hurairah menjawab,”Abdu Syams – hamba Matahari ya Rasulullah!

Rasulullah lalu berujar,”Nama kamu AbdurRahman saja – hamba Yang Maha Pengasih.”

Baik, ya Rasul. AbdurRahman!” jawab Abu Hurairah r.a

Tapi, meskipun telah menerima nama dari Rasulullah, beliau tetap dikenal dengan nama Abu Hurairah. Kecintaannya terhadap kucing, seperti halnya Rasulullah SAW yang membuat ia dikenal dengan nama tersebut. Abu Hurairah berarti ‘Ayahnya kucing-kucing kecil.

Perjuangan Abu Hurairah Mengislamkan Ibunya

Abu Hurairah tak lama tinggal di Tihamah, setelah beliau memeluk islam beliau tinggal diMekah yang lalu bergabung dengan kaum Muhajirin di kota Madinah. Beliau adalah seorang yang tak punya banyak harta, maka tak jarang shabat Abu Hurairah r.a tinggal di masjid-masjid bersama dengan para Ahlus Suffah.

Saat itu beliau hanya hidup bersama dengan ibunya, yang pada saat beliau sudah memeluk islam sang ibu masih saja berpegang teguh dengan kepercayaan lamanya. Sudah tak terhingga upaya yang beliau lakukan untuk menggandeng ibunya ke jalan yang lurus, dan keluar dari jaman jahiliyahnya. Tapi tetap saja, do’a dan usahanya masih belum bisa membawa sang ibu menuju pintu hidayah.

Meskipun sang ibu kerap kali berkatayang tidak mengenakkan ketika Abu Hurairah mengajaknya untuk memeluk islam, tapi beliau tidak pernah menyerah. Hingga suatu saat, ketika kembali beliau berupaya mengajak ibunya bersyahadat, sang ibu mengeluarkan kata-kata tentang Rasulullah SAW yang membuat hati Abu Hurairah bersedih. Air mata Abu Hurairah deras keluar bercucuran, beliaupun memberanikan diri untuk berlari dan meminta bantuan Rasulullah.

Sesampainya beliau dihadapan Rasulullah, Rasul yang muli langsung menyambutnya denga pertanyaan,”Apa yang membuat engkau bersdih hati, ya Abu Hurairah?”

Tak pernah aku menyerah memohon ibuku masuk islam walaupun beliau terus menolakku. Hari ini, aku kembali meminta kepadanya, namun ada kata-kata yang keluar dari mulutnya yang tak aku suka. Mohonkanlah permintaan kepada Allah agar membuat hati Ibunda Abu Hurairah menerima islam.” terang Abu Hurairah.

Rasulullah lalu mengabulkan permintaan Abu Huraira agar mendoakan ibunya, dan memohonkan agar Allah membuka hati sang ibunda yang amat dicintainya itu. Dan benar saja, ketika beliau kembali pulang dirumah langsung saja menemui sang ibu. Tanpa disangka sang Ibu langsung ber-syahadat di depan Abu Hurairah r.a. Subhanallah!

Perjalanan Abu Hurairah Menuntut Ilmu

Abu Hurairah sangat bersyukur karena Allah SWT telah membukakan pintu hidayah untuknya dan keluarganya. Kecintaannya kepada Rasulullahpun tak bisa diragukan lagi. Ia selalu menunggu ucapan-ucapan Rasulullah SAW, dan tak pernah sekalipun Abu HUrairah tak mendengarkannya dengan seksama.

Beliau adalah seorang sahabat Nabi yang begitu haus akan ilmu. Beliau terus saja mati-matian berjuang dalam mencari ilmu. Dalam satu kisah dari sahabat Zaid bin Tsabit menceritakan tatkala ia sedang berdoa dan dzikir di masjid dengan sahabat lain, yang salah satunya adalah Abu Hurairah. Tiba-tiba Rasulullah mendatangi tempat mereka duduk, yang sedang berdo’a pun terdiam dan berhenti. Tapi Rasulullah SAW berkata,”Teruskan doamu.”

Zaid bin Tsabit dan sahabat lain pun berdoa, sedangkan Rasulullah SAW mengaminkannya. Tiba giliran Abu Hurairah berdo’a,”Ya Allah, hamba mohon kepada engkau apa saja yang diminta oleh kedua sahabat hamba, dan hamba memohon kepada engkau berikanlah ilmu yang tak akan pernah dilupakan.” dan Rasulullah SAW mengaminkannya juga.

Mendengar do’a Abu HUrairah yang mana mencakup do’a mereka, dan menambahkannya dengan memohonilmuyang tak akan dilupakan, Zain bin Tsabit pun kembali berdoa dan memohon yang serupa.

Dan kami memohon kepada Allah ilmu yang tak dilupakan.”

Tapi Rasulullah tak mengaminkannya, dan beliau berkata,”Abu HUrairah telah memintanya sebelummu.”

Doa’anya yang diamini langsung oleh Rasulullah pun sedikit demi sedikit dikabulkan oleh Allah Azza wa Jalla. Sepanjang tahun ia bersama Rasulullah, Abu HUrairah yang diberkahi daya ingat yang bergitu istimewa merekam dengan gamblang apa saja yang diucapkan oleh Nabi SAW. Dari situ ia mulai menyadari bahwa Allah SWT telah memberikan keistimewaan kepadanya, dan Abu Hurairah pun berjanji akan lebih bersungguh-sungguh mengabdikan diri secara total untuk agama dengan ilmunya yang di dapat dari perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW yang melekat dalam ingatannya.

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *