Kondisi Yang Dibolehkan Seseorang Melakukan Tayamum
BERSUCI, DASAR ISLAM

Kondisi Yang Dibolehkan Seseorang Melakukan Tayamum

Alomuslim.com – Tayamum dapat menjadi pengganti wudhu dan mandi junub berdasarkan ketentuan syariat. Terdapat beberapa dalil yang menyebutkan sahnya tayamum untuk bersuci dari hadats. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Dijadikan bumi seluruhnya untukku dan untuk umatku sebagai masjid dan untuk bersuci, maka di manapun seseorang dari umatku menemui waktu shalat, maka di situlah tempatnya untuk shalat dan bersuci.” (hasan. HR. Ahmad 2/222)

Sementara itu juga terdapat beberapa dalil yang menunjukkan tayamum berlaku atau sah untuk menghilangkan hadats besar (junub), diantaranya hadits Imran bin Hushain, yang menyebutkan suatu kali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasehati seseorang yang keadaan junub, kemudian bersabda :

“Carilah permukaan bumi (debu, tanah), sesungguhnya itu cukup bagimu.” (HR. Bukhari 348, Muslim 1535)

Kondisi Dibolehkan Bertayamum

Tayamum dibolehkan dalam 2 kondisi :

1. Ketika Tidak Terdapat Air

Ketika tidak terdapat air, baik karena kekeringan atau tidak menemukan sumber air pada saat hendak bersuci, maka seseorang dibolehkan untuk melakukan tayamum. Tetapi ketika kemudian orang itu menemukan air yang mencukupi untuk bersuci, maka ia harus memperbaharuinya dengan berwudhu. Karena tayamum ini bukanlah yang pokok sebagaimana wudhu, ia hanya sebagai pengganti karena adanya sebab.

2. Ketika Membahayakan Seseorang Untuk Menggunakan Air.

Kondisi sakit yang membahayakan, yang mengkhawatirkan akan dapat menambah parah sakit, atau memperlambat kesembuhan atau malah membahayakan nyawa, maka menurut pendapat imam dan ulama madzhab membolehkan atas orang tersebut untuk mengganti wudhu atau mandinya dengan bertayamum.

Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :

“Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah..” (QS. Al Ma’idah : 6)

Wallahu’alam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *