Larangan-larangan Yang Harus Diperhatikan Ketika Ihram

larangan yang harus diperhatikan ketika ihram

Larangan-larangan Yang Harus Diperhatikan Ketika Ihram – Larangan-larangan ketika ihram adalah setiap perbuatan yang tidak boleh dikerjakan oleh orang yang sedang ihram dan perbuatan tersebut jika dilakukan maka orang yang melakukan wajib membayar Dam, atau puasa, atau memberi makan orang miskin.

Beberapa Larangan Yang Harus Diperhatikan Ketika Ihram

1. Hubungan Intim Suami – Istri

Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ ١٩٧

“Barangsiapa yang niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah : 197)

Kata rafats yang terdapat dalam ayat di atas, bisa bermakna perkataan jorok bagi perempuan yang berkaitan dengan hubungan intim dan yang sejenisnya. Sebagaian ulama memahami kata rafats, mencakup hubungan suami-istri dan setiap perbuatan yang dapat mengarah padanya.

2. Mengenakan Pakaian Berjahit Bagi Laki-laki

Laki-laki yang melakukan ihram dilarang mengenaka pakaian yang berjahit, dan semua yang masuk dalam kategori pakaian, walaupun hanya digunakan oleh sebagian anggota badan. Yang dimaksud dengan berjahit bukanlah sesuatu yang memiliki jahitan, karena kalaupun menggunakan kain dan selendang yang keduanya berjahit maka tetap dibolehkan.

Baca Juga : Macam-macam Ihram Dalam Ibadah Haji

Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhu, bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi , ‘Wahai Rasulullah, pakaian apakah yang hendaknya dikenakan oleh seseorang yang melakukan ihram?’ Maka Rasulullah bersabda :

“Hendaknya ia tidak memakai baju, surban, celana, burnus (pakaian bersambung dengan penutup kepala) atau khuff, kecuali orang yang tidak memiliki sandal, maka dia boleh memakai khuff dan hendaknya memotongnya sampai di bawah dua mata kaki dan hendaknya tidak mengenakan pakaian yang terkena minyak za’faran atau waras.” (HR. Bukhari no. 1542, Muslim no. 1177)

3. Menutup Kepala Dengan Sesuatu Yang Melekat Di Kepala Bagi Laki-laki

Seorang laki-laki tidak diperbolehkan mengenakan peci atau surban dikepalanya pada saat melaksanakan ihram. Sesuai dengan hadits yang disampaikan dalam riwayat Ibnu Umar radhiallahu anhu, Rasulullah  bersabda, ‘Hendaknya ia tidak memakai baju, surban…” (HR. Bukhari no. 1542, Muslim no. 1177)

Bentuk larangan pada hadits tersebut tidak hanya dipahami sebatas mengenakan surban atau peci, tetapi juga berlaku untuk segala penutup yang melekat di kepala, seperti topi atau balaclava. Tetapi apabila penutup kepalanya berupa sesuatu yang tidak melekat, seperti payung, maka hal itu diperbolehkan.

4. Memakai Cadar Dan Sarung Tangan Bagi Perempuan

Hal ini sesuai dengan tambahan hadits dari Ibnu Umar pada poin sebelumnya, yaitu pernyataan : “..dan hendaknya wanita yang sedang berihram tidak mengenakan cadar, dan tidak memakai sarung tangan.” (HR. Bukhari no. 1838, Abu Dawud no. 1825, At Tirmidzi no. 833 dan An Nasa’i 5/133)

5. Memakai Wangi-wangian Di Badan Atau Pakaian

Sesuai dengan sabda Rasulullah dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu anhu,

“Dan janganlah kalian mengenakan pakaian yang telah tersentuh minyak za’faran atau waras.” (HR. Bukhari no. 1542, Muslim no. 1177)

Juga berdasarkan sabda baginda Nabi  mengenai kisah seorang yang terlempar dari hewan tunggangannya,

“Janganlah kalian pakaikan hanuth (minyak untuk mengawetkan mayat), janganlah kalian tutupi kepalanya, karena kelak ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah.”

Larangan ini berlaku ketika seseorang telah mengenakan pakaian ihram, karena apabila seseorang mengenakan wangi-wangian sebelum berihram termasuk dari sunnah. Demikian halnya disunnahkan mengenakan wewangian ketika hendak bertahallul.

6. Mencukur Rambut Kepala

Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

 وَلَا تَحۡلِقُواْ رُءُوسَكُمۡ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ ٱلۡهَدۡيُ مَحِلَّهُۥۚ ١٩٦

“Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan.” (QS. Al Baqarah : 196)

Apabila seorang yang sedang ihram merasa menderita dengan rambutnya, maka ia boleh mencukurnya dan dia harus membayar fidyah berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ بِهِۦٓ أَذٗى مِّن رَّأۡسِهِۦ فَفِدۡيَةٞ ١٩٦

“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah.” (QS. Al Baqarah : 196)

7. Memotong Kuku

Larangan memotong kuku sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

ثُمَّ لۡيَقۡضُواْ تَفَثَهُمۡ … ٢٩

“Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka..” (QS. Al Hajj : 29)

Para ulama telah bersepakat mengenai larangan memotong kuku, berdasarkan ayat diatas. Para sahabat menafsirkan ayat tersebut bahwa membersihkan kotoran yang dimaksud adalah mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan bulu ketiak dan lainnya. Berdasarkan penafsiran tersebut bahwa kedudukan kuku sama dengan rambut ketika berihram, maka memotong kuku dihukumi sama dengan mencukur rambut dan perbuatan tersebut terlarang dilakukan ketika ihram.

8. Melamar Dan Melaksanakan Akad Nikah

Berdasarkan sabda Rasulullah  :

“Orang yang sedang berihram tidak boleh melakukan pernikahan, dinikahi atau melamar.” (HR. Muslim no. 1409, At-Tirmidzi no. 840, dan yang lainnya)

Berdasarkan hadits tersebut, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan Imam Ishaq, mereka berpendapat bahwa orang yang sedang melakukan ihram tidak boleh melakukan akad nikah. Apabila dia melakukannya, maka nikahnya batal (tidak sah).

9. Melakukan Maksiat, Bermusuhan Dan Bertengkar

Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ ١٩٧

“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah : 197)

10. Berburu Hewan Darat

Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ ١٩٧

“Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.” (QS. Al Baqarah : 197)

Wallahu ‘alam.

Referensi :

  • Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *