Macam-macam Ihram Dalam Ibadah Haji

macam macam ihram dalam ibadah haji

Ihram Dalam Ibadah Haji – Ihram adalah niat haji atau umrah dari miqat yang telah ditentukan secara syariat. Ia merupakan rukun haji menurut pendapat mayoritas ulama, dan sebagai syarat sahnya haji menurut madzhab hanafi.

Macam-macam Ihram Dalam Ibadah Haji

Ibadah haji dapat dilakukan dengan tiga cara berikut :

1. Ifrad

yaitu seseorang berniat haji pada saat memulai ihram dengan mengucapkan, ‘Labbaik Allahumma bihajjin’ (Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah dengan berniat melaksanakan haji), kemudian dia melaksanakan amalan-amalan yang berkaitan dengan ibadah haji saja.

2. Qiran

yaitu seseorang berniat haji dan umrah secara bersamaan dengan mengucapkan, ‘Labbaik hajjan wa umratan’ (Aku memenuhi panggila-Mu dengan berniat haji dan umrah). Kemudian melakukan keduanya dalam satu rangkaian ibadah, atau memasukkan haji dalam ibadah umrah sebelum thawaf.

3. Tamattu’

yaitu seseorang hanya berniat umrah pada bulan-bulan haji dengan mengucapkan, ‘Labbaik umratan’ (Aku memenuhi panggilan-Mu dengan berniat umrah). Sesampainya di Makkah dia langsung melakukan manasik (ritual) umrah dan bertahallul (dengan menggundul kepala). Dia menetap di Makkah dalam keadaan halal (bukan sebagai orang yang sedang berihram), kemudian memulai ihram untuk haji dan melakukan semua manasiknya. Hal itu dilakukan pada tahun yang sama. Seseorang yang melakukan haji tamattu’ juga harus menyembelih hewan kurban, menurut kesepakatan ulama.

Tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama, bahwa haji pada permulaan masa Nabi ﷺ boleh dilakukan dengan tiga cara tersebut. Demikian pula diantara para sahabat ada yang melakukan hajii tamattu’, qiran dan ifrad, karena Nabi ﷺ memberikan pilihan kepada mereka untuk melakukan itu, sesuai hadits dari ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu anhu dia berkata : “Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ dan beliau bersabda, :

“Barangsiapa berniat haji dan umrah (sekaligus) maka hendaklah melakukannya, barangsiapa berniat haji saja maka henddaklah melakukannya, dan barangsiapa berniat umrah saja maka hendaknya melakukannya..” (HR. Muslim)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa ketiga cara tersebut, semuanya boleh dilakukan dan perintah dalam hal itu sangat luas, namun para ulama berbeda pendapat mengenai cara mana yang paling utama dalam pelaksanaan ibadah haji. wallahu ‘alam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *