makanan bangsa jin
DASAR ISLAM, MAKANAN

Makanan Bangsa Jin Yang Jarang Orang Ketahui

Makanan Bangsa Jin Yang Jarang Orang Ketahui – Berbicara mengenai bangsa jin janganlah menghadirkan persepsi dalam kepala anda, bahwa jin sama dengan hantu. Hantu merupakan sebuah ‘produk’ rekayasa dari para pengabdi jin untuk melariskan ‘dagangan’ mereka dalam menakut-nakuti manusia yang lemah imannya.

Sementara, jin merupakan makhluk nyata namun bersifat ghaib yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ciptakan dari api, sebagaimana firman Allah , :

 خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ ١٤  وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٖ مِّن نَّارٖ ١٥

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar Rahman : 14-15)

Jin memiliki beberapa kesamaan dengan manusia, diantaranya yaitu mereka mempunyai akal dan nafsu serta mendapatkan beban perintah dan larangan syariat. Oleh karena itu diantara bangsa jin juga ada yang muslim dan kafir, ada yang baik dan jahat. Jin kafir dan jahat inilah yang dikenal sebagai setan dari bangsa jin. Merekalah  yang kemudian bekerjasama dengan manusia dan menyebarkan berbagai keyakinan menyimpang dari syariat Islam.

Baca Juga : Jangan Mencela Makanan !!

Koalisi jin jahat dan manusia ini telah berhasil menutup-nutupi perbuatan mereka, dengan sesuatu yang hari ini kita kenal sebagai paranormal, orang pintar, ahli nujum dan yang seperti itu, yang seolah jauh dari penyimpangan syariat padahal sejatinya kesemua itu adalah sama yakni praktek perdukunan.

Dalam praktek perdukunan, sering didapati mereka membakar sesuatu yang disebut dengan “kemenyan” sebagai bagian dari ritual untuk memanggil para jin. Dan seringkali “kemenyan” ini, dianggap sebagai makanan bangsa jin yang dapat mengundang atau mengusir makhluk tersebut.

Selain kemenyan, untuk melengkapi proses ritual tersebut mereka juga membuat persembahan yang disebut dengan ‘sesaji’. Sesaji ini bisa berbentuk apa saja, terkadang ayam hitam, kopi pahit ataupun rokok dan sebagainya. Sesaji ini juga  dianggap sebagai makanan untuk para jin, menurut pendapat mereka.

Apakah bangsa jin membutuhkan makan dan minum?

Bangsa jin juga membutuhkan makan dan minum sebagaimana manusia. Hanya saja makanan bangsa jin tidak seperti yang digambarkan oleh mereka yang mempraktekan perdukunan. Dalam sebuah keterangan dari hadits yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah  :

“Ada apa dengan tulang dan kotoran?’ Beliau bersabda, ‘Tulang dan kotoran merupakan makanan jin. Keduanya termasuk makanan jin. Aku pernah di datangi rombongan utusan jin dari daerah Nashibin dan mereka adalah sebaik-baik jin. Mereka meminta bekal kepadaku. Lalu auku berdoa kepada Allah untuk mereka agar setiap kali mereka melewati tulang dan kotoran, mereka mendapati makanan padanya’.” (HR. Bukhari no. 3860)

Dalam hadits lain dari Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu, Rasulullah  bersabda :

“Janganlah kalian beristinja’ (membersihkan kotoran pada dubur) dengan kotoran dan jangan pula dengan tulang karena keduanya merupakan bekal bagi saudara kalian dari bangsa jin.” (HR. at-Tirmidzi no. 18)

Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu juga meriwayatan hadits lainnya, dari Rasulullah , bahwa para jin datang kepada Nabi ﷺ dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Nabi  bersabda kepada mereka,

Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim no. 450)

Sebagaimana seorang muslim dilarang untuk makan dan minum dari sesuatu yang tidak halal, demikian pula dengan bangsa jin. Sehingga apa yang dikonsumsi oleh manusia, sementara makanan dan minuman tersebut haram, maka makanan tersebut juga menjadi makanan bagi bangsa jin dari golongan kafir dan jahat atau setan.

Sebagai seorang muslim, kita hanya wajib mengimani perihal ghaib berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam Al Qur’an dan hadits dari Rasulullah , bukan berdasarkan kata orang yang jauh dari cahaya keimanan. Wallahu ‘alam.

Referensi : konsultasisyariah, Ammi Nur Baits

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *