Malhamah Kubro, Perang Akhir Zaman

Malhamah Kubro

Alomuslim.com – Mengenai perang besar yang akan terjadi di akhir zaman, tidak hanya kaum muslimin saja yang meyakini akan terjadinya peperangan besar tersebut tetapi sebagian orang Yahudi dan Nashrani juga turut meyakini akan kebenaran hal itu. Karena perang besar yang super dahsyat itu akan melibatkan kekuatan besar negara-negara Eropa yang beragama Yahudi dan Nashrani melawan Islam.

Perang super dahsyat ini dikenal dengan sebutan Al Malhamah Kubro, atau orang Yahudi dan Nashrani menyebutnya, Armageddon karena terjadi di lembah Mageddo, Palestina. Dan inilah perang dunia ketiga yang sering didengung-dengungkan oleh sebagian besar masyarakat dunia. Perang ini menjadi yang terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia, karena besarnya kehancuran serta banyaknya korban jiwa yang tewas yang disebabkan peperangan ini.

Munculnya Imam Mahdi

Dalam peperangan ini kaum muslimin akan dipimpin oleh sebaik-baik pemimpin, seorang imam yang masih memiliki garis keturunan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yakni Al Mahdi. Al Mahdi akan muncul di akhir zaman ketika kezhaliman telah memenuhi seisi bumi, ketika fitnah besar yang terakhir menjelang munculnya fitnah dajjal melanda setiap penjuru dunia. Kemunculan Al Mahdi akan menjadi hadiah dan balasan indah bagi orang-orang yang sedang memperjuangkan kemuliaan Islam pada masa itu. Disebutkan bahwa kemunculan Al Mahdi ditandai dengan terbunuhnya seseorang lelaki yang shalih yang dikatakan dia merupakan jiwa yang suci.

Dalam satu riwayat disebutkan, bahwasanya Al Mahdi itu tidak akan muncul sampai dibunuhnya jiwa yang suci. Ketika jiwa yang suci itu dibunuh maka murkalah kepada mereka siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada di bumi, lantas orang-orang datang menjumpai Al Mahdi. Mereka mempersiapkannya bagaikan dipersiapkannya seorang gadis pengantin untuk suaminya pada malam pertama. (shahih. HR. Ibnu Abi Syaibah, no. 37653)

Al Mahdi akan dipersiapkan dalam satu malam, Allah akan meng-upgrade Al Mahdi yang sebelumnya hanya seorang laki-laki biasa. Ketika itu sedang terjadi perebutan kekuasaan diantara putera mahkota kerajaan Arab. Al Mahdi datang dari arah timur dan memerangi para putera mahkota dan memenangkan pertempuran tersebut. Kemudian Al Mahdi akan dibaiat di sisi Ka’bah.

Al Mahdi bersama kaum muslimin kemudian menuju Syam dan memerangi semua kekuatan di kawasan Arab dan memenangkan semua pertempuran yang dilaluinya. Kekuatan pasukan Al Mahdi tersusun dengan sempurna setelah bergabungnya orang-orang terbaik dari umat Islam dari negeri Arab dan Non Arab. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah satu yang akan bergabung adalah pasukan berbendera hitam yang berasal dari Khurasan, Irak.

Kaum muslimin kemudian mengadakan gencatan senjata dengan orang-orang dari Bani Ashfar (Romawi). Bani Ashfar ini menurut sebagian ahli sejarah adalah gabungan dari orang-orang Amerika dan Eropa. Gencatan senjata ini dilakukan karena adanya musuh bersama antara kaum muslimin dengan Bani Ashfar. Banyak ahli sejarah mencoba meneliti siapa musuh bersama yang diperangi aliansi kaum muslimin dengan Bani Ashfar, diantaranya ada yang menyebutkan mereka adalah Israel, ada juga yang menyebutkan mereka itu adalah negara-negara dari blok timur seperti Rusia, China, Iran dan sekutu mereka.

Penyebab Peperangan

Aliansi kaum muslimin dan Bani Ashfar ini akhirnya dapat memenangi peperangan, mengalahkan kekuatan musuh mereka. Tatkala kemenangan telah diraih, seseorang diantara pasukan Bani Ashfar berkata, “Salib telah menang, salib telah menang.” Kemudian bangkit seorang muslim, memukul orang itu, kemudian orang-orang Bani Ashfar mengeroyoknya dan membunuh muslim tersebut. Pada saat itulah Bani Ashfar (Romawi) mengkhianati perjanjian dan menghimpun kekuatan untuk melancarkan pertempuran. Dan inilah yang menjadi pemicu pecahnya perang Al Malhamah Kubro.

Kaum muslimin tidak bisa menerima klaim dari Bani Ashfar bahwa kemenangan tersebut adalah milik mereka sendiri. Pada saat itu Al Mahdi membangun benteng pertahanan di sebuah tempat bernama Ghuthah, di kota Damaskus, Syam. Sebagaimana banyak disebutkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bahwa negeri Syam akan menjadi benteng terakhir kaum muslimin diakhir zaman, yang melindungi dari berbagai fitnah.

Dalam sebuah hadits disebutkan kekuatan pasukan dari Bani Ashfar (Romawi) berjumlah 80 panji, setiap panji diikuti oleh 12.000 orang. (HR. Bukhari) Secara keseluruhan kurang lebih berjumlah 960.000 orang. Sementara kekuatan kaum muslimin tidak ada riwayat yang menyebutkan berapa jumlah mereka. Menghadapi kekuatan besar dari Bani Ashfar, sepertiga kaum muslimin melarikan diri dan murtad, mereka itulah orang-orang yang tidak akan diampuni oleh Allah.

Al Malmahah Kubro bukanlah perang dengan peralatan modern, tetapi merupakan perang kolosal yang menggunakan senjata berupa panah dan pedang serta kuda. Hal ini terjadi karena sebelum masa perang tersebut telah terjadi bencana alam yang besar yang merusak semua peralatan dan teknologi modern.

Perang Al Malhamah Kubro ini terjadi selama empat hari. Hari pertama peperangan, kaum muslim membentuk pasukan berani mati, pasukan yang tidak akan pulang kecuali sebagai pemenang. Mereka berperang sampai malam memisahkan mereka. Kedua belah pihak tidak ada yang menang, tetapi tidak seorangpun dari kaum muslimin kembali melainkan mereka semua binasa.  Hari kedua dan ketiga peperangan, kaum muslimin kembali membentuk pasukan berani mati yang tidak akan pulang kecuali sebagai pemenang. Kondisi peperangan sama seperti pada hari pertama.

Barulah pada hari keempat, pasukan Islam yang tersisa maju menyongsong musuh. Allah menjadikan kekalahan atas pasukan Bani Ashfar dan memberikan kemenangan yang gemilang kepada kaum muslimin. Kekuatan Bani Ashfar, hancur dengan kehancuran yang luar biasa, runtuhlah semua kedigdayaan mereka atas negara-negara di dunia, dan Islam akan tegak diatas muka bumi.

Demikianlah gambaran mengenai peperangan yang akan terjadi di akhir zaman. Tentunya terdapat banyak detail-detail dalam kisah perang akhir zaman ini yang tidak disebutkan oleh hadits, tetapi sebagian kisah yang disampaikan merupakan usaha dari para ahli sejarah dalam rangka memberikan gambaran yang lebih mendekati dengan menganalisa berbagai referensi. Wallahu a’lam.

Referensi : Ensiklopedi Akhir Zaman, Dr. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh (Granada Mediatama : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *