Marah Membatalkan Puasa ?

marah membatalkan puasa

Marah Membatalkan Puasa ? – Pertanyaan ini seringkali kita temui atau bahkan tak jarang juga masih menjadi pertanyaan banyak orang. Apakah ketika marah saat menjalankan ibadah puasa, maka puasa kita akan batal dan wajib mengqadha’ nya di waktu selain Ramadhan? Atau sederhananya apakah marah membatalkan puasa? Nah, mari coba kita ulas bersama-sama.

Apakah Marah Membatalkan Puasa ?

Dalam kitab Taqrib, Imam Abu Suja’ mengungkapkan bahwa setidaknya da 10 perkara yang dapat membuat batal puasa seorang muslim dan bagi mereka wajib menggantinya di kemudian hari. Kesepuluh hal atau perkara tersebut diantaranta adalah :

  1. Memasukkan suatu benda (sengaja) yang langsung menuju ke dalam perut (lambung melalui seluruh lubang yang ada di anggota badan.
  2. Masuknya suatu benda melalui luka di kepala yang membentuk lubang.
  3. Menggunakan obat-obatan yang dimasukkan melalui jalan qubul maupun dubur.
  4. Bersetubuh atau jima’ secara sengaja dengan perempuan/laki-laki mahramnya. Apalgi yang bukan mahram.
  5. Muntah secara sengaja (dimuntah-muntahkan). Seperti memasukkan jari ke mulut hingga menyebabkan muntah.
  6. Bersentuhan kulit yang menimbulkan syahwat hingga keluar mani.
  7. Haid bagi wanita.
  8. Nifas bagi wanita yang baru saja melahirkan.
  9. Hilang kesadaran, akal, atau gila.
  10. Keluar dari islam/murtad.

Nah, jika kita lihat dan perhatikan secara seksama, dalam daftar tersebut marah tidak tercantum sebagai salah satu hal yang membatalkan puasa. Jadi, dapat sedikit kita simpulkan untuk sementara bahwa marah bukanlah salah satu hal yang secara gamblang disebutkan sebagai perkara yang membatalkan puasa. Lalu, apakah sudah bisa diputuskan kalau anggapan marah membatalkan puasa itu salah? Tunggu dulu, mari kita lanjutkan bahasannya.

Baca Juga : Sikat Gigi Di Bulan Puasa , Bolehkah ?

Selain kesepuluh perkara yang membatalkan puasa tersebut. Imam Abu Suja’ dalam kitab yang sama juga menyebutkan, bahwa ada tiga hal sunnah dalam menjalankan puasa. Diantaranya adalah sahur diakhir, berbuka diawal, dan mengihndari ucapan buruk.

Dalam sebuah hadits shahih, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Puasa adalah beteng. Maka hendaklah tak berucap kotor dan bodoh. Jikalau ada seseorang yang mengajak ia bertengkar atau mencaci, maka hendaklah ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa’, sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari)

Ucapan buruk biasanya keluar saat seseorang sedang dalam kondisi marah. Tak mungkin orang yang bahagia berkata kotor atau mengucapkan ucapan-ucapan yang buruk. Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah SAW beberapa kali juga telah diketahui memberi peringatan kepada umatnya, agar menahan amarah saat sedang menjalankan puasa.

Hukum Marah Membatalkan Puasa

Seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, Nabi SAW sebenarnya juga telah mengarahkan kepada seluruh umat muslim perihal ibadah puasa. Puasa tak hanya untuk menahan segala sesuatu yang dapat menjadi penyebab batalnya pausa saja. Lebih daripada itu, puasa sebenarnya ditujukan kepada setiap manusia, agar kita bisa menahan serta mengendalikan hawa nafsunya.

Karena dibalik perintah wajibnya menjalankan puasa Ramadhan, juga tersimpan banyak sekali hikmah dan manfaatnya. Hikmah serta manfaat puasa tadi tak akan bisa kita peroleh jika dalam prakteknya kita sendiri masih tetap mengumbar nafsu dan hanya sanggup menahan lapar serta haus saja. Maka hanya itu yang akan diperoleh, selain juga telah gugurnya kewajiban.

Anjuran untuk benar-benar menahan diri dari amarah dan perkataan yang tidak bermanfaat juga terdapat dalam sabda Rasulullah SAW :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَل َبِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan zur, maka Allah tidak berkepentingan sedikitpun terhadap puasanya.” (HR. Al Bukhari).

Hadits diatas diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah R.a. Dari makna yang terkandung dalam sabda Rasul SAW diatas, bisa kita lihat betapa tegasnya Nabi SAW memperingatkan kepada para umatnya agar senantiasa menjaga diri dari nafsu yang dapat menimbulkan amarah serta perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Barangsiapa yang tetap melakukan larangan tersebut, maka puasanya akan sia-sia. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعِ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهْر

Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun kecuali rasa lapar. Banyak orang yang beribadah di malam hari, namun yang didapatkannya hanyalah keletihan akibat tidak tidur malam.” (HR. Ibnu Majah).

Lalu, Bagaimana Menghindari Marah Saat Puasa?

1. Banyak dzikir, mengingat asma Allah

marah membatalkan puasa berzikir

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d:28)

Baca Juga : Dzikir Yang Ringan Di Lisan Namun Berat Dalam Timbangan

Marah adalah satu kondisi dimana hati akan bergejolak karena suatu perkara. Marah akan menimbulkan kegelisahan, dan hti serta pikiran yang tidak tenteram. Maka Allah SWT telah memberikan obatnya, yakni dengan ber-dzikir mengingat nama-Nya. Niscaya hati akan menjadi tenteram dan gak jadi marah.

2. Wudhu dan Sholat

marah membatalkan puasa berwudhu

Resep yang langsung diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda : “Jika kau marah, hendaklah kau berwudlu.” (HR. Ahmad)

Jelas, singkat, dan padat sabda beliau Nabi SAW. Jika kira-kira setelah wudhu masih terasa ada ganjalan di hati/emosi. Lanjutkan dengan melaksanakan sholat sunnah. Beliau Rasulullah SAW bersabda :

Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud).” (HR. Tirmidzi).

3. Diam

marah membatalkan puasa diam

Diam lebih baik daripada emas. Sepertinya ungkapan tersebut bukanlah omong kosong. Memang pada saat-saat tertentu ada kalanya kita lebih menghemat perkataan atau tindakan kita, terutama ketika hati sedang dalam kondisi yang kurang mengenakkan. Junjungan kita Rasulullah SAW sendiri juga telah bersabda :

“Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah.” (HR. Ahmad).

Cara ini mungkin akan bisa kita lakukan untuk menhan diri agar amarah yang muncul di dalam hati tidak mengganggu ibadah puasa kita. Lebih baik diam daripada berbicara yang disertai dengan nafsu, akhirnya akan menjadi penyebab munculnya perkataan-perkataan kotor dari mulut kita.

Maka diam adalah pilihan yang tepat, terutama diam dengan berdzikir. Atau kalau sulit diam sambil tidur saja! Lebih aman daripada terseret nafsu amarah dan melakukan tindakan-tindakan yang tercela.

Kesimpulan Apakah Marah Membatalkan Puasa?

Dari bahasan diatas, InsyaAllah telah jelas kita ketahui bahwasanya anggapan tentang marah membatalkan puasa adalah tidak tepat! Yang benar, memang marah saat berpuasa tidak menjadi salah satu perkara yang bisa membatalkan. Namun demikian, perbuatan tersebut akan dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala dari puasa yang dijalankan. Tidak ada kewajiban untuk mengganti puasa tersebut di kemudian hari, karena memang tidak batal dan telah termasuk menggugurkan kewajiban. Namun alangkah meruginya kita, jika kesempatan bulan Ramadhan dengan amalan puasanya yang dipenuhi dengan berkah tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya!

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *