meletakkant tangan ketika shalat
DASAR ISLAM, SHALAT

Bagaimanakah Cara Meletakkan Tangan Ketika Shalat?

Alomuslim.com – Ada beberapa sunnah yang harus diperhatikan mengenai cara meletakkan tangan ketika bersedekap dalam shalat. Diantaranya adalah:

1. Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “dan sekali waktu beliau shallallahu alaihi wa sallam melewati seseorang yang sedang shalat dan ia meletakkan tangan kiri di atas tangan kanannya. Maka beliau memisahkan kedua tangannya lalu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri orang tersebut.” (HR. Ahmad 3/381)

2. Meletakkan kedua tangan (bersedekap) di atas dada

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan mengenai perihal meletakkan kedua tangan (bersedekap) di atas dada, salah satunya adalah yang diriwayatkan dari Thawus, ia berkata ;

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, kemudian bersedekap mengeratkan kedua tangannya di atas dada, yaitu ketika shalat.” (HR. Abu Dawud 1/121)

3. Larangan Ikhtishar (Meletakkan kedua tangan di pinggang)

Terkadang kita melihat sebagian kaum muslimin melakukan hal ini, yakni meletakkan kedua tangan di pinggang. Hal ini telah dilarang oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana riwayat yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang al-iktishar (meletakkan kedua tangan di pinggang) dalam shalat.” (HR. Bukhari 3/68, Muslim 2/72, Abu Dawud 1/150, dan yang lainnya)

4. Bagaimana dengan meletakkan kedua tangan diatas pusar?

Sebagian umat muslim di wilayah jazirah Arab melakukan cara yang demikian, yakni meletakkan kedua tangannya di atas pusar. Mereka berpendapat dengan apa yang diriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

“Termasuk sunnah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan di bawah pusar.” (HR. Abu Dawud 1/120, Ahmad 1/110, dan yang lainnya)

Maka untuk perkara ini, para ulama hadits sebagian besarnya melemahkan riwayat dari Ali tersebut karena ada seorang bernama Abdurahman bin Ishaq dalam jalur riwayatnya, sehingga dianggap tertolak dan tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Wallahu a’lam.

Referensi : Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam Jilid 1, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (Griya Ilmu : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *