Bagaimana Memahami Takdir ? – Alomuslim

Bagaimana Memahami Takdir ?

memahami takdir

Alomuslim.com – Takdir merupakan sebuah istilah yang sudah sangat dikenal oleh setiap orang. Bahkan seringkali dijadikan sebagai judul lagu atau film. Takdir sering kali dipahami sebagai sebuah keburukan yang terjadi kepada seseorang. Misalnya ketika seseorang tertimpa musibah, seringkali mereka akan menyalahkan takdir dan mencelanya, sehingga ada peyebutan yang sangat dikenal di tengah ma[irp posts=”2837″ name=”Beriman Kepada Hari Akhir”]syarakat Indonesia untuk menggambarkan hal itu, yakni ; Takdir Memang Kejam.

Tetapi ketika terjadi hal-hal yang baik pada dirinya, ada sebagian orang yang berkata bahwa itu merupakan hasil usaha dan kerja kerasnya. Mereka tidak memuji atau mengatakan itu sebagai takdir baik. Sehingga persepsinya, apa yang buruk dianggap sebagai takdir yang tidak bisa ditolak, sementara hal-hal baik dianggap sebagai hasil dari perbuatan seseorang tanpa dipengaruhi oleh takdir. Apakah pengertian takdir yang seperti itu bisa dibenarkan?

Takdir dalam bahasa Arab disebut dengan Qadar. Ia merupakan termasuk dari rukun iman yang keenam, yaitu beriman kepada takdir baik dan takdir buruk. Singkatnya, takdir adalah semua perkara yang telah diketahui oleh ilmu (Allah) dan telah ditulis oleh pena dari perkara-perkara yang terjadi untuk selama-lamanya. Jadi, takdir merupakan ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah, yang pasti akan terjadi kepada setiap manusia, bisa bersifat kebaikan atau keburukan. Allah berfirman :

“(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada para Nabi yang telah berlalu dahulu, dan adalah ketetapan itu sesuatu ketetapan yang pasti berlaku.” (QS. Al Ahzab : 38)

Mempercayai takdir merupakan bukti keimanan seorang muslim. Sebagai seorang muslim, kita tidak mencela takdir buruk yang terjadi pada diri kita dengan mengatakan takdir memang kejam. Dan tidak pula mengingkari takdir baik dengan mengatakan semua kebaikan terjadi atas usaha kita sendiri.

[irp posts=”2767″ name=”Pengertian Beriman Kepada Rasul”]

Nabi  bersabda :

“Seorang hamba belum beriman hingga dia berima kepada takdir, yang baik dan yang buruk dari Allah, dan hingga dia mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya, maka pasti tidak akan meleset darinya, dan apa yang luput darinya, ia tidak akan menimpanya.” (Shahih Sunan Tirmidzi, Syaikh Al Albani)

Tingkatan Memahami Takdir

Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan memahami kemudian mewujudkan empat perkara yang dinamakan tingkatan takdir. Keempat tingkatan takdir ini saling memiliki keterkaitan sehingga untuk memahami takdir harus dipahami dari setiap tingkatannya. Berikut beberapa tingkatan takdir tersebut :

1. Tingkatan Pertama : Ilmu (Pengetahuan)

Maksud dari tingkatan pertama ini adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada makhluk telah diketahui oleh Allah, baik yang telah terjadi, sedang terjadi bahkan yang belum dan akan terjadi. Allah juga mengetahui kejadiannya seperti apa, kapan waktunya, dimana tempatnya, secara global dan juga terperinci. Ilmu Allah sangat sempurna dari awal hingga akhirnya. Allah berfirman :

“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah : 282)

Jadi takdir perbuatan maupun kejadian yang akan menimpa setiap manusia telah Allah ketahui. Tidak ada sesuatu apapun yang bisa bersembunyi dari Allah. Sementara ilmu makhluk atas takdir tidaklah ada sama sekali. Makhluk tidak bisa mengetahui takdir yang akan terjadi pada dirinya, ia hanya bisa mengetahui yang sudah dan sedang terjadi. Bahkan yang akan terjadi satu detik berikutnyapun, makhluk tidak bisa mengetahuinya.

2. Tingkatan Kedua : Penulisan

takdir setiap makhluk telah dituliskan oleh Allah di Lauh Mahfuzh berdasarkan Ilmu-Nya. Lauh Mahfuzh adalah kitab yang meliputi segala sesuatu, semua yang terjadi dan akan terjadi. Semua yang ada sampai hari Kiamat telah tertulis di sisi Allah.

Penulisan ini ada beberapa macam :

  • Penulisa secara universal di Lauh Mahfuzh ; artinya Allah telah menuliskan segala hal di dalamya.
  • Penulisan berdasarkan fase usia ; yaitu bahwa janin di dalam perut Ibunnya ketika genap berusia empat bulan, maka Allah mengutus Malaikat yang mengurusi rahim wanita dan memerintahkannya untuk menuliskan ajal kematiannya, rezekinya, perbuatannya, bahagia atau celak. Setelah dituliskan, tidak akan diulangi atau direvisi.
  • .Penulisan Tahunan ; yang terjadi pada saat lailatul Qadr. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikamh.” (QS. Ad Dukhan : 4)

Setiap yang sudah tertulis di Lauh Mahfuzh tidak akan ada penghapusan ataupun penulisan ulang, ia pasti akan terjadi dan tidak pernah berubah. Namun catatan yang berada di tangan Malaikat bisa berubah, sebagaimana firman Alla Subhanahu wa Ta’ala

“Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan disisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ar Ra’d : 39)

[irp posts=”2841″ name=”Pendidikan Keimanan Untuk Anggota Keluarga”]

3. Tingkatan Ketiga : Iradah (Keinginan) dan Masyiah (Kehendak)

Setiap kejadian, baik yang ada maupun tidak adalah atas kehendak Allah, seperti hujan, kemarau, menghidupkan dan mematikan dan yang lainnya. Karena semua atas kehendak Allah untuk menjadikannya demikian. Bahkan semua gerak-gerik manusia adalah atas kehendak-Nya.

Ada sebagian orang yang berpendapat, jika semua perbuatan makhluk atas kehendak Allah, berarti seseorang dipaksa untuk berbuat sesuai dengan yang Allah kehendaki. Karena seseorang bisa saja berbuat sesuatu yang tidak diinginkannya, tapi Allah telah menghendaki seseorang untuk berbuat sesuatu tersebut. Sungguh hal itu tidak pantas untuk disandarkan kepada Allah, karena sama saja menuduh Allah telah berbuat zhalim kepada hamba-Nya. Naudzubillah.

Kemudian adalagi orang yang memiliki keyakinan, tidak mau bekerja karena beralasan rezekinya sudah ditentukan oleh Allah. Kemudian ada juga, orang yang berbuat maksiat, tetapi tidak mengakui perbuatannya karena menganggap perbuatan yang dilakukannya bukan atas kehendaknya tetapi karena kehendak Allah. Ini semua keliru, beralasan dengan takdir untuk membenarkan perbuatanya tidak bekerja atau berbuat maksiat tidaklah dapat dibenarkan.

Manusia memiliki pilihan bebas atas hidupnya. Apakah ia akan berbuat sesuatu atau tidak jadi melakukannya dan malah melakukan pilihan lainnya. Namun apapun yang dilakukannya telah dituliskan sebelumnya. Maksudnya, tidak ada seorangpun yang menghalangi bagi seseorang melakukan sesuatu yang dikehendakinya.

Ada sebuah peristiwa terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiallahu anhu, seorang pencuri dilaporkan kepada Amirul Mukminin. Si pencuri tidak mau mengakui perbuatannya, melainkan hal tersebut terjadi karena takdir Allah, maka Umar berkata kepada pencuri, ‘Kami juga memotong tanganmu juga atas takdir Allah.’

Ini semua karena takdir adalah rahasia yang tidak diketahui kecuali oleh Allah sendiri. Manusia tidak mengerti apa yang akan diputuskan dan ditakdirkan Allah kecuali setelah kejadian.

4. Tingkatan Keempat : Penciptaan

segala yang ada di jagat raya ini adalah makhluk ciptaan Allah. Allah juga menciptakan manusia dan segala perbuatannya, menjadikannya punya kehendak, kemampuan, ikhtiar (usaha) dan keinginan agar perbuatannya terjadi secara hakiki dan bukan majazi. Kemudian Allah memberikan manusia akal untuk membedakan antara yang baik dan buruk.

Manusia tidak dipaksa, akan tetapi dia memiliki kehendak dan pilihan. Dia sendiri yang memilih perbuatan-perbuatan dan keyakinannya. Hanya saja kehendak manusia mengikuti kehendak Allah.

Takdir merupakan rahasia Allah dalam penciptaannya. Tidak ada sesutupun yang mengetahui, meskipun ia seorang Malaikat sekalipun, yang dekat dengan Allah. Tidak juga dengan para Nabi yang diutus dan menerima wahyu. Maka sebagai umat muslim, sebaiknya kita cukup meyakini masalah takdir ini, tidak usah terlalu memperdalamnya dan memikirkannya karena dapat menyebabkan kesesatan. Karena Allah menutup ilmu takdir dari makhluk-Nya dan melarang mempermasalahkannya.

Wallahu Ta’ala ‘Alam.

Referensi :

  • Syarah Arba’in AN Nawawi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Darus Sunnah : 2017)
  • Mukhtashar Aqidah Islam, Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad (Pustaka Elba : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *