Bolehkah Membeli Barang Dengan Harga Murah Dari Seorang Yang Terdesak Butuh Uang ?

membeli barang dengan harga murah

Bolehkah Membeli Barang Dengan Harga Murah Dari Seorang Yang Terdesak Butuh Uang ? – Terkadang kita mendapati seseorang sedang mengalami kondisi kesulitan, sehingga dia terdesak membutuhkan uang segera untuk menutupi kebutuhannya. Karena kesulitan yang dialaminya tersebut, dia rela menjual koleksi barang-barangnya dengan harga murah atau dibawah harga pasaran barang tersebut.

Apakah boleh kita membeli barang tersebut dengan harga yang lebih murah dari pasaran?

Para ulama terbagi menjadi tiga pendapat dalam permasalahan ini :

Pertama, para ulama mazhab Hanbali, Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat makruh membeli dari seseorang yang menjual barangnya karena terdesak membutuhkan uang, karena menimbang alasan bahwa jula beli yang terjadi tidaklah atas dasar saling rela. Pemilik barang sebenarnya merasa berat hati menjual barangnya terlebih lagi harus dengan harga yang sangat murah dibawah harga pasaran. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah  bersabda :

“Jual beli yang sah itu hanyalah jika atas dasar saling rela.” (HR. Ibnu Majah no. 2185)

Kedua, ulama dari mazhab Hanafi dan sebagian Ulama dari mazhab Hanbali (dalam salah satu pendapat Imam Ahmad) menyatakan tidak sah jual-beli dalam perkara ini, yang berarti pertukaran uang dan barang menjadi tidak halal hukumnya. Pendapat para ulama tersebut diperkuat dengan dalil dari hadits Rasulullah ﷺ :

“Nabi melarang penjualan orang yang terdesak.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ahmad menjelaskan maksud hadits ini bahwa seseorang yang terdesak butuh biaya lalu datang kepada anda untuk menjual barang miliknya dengan harga 10 dinar, sedangkan harga pasar barang tersebut 20 dinar. Akan tetapi, hadits yang menjadi dalil pendapat ini dha’if (lemah) karena ada seorang perawi yang tidak dikenal dalam sanadnya.

Ketiga,  syaikhul islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya majmu fatawa, berpendapat boleh dan sah transaksi dalam perkara ini. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama. Alasannya, karena tidak ada pemaksaan untuk melakukan transaksi, transaksi terjadi dengan kerelaan dan keinginan penjual. Hanya saja, orang tersebut terpaksa menjual barangnya untuk menutupi kesulitan yang dialaminya, sehingga keterpaksaannya bukan karena dipaksa oleh pembeli.

Alasan lainnya yakni, dengan membeli barang tersebut sesungguhnya telah membantu meringankan beban si penjual. Seandainya tidak dibeli dengan sesegera mungkin, tentu kesusahan penjual semakin lama.

Pendapat ketiga inilah yang paling banyak digunakan oleh para ulama untuk menghukumi jenis transaksi jual-beli seperti ini. Namun, alangkah baiknya untuk meringankan beban saudara kita sesama muslim, dengan memberikan pinjaman kepadanya sehingga bisa meringankan beban kesulitannya. Wallahu ‘alam.

Referensi :

  • Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)
  • com, Muhammad bin Ba’sus al-‘Umari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *