Memiliki Bisnis Namun Hutang Menumpuk

Memiliki Bisnis Namun Hutang Menumpuk

Memiliki Bisnis Namun Hutang Menumpuk – Saya ingin bercerita, saya punya keluhan, saya usaha mebel kayu sudah delapan tahun tapi juga belum bisa melunasi hutang saya, apakah usaha saya tidak cocok? Atau bagaimana? Mohon pencerahannya.

Sebelumnya terimakasih atas pertanyaan pembaca mengenai doa melunasi hutang. Pertama, dalam hal ini ada banyak sudut pandang yang bisa digunakan. Salah satunya adalah sudut pandang “urusan duniawi” dalam hal ini bisnis, Rasulullah Saw suatu ketika pernah berkomentar terkait sahabatnya yang mengawinkan benang sari dan putik dari pohon kurma, berikut kisah lengkapnya.

قَالَ : مَرَرْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فِي نَخْلٍ فَرَأَى قَوْمًا فِي رُؤُوسِ النَّخْلِ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ : مَا تَصْنَعُونَ أَوْ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ ؟ قَالَ : يَأْخُذُونَ مِنَ الذَّكَرِ وَيَجْعَلُونَ فِي الأُنْثَى فَقَالَ : مَا أَظُنُّ هَذَا يُغْنِي شَيْئًا فَبَلَغَهُمْ ذَلِكَ فَتَرَكُوهُ فَصَارَ شِيصًا ، فَقَالَ : أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِمَا يُصْلِحُكُمْ فِي دُنْيَاكُمْ ، وَإِنِّي قُلْتُ لَكُمْ ظَنًا ظَنَنْتُهُ ، فَمَا قُلْتُ لَكُمْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَلَنْ أَكْذِبَ عَلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.

Dari Thalhah, suatu ketika saya pernah berjalan-jalan bersama Rasulullah Saw, di tengah jalan kami bertemu dengan beberapa orang yang berada di atas kurma sedang mengawinkan kurma (antara benang sari dan putik), kemudian Rasulullah Saw berkata:

“Apa yang sedang kalian perbuat? Atau apa yang sedang orang-orang itu perbuat?” kemudian dijelaskan bahwa mereka mengambil bagian benang sari dan mengawinkannya dengan putik dari pohon tersebut. Kemudian Rasulullah Saw berkata: “Saya pikir hal ini tidak akan menghasilkan apa-apa.

” Orang-orang pun meninggalkan Rasul Saw, namun mereka tetap melakukannya dan hasilnya kurma tersebut berbuah, kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Kalian lebih mengerti yang terbaik untuk urusan duniawi kalian, adapun yang pernah saya katakan kepada kalian, hanyalah dugaan saya. Sedangkan apa yang saya katakan kepada kalian tentang Allah, maka tidak pernah sekalipun saya berdusta atas nama Allah SWT.”

(HR. Al-Bazzar dan Muslim)

Sedikit disimpulkan bahwa dalam persoalan duniawi semisal bisnis tidak ada aturan baku yang ketat agar seseorang mengambil pekerjaan tertentu (namun dengan batasan-batasan tertentu seperti tidak menzalimi orang lain), buktinya Rasulullah Saw menyerahkan urusan duniawi kepada sahabatnya. Untuk itu dalam persoalan bisnis,

kiranya pembaca membaca ilmu bisnis yang berkembang. Apakah bisnis yang sedang dikerjakan menguntungkan atau merugi? Apakah pembaca sudah memiliki bussiness plan yang baik dalam kaitannya dengan bisnis yang dikembangkan?

Yang kedua, dalam Islam, persoalan hutang piutang memang lumayan kompleks. Hutang orang tua dalam Islam kelak akan diwarisi oleh ahli warisnya. Meski demikian, yang perlu dicatat adalah, bahkan Rasulullah Saw sendiri pernah berhutang, sampai beliau meninggal, hutang-hutang tersebut masih ada.

Suatu ketika Rasulullah Saw pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi bernama Abu Syahm, tujuannya adalah agar beliau mendapatkan makanan (dalam hal ini adalah gandum) sebanyak 30 sha’ atau 20 sha’ lebih dalam riwayat lain. Kisah ini dapat dirujuk dalam Shahih Bukhari, atau Syarah Shahih Bukhari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani. Berikut hadis yang dimaksud diriwayatkan dari ‘Aisyah Ra,

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتِ اشْتَرَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

Dari ‘Aisyah Ra, ia menceritakan: “Rasulullah Saw suatu ketika pernah membeli makanan dari seorang Yahudi secara kredit (nasi’ah) dengan menjaminkan baju besinya.” (HR. Bukhari).

Jelas sekali dalam hadis di atas Rasul menjaminkan barangnya untuk membeli makanan (gandum) dengan cara menyicil. Sampai wafatnya, Rasulullah belum sempat melunasi tunggakannya kepada Abu Syahm, baru kemudian ‘Ali bin Abi Thalib yang melunasinya. Dalam riwayat lain yang menebus baju besi Nabi Saw adalah Abu Bakar. Pendapat terakhir ini diutarakan oleh Ibn al-Thala’ dalam al-Aqdhiyyah al-Nabawiyyah.

Berkenaan dengan hutang memang ada banyak hadis yang menyinggung tentang hal ini, di antaranya adalah hadis terkait ruh seorang mukmin tergantung sampai hutangnya terbayarkan, sebagai berikut.

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ , حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ.

Ruh seorang mukmin tergantung karena hutangnya, sampai hutang tersebut tertunaikan.” (HR. Tirimidzi, Ibn Majah dan Ibn Hibban)

Hadis di atas dalam beberapa keterangan adalah anjuran bagi ahli waris untuk menyegerakan membayar hutang mayit, jika memang semasa hidupnya masih memiliki hutang. Hal ini disebabkan karena jiwa atau ruhnya akan tergantung, sampai hutang-hutangnya terlunasi. Itulah mengapa ‘Ali bin Abi Thalib segera menebus baju besi Nabi, dan melunasi hutang-hutang beliau.

Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana jika seseorang semasa hidupnya tidak memiliki cukup kemampuan untuk membayar atau melunasi hutang-hutangnya. Dalam hal ini juga terdapat riwayat lain yang setidaknya meringankan beban orang yang berhutang. Sebagai berikut.

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang mengambil (berhutang) harta orang lain dan bermaksud untuk membayarnya, maka Allah akan membayarkan untuknya, namun barangsiapa yang mengambil harta orang lain bertujuan untuk melenyapkannya, maka Allah akan melenyapkannya.” (HR. Bukhari)

Dalam ‘Umdah al-Qari, Badruddin ‘Aini menjelaskan bahwa hadis ini memiliki makna, ketika seseorang memiliki sangkut paut hutang dengan orang lain, dan dia berniat dengan tulus untuk mengembalikan hutangnya, maka Allah akan memudahkan dia dalam melunasinya, (jika tidak dilunasi olehnya, maka oleh ahli warisnya, atau bisa jadi diikhlaskan oleh yang menghutangi).

namun jika seseorang berniat buruk, dengan maksud tidak ingin membayarnya, maka Allah SWT akan membuatnya kesulitan untuk membayarnya, tidak memberkahi harta tersebut dan Allah akan membalasnya di akhirat nanti. Dalam hadis lain Rasulullah Saw bersabda.

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

Orang kaya yang menunda membayar hutangnya berarti telah melakukan kezaliman.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, sudah sepantasnya ada upaya bagi setiap orang untuk membayarkan hutang-hutangnya semasa hidupnya, namun jika tidak mampu hendaknya mereka mencatatnya agar ahli warisnya kelak membayarkannya. Berkaitan dengan bisnis, sebagaimana dalam riwayat di atas adalah perkara duniawi yang berkembang dan memiliki cabang ilmunya tersendiri namun dengan batasan-batasan yang diperbolehkan.

Wallahu a’lam.

Sumber: Shahih al-Bukhari, ‘Umdah al-Qari, Fathul Bari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *