mengantaran jenazah
DASAR ISLAM, KEMATIAN DAN JENAZAH

Beberapa Hal Terkait Mengantarkan Jenazah

Alomuslim.com – Membawa jenazah dan mengantarkannya merupakan hak si mayit atas kaum muslimin. Hal ini berdasarkan pada hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima ; menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab bersin.” (HR. Bukhari no. 1240, Muslim no. 2162)

Para ulama telah bersepakat bahwa hukum membawa dan mengantarkan jenazah ke kuburan adalah fardhu kifayah. Hukum fardhu kifayah, bermakna jika ada sebagian orang telah melaksanakan hal itu, maka kewajiban yang lain telah gugur. Sedangkan ada sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa mengantarkan jenazah hukumnya sunnah. Hal ini berdasarkan pada hadits Al Barra’ bin Azib, ia berkata :

“Rasulullah pernah memerintahkan kita untuk mengantarkan jenazah.” (HR. Bukhari no. 1239, Muslim no. 2066)

Ada dua kondisi dalam mengantarkan jenazah, yang diantara keduanya memiliki balasan pahala yang berbeda, yakni :

Pertama ; mengantarkan jenazah dari tempat keluarganya hingga menshalatinya

Orang yang mengantarkan jenazah hingga menshalatinya maka ia mendapatkan pahala satu qirath.

Kedua ; mengantarkan jenazah dari tempat keluarganya hingga selesai menguburkannya

Orang yang mengantarkan jenazah hingga menguburkan, baginya pahala dua qirath. Qirath merupakan ukuran seperti gunung Uhud. (HR. Bukhari no. 1325, Muslim no. 945)

Bagi orang-orang yang hendak mengantarkan jenazah, sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut ini, diantaranya :

1. Laki-laki Yang Membawa Jenazah

mengantarkan jenazah laki-laki

Termasuk hal yang disunnahkan adalah membawa jenazah di atas pudak kaum laki-laki, sementara hal tersebut tidak di syariatkan bagi kaum wanita baik jenazah itu wanita maupun laki-laki. Karena wanita memang tidak memiliki cukup tenaga untuk membawa jenazah dan bisa jadi akan membawa dampak negatif jika mereka yang membawanya.

Juga di khawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sebab wanita adalah makhluk yang lebih lemah dari kaum laki-laki, dan syariat mengenai hal ini ditetapkan sesuai dengan fitrah manusia. Adapun dalil dari di sunnahkannya kaum laki-laki yang membawa jenazah adalah hadits dari Abu Sa’id al Khudri, bahwa Nabi bersabda :

“Jika jenazah telah diletakkan (dikeranda), lalu dibawa oleh kaum laki-laki..” (HR. Bukhari no. 1314, An-Nasa’i 1/270 dan Ahmad 3/41)

2. Bersegera Membawa Jenazah

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda :

“Bersegeralah dalam membawa jenazah, jika ia orang yang shalih, maka kalian telah mengedepankan kebaikan padanya, namun jika ia bukan orang shalih, maka kalian telah meletakkan keburukan dari pundak-pundak kalian.” (HR. Bulhari no. 1315, Muslim no. 944)

Maksud dari perintah bersegera adalah, berjalan dengan lebih cepat dari yang biasanya, namun tidak terburu-buru, yang dikhawatirkan bisa menimbulkan sesuatu yang negatif atau justru memberatkan orang yang membawa atau mengantarkannya.

Tidak disyariatkan mengantarkan jenazah dengan menggunakan mobil atau kendaraan lainnya, karena yang demikian merupakan kebiasaan orang-orang diluar Islam. Para ahli fikih telah menetapkan bahwa mengusung jenazah dengan kendaraan tanpa ada alasan hukumnya makruh. Namun jika alasannya kuat, seperti tempat jenazah yang jauh dari lokasi kubur sehingga memberatkan orang-orang yang membawanya, maka hal itu dibolehkan. Sebaiknya pada jarak tertentu, kendaraan dihentikan, kemudian jenazah dibawa berjalan kaki agar tetap bisa melaksanakan sunnah dan tujuannya.

3. Larangan Mengantarkan Jenazah Bagi Wanita

Mengantarkan jenazah merupakan kewajiban bagi kaum laki-laki, namun tidak bagi kaum wanita. Bahkan Rasulullah  pernah melarang kaum wanita pada zamannya untuk mengantarkan jenazah. Dari Ummu Athiyah radhiallahu ‘anha ia berkata, ‘Kami dilarang untuk mengantarkan/mengiringi jenazah, hanya saja beliau tidak menekankan larangan itu kepada kami.’ (HR. Bukhari no. 1278, Muslim no. 938)

Para ulama menyebutkan bahwa larangan tersebut hanya menunjukkan hukum makruh, bukan hukum haram, karena pada akhir hadits menunjukkan larangannya tidak secara mutlak dengan tidak ada penekanan pada masalah ini.

4. Posisi Pengantar Jenazah

Para pengantar jenazah boleh berada disisi manapun dari jenazah yang diusung, boleh di belakang, samping kiri atau kanan bahkan juga di depan usungan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Anas radhiallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar radhiallahu anhumma mengantarkan jenazah dan berjalan di depan dan belakang jenazah. (Shahih. HR. Ibnu Majah no. 1482, At-Tirmidzi no. 1007)

Akan tetapi yang lebih baik adalah berjalan di belakang jenazah, dengan merujuk pada dalil-dalil perintah mengantarkan jenazah. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu, ‘Berjalan di belakang jenazah lebih baik dari pada di depannya, keutamaan itu seperti keutamaan antara shalat jama’ah dengan shalat sendiri.’ (Hasan. HR. Ahmad 1/97, Ibnu Abi Syaibah no. 1483, dan Al Baihaqi 4/25)

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi orang-orang yang mengantarkan jenazah.

Wallahu Ta’ala ‘Alam bishawab.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *