meninggalkan ibadah haji
DASAR ISLAM, HAJI

Inilah Ancaman Meninggalkan Ibadah Haji

Inilah Ancaman Meninggalkan Ibadah Haji – Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang agung, oleh karenanya syari’at islam mewajibkan setiap umatnya untuk menunaikan ibadah tersebut, serta menyerunya dengan berbagai cara.

Banyak dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits yang menyeru umat muslim untuk menunaikan ibadah haji dengan menyampaikan keutamaan serta memperingati dengan ancaman. Diantara dalilnya adalah firman Allah , yang artinya :

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ ٩٧

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97)

Baca Juga : Berhaji Jika Mampu 

Sementara dalil dari hadits yang menunjukkan keutamaan ibadah haji adalah beberapa sabda Rasulullah  :

“Perbuatan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad di jalan-Nya, kemudian haji mabrur.” (HR. Bukhari No. 26, Muslim No. 83)

Dalam riwayat lainnya, :

[su_quote]“Tidak ada balasan untuk haji mabrur kecuali surga.” (HR. Bukhari No. 1773, Muslim No. 1349)[/su_quote]

Rasulullah  juga bersabda :

“Jihadnya orang yang lanjut usia, orang lemah dan wanita adalah haji yang mabrur.” (HR. An Nasa’i No. 2626)

Sebagaimana dalil anjuran di atas, Allah dan Rasul-Nya juga mengancam orang yang meninggalkan kewajiban haji dan memperingatinya agar tidak menyepelekannya dengan perilaku menghambur-hamburkan hartanya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Rasulullah  bersabda :

“Orang yang tidak tertahan oleh kebutuhan yang mendesak, atau sakit yang menghalanginya, atau larangan dari penguasa zhalim, tetapi ia tidak melaksanakan haji, hendaklah ia mati, jika ia mau, dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan al-Baihaqi, hadits dhaif namun ada beberapa riwayat yang menguatkannya)

Ali bin Abi Tahlib radhiallahu anhu berkata, “Orang yang mempunyai bekal dan kendaraan yang bisa mengantarkannya ke Baitullah tetapi ia tidak melaksanakan haji, maka tidak apa-apa baginya untuk meninggal dunia dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.” (HR. at Tirmidzi No. 812)

Sementara itu, Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu, berkata : “Aku sudah menguatkan tekadku untuk mengirim beberapa orang ke berbagai daerah untuk melihat setiap orang yang mempunyai kekayaan tetapi tidak melaksanakan haji, agar para utusan itu memungut jizyah (pajak kepala) dari mereka. Mereka bukan kaum muslimin. Mereka bukan kaum muslimin.” (HR. al-Baihaqi 4/334)

Tegas dan jelas itulah syariat Islam. Tidak memberatkan umatnya, namun juga tidak membiarkan umatnya menyepelekan ibadah yang telah diwajibkan. Harus dengan alasan apa lagikah, wahai umat muslim yang telah memiliki kemampuan, kalian hendak mengingkari panggilan Allah?

Semoga Allah berikan kita kemampuan untuk mendatangi Baitullah dan menunaikan kewajiban ibadah haji. Allahumma aamiin.

Referensi : Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *