Menyikapi Perbedaan Pendapat Dalam Islam

Alomuslim.com – Perbedaan pendapat dalam masalah hukum Islam adalah sesuatu yang wajar, selama dalilnya masih bersifat umum, maka ketika itu terbuka ruang yang sangat luas bagi para ulama untuk berijtihad dan saling berbeda dalam memandang suatu hukum. Tetapi dalam hal ini perlu memperhatikan perihal permasalahan yang menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat. Dengan memperhatikan sebab terjadinya perbedaan maka seseorang dapat menentukan sikap untuk menghadapinya.

Adapun dua jenis perbedaan pendapat yang biasa terjadi, yakni :

  • Khilafiyah Furu’iyah

Makna dari khilafiyah furu’iyah adalah perbedaan pendapat dalam masalah-masalah cabang syari’at. Maka dalam hal ini tidak boleh seseorang mengatakan kepada orang yang pendapatnya berseberangan sesat atau menentangnya dengan penentangan yang keras. Bersikaplah tenang dan hargai perbedaan pendapatnya. Namun, jika perbedaan itu tipis dan bertolak belakang dengan dalil yang jelas, maka pelakunya diingkari tapi pengingkarannya harus berdasarkan dalil.

Ciri dari perbedaan pendapat ini biasanya berkaitan dengan hukum fikih ibadah yang terkadang tidak adanya dalil yang menyebutkan hukumnya secara tegas. Contoh dalam masalah ini adalah perbedaan pendapat dalam masalah qunut subuh, jumlah rakaat dalam shalat tarawih, mengeraskan bacaan ‘bismillah’ atau tidak ketika membaca surat Al Fatihah dalam shalat berjamaah dan lainnya.

  • Khilafiyah Ushul

Makna dari khilafiyah uhsul adalah perbedaan pendapat dalam masalah-masalah yang menjadi pokok dalam agama. Maka untuk perbedaan pendapat dalam masalah ini harus disikapi dengan keras dan tegas, karena perbedaan pendapat dalam masalah ini biasanya dimunculkan oleh orang-orang yang menyimpang dari agama sehingga dikhawatirkan dapat menyebabkan orang yang menyimpang dari yang pokok di hukumi kufur atau sesat dari agama. Karena yang seharusnya dalam masalah ushul ini terjadi ijma’ (kesepakatan)

Ciri dari perbedaan pendapat dalam masalah ini biasanya seputar masalah akidah (kepercayaan mendasar), biasa juga disebut dengan perbedaan antara yang Haq (benar) dan yang bathil (salah). Contoh dalam masalah ini adalah perbedaan pendapat dalam menentukan nama dan sifat-sifat Allah, shalat di kubur, memerangi pemerintah dan berbagai penyimpangan dalam agama.

Oleh karena itu, seorang muslim harus mengetahui mana yang dikategorikan perbedaan pendapat ulama dan mana yang dikatakan penyimpangan namun dibungkus dengan baju ajaran agama. Jika itu adalah perbedaan pendapat ulama dalam masalah ijtihad maka seorang muslim harus bersikap baik dan menunjukkan akhlaq mulia terhadap orang yang berbeda pendapat. Namun jika perbedaannya dalam masalah ushul harus disekapi dengan tegas karena itu masuk kategori tindakan penyimpangan agama. Dan sebaiknya seorang muslim memperbanyak doa untuk diberikan jalan keluar dari perbedaan pendapat tersebut

Wallahu Ta’ala a’lam.

Referensi :

  • Bijak Menghargai Perbedaan Pendapat, Muhammad Abduh Tuasikal, MSc (Rumaysho : 2014)
  • Menyikapi Perbedaan Pendapat Ulama, Konsultasi Syariah : 2012
  • Sikap Dalam Perbedaan Penadapat Ulama, video singkat Dr. Firanda Andirja, MA

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may like