Islam Melarang Menyiksa Hewan Atau Binatang Lainnya

Menyiksa hewan

Islam Melarang Menyiksa Hewan – Bagian dari kemuliaan akhlak seorang muslim adalah bagaimana ia menjadi seseorang yang lemah lembut dan menjaga adab terhadap segala sesuatu disekitarnya. Sangat penting bagi seorang muslim untuk berlaku lemah lembut terhadap orang lain, karena hal tersebut dapat menjadi pangkal kebaikan dan menjauhkan dari keburukan. Dari Abu Darda radhiallahu anhu, dari Nabi  :

“Siapa yang dikaruniai bagian dari sifat lemah lembut, maka dia telah dikaruniakan bagian dari kebaikan; dan siapa yang terhalangi dari bagian sikap lemah lembut, maka dia telah terhalangi dari bagian kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi)

Lalu, kenapa ada seorang muslim yang berlaku kasar? Sungguh, orang tersebut telah ditutup dari jalan kebaikan. Karena berlaku kasar bukanlah gambaran akhlak seorang muslim, sangat jauhlah perilaku orang tersebut dari kemuliaan yang diajarkan Islam.

Perilaku kasar jelas merupakan sebuah keburukan dan akan menyeret pelakunya kepada siksa yang pedih di akhirat kelak. Perilaku kasar tidak hanya terlarang dalam  interaksi seorang muslim kepada sesama manusia, bahkan kepada hewan-pun seorang muslim diharamkan untuk berbuat kasar.

Ibnu Umar radhiallahu anhu pernah meriwayatkan sebuah hadits yang mengisahkan tentang masuk nerakanya seorang wanita hanya karena ia tidak memberi makan seekor kucing hingga mati. Rasulullah  bersabda :

“Seorang wanita disiksa karena memenjarakan seekor kucing hingga mati, dia masuk neraka karenanya. Dia tidak memberinya makan dan minum saat mengurungnya dan dia juga tidak membiarkannya memakan serangga-serangga tanah.” (HR. Bukhari, Muslim)

Juga disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, tentang laknat Allah atas orang yang menyiksa hewan.

“Bahwa Nabi  berpapasan dengan seekor keledai yang telah dicap diwajahnya, maka beliau berasbda, ‘Allah melaknat siapa yang telah mencapnya.” (HR. Muslim)

Dalil ini jelas menunjukkan haramnya bagi seorang muslim menyiksa hewan apalagi sampai membunuhnya. Namun terkadang ada hal yang sebagian umat muslim khilaf dan sering melakukannya, tanpa mereka sadari akan akibat buruk perilakunya, yakni membunuh semut.

Semut sering dianggap sebagai serangga pengganggu bagi sebagian orang. Sehingga betapa ringannya tangan mereka ketika melihat semut yang hinggap dimakanan atau minuman yang sedang mereka nikmati lantas kemudian membunuhnya satu persatu bahkan hingga keseluruhannya. Jelas ini bertentangan dengan perintah baginda Nabi  yang melarang umatnya untuk membunuh semut. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu :

“Bahwasanya Nabi melarang membunuh empat hewan ; semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

Membunuh hewan tidak sepenuhnya terlarang, asalkan dengan cara yang telah ditentukan oleh hukum syariat. Beberapa jenis hewan yang diperbolehkan untuk dibunuh, baik untuk dimanfaatkan ataupun untuk hikmah tertentu, diantaranya ; ular, anjing liar, tikus, kalajengking, tokek dan beberapa jenis hewan buruan serta hewan-hewan untuk qurban.

Bahkan sebagian hewan tersebut apabila dibunuh akan mendapatkan pahala disisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, salah satunya adalah membunuh tokek. Berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah  :

“Siapa yang membunuh tokek pada pukulan pertama, maka dicatat untuknya seratus kebaikan, dan pada pukulan kedua, dia mendapat dibawahnya, pada pukulan ketiga, maka dia mendapatkan dibawahnya itu.” (HR. Muslim)

Maka perhatikanlah cara membunuh hewan tersebut, karena walaupun engkau boleh membunuhnya tapi tidak layak engkau menyiksanya. Rasulullah telah bersabda :

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) terhadap segala sesuatu, apabila kalian membunuh maka baguskanlah cara membunuh, dan apabila kalian menyembelih maka baguskanlah cara menyembelihnya dan hendaklah salah seorang kamu menenangkan sembelihannya dan hendaklah ia mempertajam mata pisaunya.” (HR. Muslim no. 1955)

Wallahu ‘alam.

Referensi :

  • Riyadhus Shalihin, Imam An Nawawi (Darul Haq : 2017)
  • Shahih At Targhib wa At Tarhib Jilid 5, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (Darull Haq : 2015)
  • Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *