Apakah Orang Miskin Yang Bekerja Boleh Menerima Bagian Zakat?

Alomuslim.com – Seseorang yang masuk dalam kategori miskin tetapi memiliki pekerjaan sehingga diberikan kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan orang-orang yang dalam tanggungannya, tidak diperbolehkan menerima bagian zakat. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan Hanbali.

Pendapat ini didasari pada hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

“Tidak ada bagian darinya (harta zakat) bagi orang kaya dan orang yang kuat serta menghasilkan.” (shahih. HR. Abu Dawud 1617, An-Nasa’i 5/99)

Dan sabda beliau dalam riwayat lainnya,

“Sedekah (zakat) tidak boleh diberikan kepada orang kaya atau orang yang kuat (sehat bugar) dan waras” (shahih. HR. At-Tirmidzi 647, Abu Dawud 1618) 

Sehingga berdasarkan keterangan dua hadits diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan dalam perkara ini bahwa apabila seseorang masih memiliki kekuatan serta menghasilkan, meskipun ia masuk dalam kategori miskin, maka ia tidak berhak menerima bagian atas zakat.

Adapun pendapat yang menyatakan orang tersebut tetap mendapatkan bagian dari harta zakat, sebagaimana diungkapkan oleh para ulama dari madzhab Hanafi dan Maliki, yakni selama orang tersebut masuk dalam kategori miskin.

Para ulama yang sepakat dengan pendapat ini memiliki penjelasan yang berbeda dalam memahami hadits :

“Jika kalian berdua menghendaki, maka aku akan memberi kalian berdua, dan tidak ada bagian darinya (harta zakat) bagi orang kaya dan orang yang kuat serta menghasilkan.” (shahih. HR. Abu Dawud 1617, An-Nasa’i 5/99)

Para ulama ini berkomentar, “Beliau mengijinkan untuk memberi kepada keduanya, dan kata, ‘tidak ada bagian’ maksudnya adalah tidak ada bagian atau kalian berdua tidak mempunyai hak untuk meminta.”

Tetapi sebagian ulama menolak pendapat tersebut dan mengatakan bahwa penafsiran mengenai redaksi hadits tersebut tidaklah tepat. Karena perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, ‘Jika kalian menghendaki..’ tidak bermaksud untuk membolehkan hal tersebut, melainkan sebagai peringatan. Wallahu a’lam.

 Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Comment