orang yang berhak memandikan jenazah
DASAR ISLAM, KEMATIAN DAN JENAZAH

Orang Yang Berhak Memandikan Jenazah

Alomuslim.com Orang yang berhak memandikan jenazah ,Hukum wajibnya memandikan jenazah seorang muslim telah disepakati oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil yang shahih. Tetapi ada beberapa situasi, dimana jenazah diperbolehkan untuk tidak dimandikan. Semisal, ia meninggal syahid di medan perang,

selain itu ketika hendak memandikan jenazah tidak di dapati air sama sekali atau seorang laki-laki yang meninggal tetapi ditengah-tengah masyarakat yang seluruhnya kaum perempuan, demikian juga dengan yang sebaliknya. Maka untuk kondisi selain syahid, jenazah boleh di tayamumkan saja.

Hal yang perlu diperhatikan dalam perkara memandikan jenazah adalah terkait dengan ketentuan siapa saja orang-orang yang berhak atau diperbolehkan dalam memandikannya.

Baca Juga : Seorang Muslim Cinta Kematian

Ketentuan yang paling pokok dalam urusan itu sudah jelas bahwa orang yang paling berhak untuk memandikan jenazah adalah orang yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang baik untuk memandikan jenazah.Tetapi adakah orang selain mereka yang diperbolehkan untuk memandikan jenazah?

Berikut penjelasan mengenai siapa saja orang yang berhak memandikan jenazah.

1. Suami Memandikan Istrinya

Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, “Suatu ketika Rasulullah pernah menemuiku sepulang dari mengurus jenazah di tanah Baqi’. Saat itu aku merasa pusing, lalu aku berkata, ‘Wa ra’saah!!’ (ungkapan untuk rasa sakit kepala). Maka Rasulullah bersabda,

‘Apa yang kamu keluhkan. Jika engkau meninggal dunia sebelumku, niscaya aku akan memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkanmu’.” (HR. Ahmad 6/288, Ibnu Majah no. 1465, Ad Darimi 1/37 dan yang lainnya)

Dalam riwayat lainnya, Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu juga memandikan jenazah istrinya Fathimah radhiallahu anha. (HR. Al Baihaqi 3/396, Ad Daruquthni  2/79 dan Asy Sayfi’i 1/361)

Maka berdasarkan keterangan dari hadits-hadits tersebut, seorang suami diperbolehkan untuk memandikan istrinya.

2. Istri Memandikan Suaminya

Sebagaimana seorang suami diperbolehkan memandikan jenazah istrinya, maka demikian halnya dengan seorang istri diperbolehkan untuk memandikan jenazah suaminya. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, “Seandainya aku tahu apa yang terjadi kemudian , maka tidak akan memandikan Rasulullah kecuali istri-istrinya.” (HR. Abu Dawud no. 3141, Al Baihaqi 3/398)

Imam Al Baihaqi, sebagai seseorang yang meriwayatkan hadits tersebut mengatakan, “Aisyah merasa sedih atas hal itu, dan tidaklah ia bersedih kecuali karena hal itu diperbolehkan.”

3. Bapak Memandikan Anaknya

Jika tidak ada seorang wanita yang bisa mengurus jenazah atau karena orang yang memiliki pengalaman dan ilmu dalam mengurus jenazah sangat jarang, maka tidak ada halangan bagi seorang bapak memandikan anak perempuannya, karena ia merupakan mahram bagi anak perempuannya.

Telah diriwayatkan bahwa sebagai para ulama jaman dahulu, mereka melakukan hal yang demikian. Dari Abu Hasyim rahimahullah ia berkata, ‘Abu Qilabah telah memandikan anak perempuannya.’ Demikian pula pendapat yang sama dikemukakan oleh Imam Al Auza’i, Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i.

4. Perempuan Asing Diperbolehkan Memandikan Jenazah Anak Kecil Laki-laki

Telah diriwayatkan bahwa Hasan radhiallahu anhu berkata, “Tidak apa-apa wanita memandika anak kecil jika ia masih disapih dan dengan dilapisi sesuatu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 3/251)

Para ulama telah bersepakat mengenai diperbolehkannya hal tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mundzir rahimahullahu, ‘Para ulama telah sepakat memperbolehkan wanita memandikan anak kecil laki-laki.’ Demikian juga dengan pendapat Ibnu Sirin dan Imam An Nawawi rahimahumullahu.

Selain itu, pihak kerabatpun berhak untuk memandikan jenazah atau dengan mewakilkannya kepada selain kerabat, terutama jika orang itu lebih tahu dalam hal mengurus jenazah. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah untuk seseorang yang bukan mahramnya dilarang untuk memandikan lawan jenis kecuali yang telah disebutkan diatas.

Wallahu ‘Alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *