orang yang diundang makan tapi menolak tanpa alasan
DASAR ISLAM, MAKANAN

Orang Yang Diundang Makan Tapi Menolak Tanpa Alasan

Alomuslim.com – Orang Yang Diundang Makan Tapi Menolak Tanpa Alasan ,Makan merupakan sebuah kebiasaan yang tidak bisa lepas dari kehidupan seseorang. Bahkan bagi sebagian orang, melakukan aktivitas makan merupakan saat-saat paling menyenangkan.

Kalau melihat kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, mungkin hampir tidak ada orang yang tidak menyukai makan, kecuali mereka yang memiliki kelainan atau karena fakor penyakit.

Dengan melihat kenyataan itulah, sehingga dalam budaya masyarakat Indonesia ada sebuah kebiasaan untuk mengundang orang lain makan bersama. Baik dalam moment khusus tertentu ataupun tanpa ada sebab apapun. Hal tersebut ditujukkan untuk membangun kebersamaan dan sebuah persaudaraan yang erat diantara mereka. Ada juga orang-orang yang melakukannya untuk kepentingan bisnis dan pekerjaan agar memperlancar urusannya.

Sebagian kita sudah mengenal istilah Traktir, itu juga merupakan salah satu bentuk undangan atau ajakan untuk makan bersama. Hal ini sudah sangat lumrah dalam pergaulan sehari-hari, baik orang dewasa maupun anak-anak. Kebiasaan mentraktir merupakan sesuatu yang sangat baik, karena dapat digolongkan sebagai ibadah sedekah.

Dan agama Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk banyak bersedekah. Bagi orang yang diundang makan bersamaatau hendak ditraktir, sebaiknya mereka tidak menolaknya dengan tanpa alasan atau hanya karena merasa tidak enak. Karena orang-orang tersebut malah bisa terkena ancaman yang Allah dan Rasul-Nya telah peringatkan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasanya ia pernah berkata :

“Seburuk-buruk makanan adalah makanan pesta pernikahan, yang diundang kepadanya hanya orang-orang kaya dan orang-orang miskin diabaikan. Dan barang siapa yang tidak mendatangi undangan,maka sesungguhnya ia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.(HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya)

Memenuhi undangan merupakan kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya, karena setiap muslim yang mengundang mempunyai hak untuk didatangi, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah  :

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima : mejawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan bertasymit (mendoakan) kepada orang yang bersin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sehingga ketika ada seseorang yang mengundang untuk makan bersama atau traktiran, maka tidak boleh orang itu menolaknya tanpa memiliki alasan atau sekedar tidak enak. Kecuali ia memiliki alasan yang kuat, sehingga dirinya dapat diberikan keringanan untuk tidak mendatanginya.

Ketika memenuhi undangan makan, seseorang boleh tidak memakan apa yang dihidangkan untuknya karena memang tidak menyukainya, tetapi setidaknya telah gugur kewajiban atas dirinya untuk memenuhi undangan saudaranya. Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, Rasulullah  bersabda :

“Apabila salah seorang dari kalian diundang suatu jamuan makanan, maka hendaklah ia memenuhi, kemudian jika ia mau, silahkan makan, dan jika tidak maka silahkan tidak makan.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Majah)

Perintah untuk memenuhi undangan ini hanya berlaku apabila undangannya terbebas dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Seperti misalnya undangan untuk minum-minuman keras atau makan-makanan haram. Jelas hukumnnya untuk menolak undangan tersebut. Selain itu juga, tidak wajib memenuhi undangan dari orang-orang diluar Islam, karena mereka tidak memiliki hak sebagaimana disebutkan diatas.

Wallahu ‘Alam.

Referensi : Shahih At Targhib Wa At Tarhib Jilid 4, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (Darul Haq : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *