Orang Yang Melindungi Rasulullah Di Mekah Setelah Wafatnya Abu Thalib

Orang Yang Melindungi Rasulullah

Alomuslim.com – Setelah selesai melakukan perjalanan dakwah ke Thaif, dan mendapati berbagai penolakan yang sangat memberatkan hati, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam akhirnya kembali ke Mekah. Beliau menyadari bahwa kalau kembali ke Mekah, ketika sudah tidak ada lagi seorangpun yang dapat memberikan perlindungan kepada beliau, maka resikonya adalah beliau akan menerima berbagai gangguan dari orang-orang Quraisy bahkan mungkin akan membunuh nyawa beliau.

Semenjak wafatnya Abu Thalib dan Khadijah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah tidak lagi memiliki sosok pelindung dan penghibur hati beliau. Dan semenjak itu, orang-orang Quraisy semakin berani untuk mengganggu bahkan menyakiti Rasulullah. Oleh karenanya ketika kembali ke Mekah setelah perjalanan dakwah di Thaif, beliau berusaha mencari perlindungan kepada para pembesar Quraisy.

Manakala sudah mendekati Mekah, beliau tinggal di Hira’, lalu mengutus seseorang dari suku Khuza’ah agar mendatangi beberapa pembesar Quraisy untuk meminta perlindungan. Yang pertama kali didatangi adalah Al-Akhnas bin Syuraiq, tetapi ia menolak untuk memberikan perlindungan kepada Rasulullah.

Kemudian beliau mengirim utusannya untuk menemui Suhail bin Amr, tetapi Suhail juga menolak permintaan beliau. Lalu beliau mengirim utusannya menemui al-Muth’im bin Adi, maka berkatalah ia, ‘Baiklah, aku bersedia’. Kemudian Muth’im mengenakan senjata dan mengajak putra-putranya beserta kaumnya untuk melindungi Rasulullah.

Mereka berjaga-jaga di sudut Ka’bah, dan mengirim seorang utusan untuk mengirimkan pesan kepada Rasulullah agar beliau memasuki kota Mekah. Lalu, Rasulullah Bersama Zaid bin Haritsah memasuki Mekah, hingga sampai ke Masjidil Haram.

Di tempat itu, Muth’im sedang berada di atas tunggangannya seraya berseru, ‘Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya aku telah memberikan perlindungan kepada Muhammad, maka janganlah ada seorangpun di antara kalian yang mengejeknya.’ Rasulullah berjalan hingga tiba di rukun Yamani, lalu menyentuhnya, selanjutnya melakukan Thawaf dan shalat, baru kemudian beliau pulang ke rumah. Sementara Muth’im dan utra-putranya mengiringi beliau dengan senjata hingga beliau benar-benar memasuki rumahnya.

Ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa Abu Jahal ketika itu menanyai Muth’im perihal yang dilakukannya, apakah ia sebatas pelindung atau sudah menjadi pengikut Rasulullah. Muth’im menjawab, ia hanya memberikan perlindungan saja. Lalu Abu Jahal berkata kepadanya,”Kalau begitu, kami juga memberikan perlindungan kepada orang yang telah engkau berikan perlindungan tersebut”. 

Karena peristiwa tersebut, Rasulullah senantiasa memendam budi baik yang dilakukan oleh Muth’im bin Adi terhadap diri beliau, maka beliau pernah berkata tentang tawanan perang Badar, “Andaikata al-Muth’im masih hidup kemudian dia memintaku untuk membebaskan mereka, iscaya akan aku serahkan mereka kepadanya.” (HR. Bukhari 2/7)

Referensi : Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *