pecinta binatang
DASAR ISLAM, HAJI

Pecinta Binatang Dan Hewan Sembelih Qurban

Pecinta Binatang Dan Hewan Sembelih Qurban


Pertanyaan :

Assalamu’alaikum, saya pecinta hewan. Pada saat qurban atau proses penyembelihan hewan saya tidak bisa melihatnya, karena tidak sanggup. Pernah saya melihat proses penangkapan hewan penyembelihan, tapi tidak saya lanjutkan, karena merasa sedih hingga menangis.

Atau bahkan saya menghindar untuk tidak melihat dan mendengar suara dar proses tersebut. Apakah haram bagi saya untuk memakan daging hewan sembelihan? Meskipun saya pecinta hewan, tapi saya suka memakan daging hewan atau sembelihan qurban. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah..

Islam telah menanamkan sebuah pengajaran yang sangat baik kepada umatnya. Bahwa seorang muslim tidak boleh hanya sebatas menyayangi dirinya sendiri, tetapi juga harus menyayangi orang lain bahkan kepada binatang. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memerintahkan umatnya mengenai hal tersebut,

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Orang yang tidak menyayangi maka tidak disayangi (oleh Allah).” [HR. Al-Bukhari no. 6013]

Namun ada perbedaan yang mendasar sekali, antara keumuman sekelompok orang yang menamakan diri mereka sebagai pecinta hewan dengan kaum muslimin dalam menyayangi binatang.

Kaum muslimin melakukannya karena sikap patuh terhadap perintah agama dan adanya harapan mendapatkan pahala dari menyayangi binatang serta takut terhadap azab neraka bila sampai menzhalimi binatang. Sementara sekelompok orang pecinta hewan tidak melakukannya sebab hal demikian.

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطْشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطْشِ فَقَالَ: لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِـي. فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقى فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لَنَـا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا؟ قَالَ: فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطبَةٍ أَجْرٌ

“Ketika tengah berjalan, seorang laki-laki mengalami kehausan yang sangat. Dia turun ke suatu sumur dan meminum darinya. Tatkala ia keluar tiba-tiba ia melihat seeokor anjing yang sedang kehausan sehingga menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah yang basah.

Orang itu berkata: “Sungguh anjing ini telah tertimpa (dahaga) seperti yang telah menimpaku.” Ia (turun lagi ke sumur) untuk memenuhi sepatu kulitnya (dengan air) kemudian memegang sepatu itu dengan mulutnya lalu naik dan memberi minum anjing tersebut.

Maka Allah azza wa jalla berterima kasih terhadap perbuatannya dan memberikan ampunan kepadanya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasullulah, apakah kita mendapat pahala (bila berbuat baik) pada binatang?” Beliau bersabda: “Pada setiap yang memiliki hati yang basah maka ada pahala.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Maka sangat aneh jika kemudian ada sekelompok orang yang mengaku sebagai pecinta hewan menuduh umat Islam, dengan mengatakan bahwa umat Islam adalah orang-orang yang tidak memiliki kasih sayang terhadap binatang.

Hal ini mereka tuduhkan sebagaimana dalam pelaksanaan qurban. Mereka menilai bahwa sapi atau kambing atau hewan lainnya tidak boleh dibunuh demi alasan kebutuhan manusia. Kalau yang seperti ini, kami katakan bahwa mereka telah terjatuh dalam perangkap syaitan.

Sebab tidaklah qurban itu dilakukan melainkan atas perintah Allah azza wa jalla. Sehingga jika ada orang yang mengatakan bahwa tidak boleh membunuh hewan karena hal ini, maka orang tersebut telah melarang atau mengharamkan apa yang Allah halalkan atau perintahkan kepada manusia. Allah azza wa jalla telah memperingatkan seluruh manusia tentang hal ini,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit ; dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. an-Nahl [16] : 116-117)

Oleh karenanya sebagai bentuk kasih sayang terhadap hewan sembelihan qurban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan pedoman dan panduan, mengenai keadaan atau sifat hewan yang bisa dijadikan qurban dan bagaimana adab ketika menyembelihnya.

Bahkan diantara adab yang paling dasar adalah tidak boleh membunuh hewan qurban dengan menyakitinya. Seperti menyembelih dengan alat pemotong yang tumpul atau memperlihatkan di depan hewan qurban ketika sedang mengasah alat pemotong. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Bila kamu membunuh maka baguskanlah dalam membunuh dan bila menyembelih maka baguslah dalam cara menyembelih. Hendaklah salah seorang kamu menajamkan belatinya dan menjadikan binatang sembelihan cepat mati.” [HR. Muslim]

Dalam riwayat lainnya,

“Namun janganlah seorang mengasah belatinya di hadapan binatang yang akan disembelihnya. Dahulu Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah menegur orang yang melakukan demikian dengan sabdanya: “Mengapa kamu tidak mengasah sebelum ini?! Apakah kamu ingin membunuhnya dua kali?!” [HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Ash-Shahihah no. 24]

Maka terkait dengan pertanyaan anda, jika anda mengaku sebagai seorang pecinta hewan, yang  seperti itu adalah baik bahkan sesuai dengan ajaran Islam. Tapi lakukanlah dalam rangka menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, agar bisa bernilai ibadah. Jika anda saat ini belum bisa menyaksikan proses penyembelihan hewan qurban, maka menjauhlah. Tetapi janganlah anda membencinya. Karena itu merupakan syariat Allah.

Apakah haram untuk memakan daging sembelihannya? Tidak sama sekali, daging hewan qurban insyaa Allah halal untuk dimakan oleh siapapun, sekalipun untuk orang yang mengaku dirinya sebagai pecinta hewan.

Wallahu a’lam bishawab.

Referensi : Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc. – Asysyariah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *