Penetapan Awal Ramadhan 1439 H

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H – Pada pembahasan sebelumnya telah dipaparkan beberapa dalil terkait penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzul Hijjah dengan sejumlah riwayat yang berbeda. Meski berbeda akan tetapi makna yang dikandung sama yakni penetapan awal bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya ditetapkan dengan dua cara.

Pertama, dengan melihat hilal; Kedua, dengan menggenapkan 30 hari jika hilal tertutup (hitungan kalender Qamariyyah hanya antara 29-30-red).

Model Penetapan Awal Bulan Ramadhan

Di Indonesia sendiri ada beberapa model penetapan awal bulan Ramadhan sebagai berikut:

1. Thariqah Rukyah Hilal (Metode Melihat Hilal)

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H hilal

Apabila hilal terlihat dengan mata kepala, meski menggunakan alat, maka awal bulan Ramadhan telah dimulai, sebaliknya jika tidak maka digunakan metode kedua.

2. Thariqah Ikmal Al-‘iddah (Metode Menyempurnakan Hitungan)

Yaitu menyempurnakan hitungan bulan sebelumnya, yakni bulan Sya’ban genap 30 hari. ini terjadi ketika hilal bulan Ramadhan belum terlihat. Diketahui bahwa mayoritas umat Islam Indonesia menggunakan dua metode ini, baik pemerintah maupun beberapa ormas Islam lainnya.

[su_quote]Baca Juga : Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan[/su_quote]

3. Thariqah Wujud Hilal (Metode Wujud Hilal)

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H Metode Wujud Hilal

Metode ini biasa digunakan dengan perhitungan falak atau astronomi. Artinya jauh-jauh hari, awal bulan Ramadhan sudah bisa ditentukan dengan perhitungan-perhitungan tersebut. Ada semacam taksiran bahwa pada hari dan tanggal kesekian posisi hilal sudah pada posisi –misalnya- satu derajat di atas ufuk, dengan demikian meskipun secara kasat mata tidak terlihat, namun bulan baru Ramadhan sudah bisa ditetapkan. Dan artinya puasa juga harus sudah dilaksanakan. Demikian juga berlaku pada bulan-bulan lainnya, seperti bulan Syawwal dan Dzul Hijjah.

4. Thariqah Imkaniyah Al-rukyah (Metode Probabilitas Melihat Hilal)

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H Metode Probabilitas Melihat Hilal

Hampir sama dengan metode ketiga, metode keempat ini juga bisa diketahui oleh ilmu astronomi. Bedanya hanya pada derajat posisi hilal. Jika jauh-jauh hari posisi hilal sudah akan terlihat pada –misalnya- 10 derajat yang memungkinkan bisa dilihat oleh mata kepala, maka meskipun hilal tertutup oleh mendung, tetap saja awal bulan Ramadhan sudah akan dimulai.

Secara sederhana perhitungan derajatnya disesuaikan apakah orang-orang dengan hanya melihat dengan mata kepala, apakah sudah bisa apa belum? Ketika telah dihitung derajatnya memungkinkan, maka bulan Ramadhan sudah bisa ditetapkan. Dengan demikian, jika hanya satu derajat, maka itu tidak memungkinkan untuk dilihat, alhasil harus digenapkan 30 hari.

5. Thariqah dzauq al-Syaikh (Metode Perhitungan Syekh)

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H Metode Perhitungan Syekh

Di beberapa tempat di Indonesia, masih ada yang menggunakan metode ini. Yakni ketika seorang syekh tertentu merasa bahwa bulan Ramadhan telah tiba, maka pengikutnya sudah harus menjalankan puasa Ramadhan. Namun hanya sedikit sekali yang memraktekkannya.

6. Thariqah itba’ ahl Makkah (Metode Mengikuti Penduduk Mekah)

Penetapan Awal Ramadhan 1439 H Metode Mengikuti Penduduk Mekah

Sama dengan metode dzauq, metode ini juga sedikit sekali digunakan di indonesia. Metode ini mengacu kepada penduduk Mekah, ketika mereka telah melaksanakan bulan Ramadhan, seketika itu di Indonesia juga sudah masuk bulan Ramadhan.

Demikianlah beberapa perbedaan metode yang digunakan di Indonesia berkaitan dengan penetapan awal bulan Ramadhan. Apapun metodenya, tidak ada alasan bagi kita sesama muslim untuk saling memusuhi satu sama lain. Wallahu a’lam.

Sumber: Itsbat Ramadhan wa Syawwal wa Dzil Hijjah ‘ala Dhau’ al-Kitab wa al-Sunnah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *