Penjelasan Fikih Dalam Poligami
DASAR ISLAM, KELUARGA

Penjelasan Fikih Dalam Poligami

Alomuslim.com – Poligami bukanlah perkara yang mudah, sehingga tidak setiap orang diperbolehkan untuk menjalani syariat ini. Karena poligami bukan sekedar menikahi dua atau tiga atau empat orang wanita, kemudian menjadikannya sebagai bahan untuk berbangga-banggaan di hadapan manusia. Tetapi ia merupakan syariat yang mulia yang memiliki hikmah agung untuk menyelamatkan kaum muslimin dari perbuatan yang diharamkan, seperti perselingkuhan atau perzinaan.

Penjelasan Fikih Mengenai Poligami

Maka perhatikanlah beberapa penjelasan fikih mengenai poligami berikut ini :

1. Mahar antar istri boleh berbeda, begitu juga resepsi pernikahannya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika menikahi Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha memberikan mahar sebesar empat ribu dirham, sementara istri-istri beliau yang lain hanya diberikan mahar sebesar empat ratus dirham. Demikian juga dalam resepsi pernikahan. Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam menikahi Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, beliau menggelar resepsi perkawinan dengan jamuan yang lebih bila dibandingkan dengan jamuan resepsi istri-istri beliau yang lainnya.

2. Suami tidak boleh menempatkan lebih dari satu istri dalam satu rumah, kecuali dengan ridha mereka

Seorang suami harus menyediakan satu rumah untuk setiap istri-istrinya, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini agar tidak memunculkan kecemburuan antara istri yang satu dengan yang lainnya ketika harus ditempatkan dalam satu rumah.

3. Pembagian giliran antar istri

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menyebutkan, termasuk sunnah jika seorang suami menikah lagi dengan seorang gadis, maka ia boleh tinggal di rumah istri muda selama tujuh hari, untuk kemudian tinggal sesuai giliran masing-masing stri. Sedangkan jika istri mudanya berstatus janda, maka ia boleh menginap di tempatnya selama tiga hari, dan setelah itu ia harus tinggal sesuai giliran masing-masing. (HR. Bukhari 5214, Muslim 1461)

4. Tidak wajib menyamakan rasa cinta dan kasih sayang

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An NIsa : 129)

Bahkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam lebih mencintai Aisyah radhiyallahu ‘anha dibandingkan dengan istri-istri beliau yang lainnya.

5. Seorang istri tidak boleh meminta suami untuk menceraikan istri yang lainnya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah seorang perempuan meminta (suami) untuk menceraikan madunya agar bisa memenuhi piringnya sendiri, akan tetapi baginya apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Bukhari 5152, Muslim 1408)

Wallahu Ta’ala a‘lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 3, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *