Peristiwa Isra’ Dan Mi’raj

isra miraj

Alomuslim.com – Isra dan Miraj merupakan dua peristiwa berbeda yang terjadi pada satu malam. Adapun Isra’ merupakan perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Baitul Maqdis di Palestina. Dalam satu riwayat yang shahih, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di isra’kan dengan jasadnya dengan mengendarai al-Buraq. Dalam perjalanan ini beliau ditemani oleh malaikat Jibril alaihissallam.

Sebelum melakukan perjalanan isra’, malaikat Jibril membelah dada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengeluarkan jantungnya. Kemudian di datangkan sebuah bejana dari emas yang penuh dengan iman, dan jantung beliau dicuci dalam bejana tersebut kemudian dimasukkanlah keimanan kedalam jantung beliau. Setelah itu, jantung beliau dikembalikan lagi ketempatnya. Peristiwa pembelahan dada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini merupakan yang kedua kalinya, sebelumnya pernah terjadi ketika beliau masih anak-anak.

Kemudian didatangkan Buraq, yang dijadikan tunggangan oleh Rasulullah dalam perjalanan isra’. Buraq berukuran lebih kecil dari Bagl (hewan hasil persilangan antara kuda dan keledai), ia memiliki bentuk seperti kuda. Apabila ada kisah yang menyebutkan Buraq memiliki sayap dan berkepala seperti wanita, maka ini adalah kisah yang tidak ada sumbernya. Buraq memiliki langkah yang sangat jauh, dimana dalam satu riwayat disebutkan, ia mampu meletakkan kaki depannya sejauh matanya memandang.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam singgah di Baitul Maqdis dan mengimami shalat bersama para Nabi, lalu menambatkan Buraq pada gelang pintu masjid. Kemudian pada malam itu juga, beliau diajak menuju langit dunia dan inilah peristiwa mi’raj, yakni perjalanan dari Baitul Maqdis menembus tujuh lapis langit dunia hingga mencapai Sidratul Muntaha dan Baitul Ma’mur.

Malaikat Jibril meminta izin kepada malaikat penjaga langit agar dibukakan pintu baginya. Malaikat penjaga pintu langit bertanya, ‘Siapa engkau?’ Malaikat Jibril menjawab, ‘Aku Jibril’, kemudian ditanyakan lagi, ‘Siapa yang bersamamu?’ maka dijawab, ‘Dia Muhammad’. Kemudian dibukakanlah pintu langit pertama. Di langit pertama, Rasulullah bertemu dengan ruh Nabi Adam alaihissallam. Dan memberikan salam kepadanya lalu dibalas oleh Nabi Adam dan mengakui kenabian Beliau.

Kemudian Rasulullah di mi’rajkan lagi ke langit kedua. Malaikat Jibril meminta dibukakan pintu langit kedua dan ditanyakan pertanyaan yang sama. Malaikat penjaga pintu langit kemudian membukakan pintu dan mengucapkan, ‘Selamat datang wahai orang yang terbaik’. Dilangit kedua ini, beliau berjumpa dengan ruh Nabi Yahya bin Zakaria dan Nabi Isa bin Maryam. Nabi Isa yang ditemui oleh Rasulullah bukanlah ruhnya, tetapi memang tubuh aslinya, karena Nabi Isa telah diangkat ke langit.

Kemudian beliau di mi’rajkan lagi ke langit ketiga. Disetiap mencapai pintu langit, malaikat Jibril senantiasa meminta izin dan ditanyakan pertanyaan yang sama. Ditempat itu, beliau bertemu dengan ruh Nabi Yusuf alaihissallam lalu memberi salam kepadanya. Dia membalasnya dan menyambut beliau serta mengakui kenabian beliau.

Kemudian beliau di mi’rajkan lagi ke langit keempat. Disana beliau bertemu dengan ruh Nabi Idris alaihissallam, lalu memberinya salam. Dia menyambut beliau dan mengakui kenabian beliau. Kemudian di mi’rajkan lagi ke langit kelima. Disana beliau bertemu dengan ruh Nabi Harun bin Imran lalu memberi salam kepadanya. Dia membalasnya dan mengakui kenabian beliau.

Kemudian beliau di mi’rajkan lagi menuju langit keenam. Disana beliau bertemu dengan tuh Nabi Musa bin Imran lalu memberinya salam. Nabi Musa menyambut dan mengakui kenabian beliau. Dalam satu riwayat disebutkan, dalam pertemuan tersebut Nabi Musa menangis ketika bertemu Rasulullah disebabkan karena ada pemuda yang diutus setelah dirinya, tetapi umatnya masuk surga lebih banyak dari umatnya.

Kemudian beliau di mi’rajkan ke langit ketujuh. Disana beliau bertemu dengan ruh Nabi Ibrahim alaihissallam dan menyambut beliau dengan berkata, ‘Selamat datang anak yang shalih’. Karena Nabi Ibrahim memang merupakan kakek Rasulullah. Nabi Ibrahim menyambutnya dan mengakui kenabian beliau.

Kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha merupakan sejenis pohon sidr (bidara) yang berada di tempat paling tinggi dan tidak ada sesuatu lagi lebih tinggi selain pohon sidr itu. Dalam satu riwayat disebutkan, akarnya menancap dilangit keenam, dan ia tumbuh menembus sampai langit ketujuh dan terus sampai lebih tinggi lagi. Bahkan, para malaikat hanya mampu berada sampai Sidratul Muntaha ini saja.

Lalu dinaikan Baitul Ma’mur untuk beliau, diteruskan dengan mi’raj menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau mendekat kepada-Nya hingga hampir sejarak dua busur atau lebih dekat lagi. Kemudian Allah mewahyukan kepada hamba-Nya, 50 waktu shalat. Lalu beliau dibawa turun, hingga mencapai langit keenam dan bertemu dengan Nabi Musa lagi. Dia menanyakan apa yang telah diperintahkan, beliau menjawab, ’50 waktu shalat’.

Nabi Musa kemudian berkata, ‘Umatmu pasti tidak akan sanggup melakukan itu, kembalilah ke Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu!’ Lalu beliau di ajak naik kembali menghadap Allah. Allah Ta’ala menguranginya menjadi 10 rakaat. Kemudian beliau turun hingga melewati Nabi Musa lagi, dan memberitahukan perintah tersebut kepadanya. Tetapi Nabi Musa menyuruh beliau untuk meminta diringankan lagi.

Beliau terus mondar-mandir antara Nabi Musa dan Allah hingga akhirnya Allah menjadikan perintahnya dengan 5 waktu shalat saja. Nabi Musa masih menyuruh beliau untuk meminta keringanan perintah itu. Lalu beliau menjawab, ‘Sunggu aku malu kepada Rabbku, aku rela dengan hal ini dan menerimanya’. Setelah beliau menjauh, terdengar suara menyeru, ‘Aku telah memberlakukan fardhu-Ku dan telah memberikan keringanan kepada para hamba-Ku’.

Akhirnya, Rasulullah dibawa turun oleh malaikat Jibril untuk kembali lagi ke Mekah. Dalam perjalanan mi’raj ini, beliau sempat melihat Surga dan Neraka serta beberapa orang yang disiksa di dalamnya. Menurut para ulama, yang beliau lihat merupakan gambaran tentang masa depan, bahwa akan ada penduduka Neraka yang disiksa dengan berbagai siksaan karena perbuatannya. Karena menurut para ulama, Surga dan Neraka pada hari ini belum ada penghuninya.

Demikianlah kisah perjalanan isra’ dan mi’raj, yang merupakan salah satu mukjizat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menembus batas akal dan pikiran manusia. Maka peristiwa ini jangan dipahami dengan logika semata, tetapi menerimanya dengan keimanan tanpa mempertanyakan kebenarannya, seperti yang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yakini. Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)
  • Isra’ Mi’raj, video ceramah Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA (Insan TV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *