peristiwa pembangunan ka'bah
KISAH NABI DAN RASUL

Peristiwa Pembangunan Ka’bah Oleh Suku Quraisy

Alomuslim.com – Ka’bah merupakan bangunan pertama yang ada di muka bumi, yang dibangun oleh Nabi Adam alaihissalam dan puteranya, Nabi Syits. Tetapi kemudian bangunan Ka’bah rusak pada saat peristiwa banjir besar di masa Nabi Nuh alaihissalam. Sehingga Ka’bah dibangun ulang oleh Nabi Ibrahim alaihissalam bersama puteranya Nabi Ismail alaihissalam.

Setelah beberapa generasi, Ka’bah menjadi bagian penting dari peradaban bangsa Arab. Ka’bah menjadi pusat ibadah bangsa Arab dan sebagian umat manusia. Sehingga pada masa suku Quraisy berkuasa di kota Mekkah dan menjadi penjaga Ka’bah, dimana orang-orang sudah mulai banyak yang berdatangan untuk beribadah di Ka’bah, beberapa suku Quraisy bersatu untuk membangun ulang Ka’bah.

Peristiwa pembangunan Ka’bah terjadi ketika Rasulullah  masih berusia dua puluh lima tahun dan belum mendapat risalah kerasulan. Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bangunan Ka’bah adalah delapan belas hasta. Awalnya Ka’bah ditutup dengan kain putih yang berasal dari Qibhty, Mesir. Kemudian ia ditutup dengan kain Al Burud yang berasal dari Yaman. Adapun orang yang pertama kali menutupnya dengan kain sutera adalah Al Hajjaj bin Yusuf. Orang-orang Quraisy berencana untuk memberikan atap pada Ka’bah dan meninggikannya.

Ada beberapa peristiwa yang terjadi selama pembangunan Ka’bah. Diantaranya, pada saat pembangunan Ka’bah sempat terjadi peristiwa yang membuat orang-orang Quraisy ketakutan. Yakni munculnya seekor ular dari lubang sumur Ka’bah, tempat biasa mereka memberikan sesaji setiap hari.

Ular tersebut kemudian mendekati tembok Ka’bah, sehingga orang-orang tidak bisa bekerja. Setiap kali di dekati, ular tersebut langsung mendesis dan mengangkat kepalanya, siap untuk menyerang siapa saja yang mendekat. Kemudian datang seekor burung, yang dikirim Allah, yang langsung menerkan ular tersebut dan membawanya pergi. Akhirnya orang-orang melanjutkan pembangunannya.

Peristiwa menakjubkan lainnya, setelah orang-orang bersepakat untuk meruntuhkan bangunan Ka’bah, kemudian ada salah seorang diantara mereka yang mengambil batu Ka’bah, tetapi kemudian batu tersebut lepas dari tangannya dan kembali ke posisi semula.

Sehingga Abu Wahb, paman ayahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang sangat dihormati oleh orang-orang Quraisy, berkata kepada mereka, ‘Wahai orang-orang Quraisy, untuk pembangunan Ka’bah ini janganlah kalian menggunakan uang kecuali uang yang halal. Jangan sampai ada uang hasil pelacuran, uang dari hasil riba, dan uang yang diambil dari manusia dengan cara yang zalim.’

Kemudian setelah bangunan Ka’bah diruntuhkan, hingga pada tahap peruntuhan pondasi Ibrahim alaihissalam, pondasi tersebut terbuat dari batu hijau berbentuk seperti punuk unta yang saling menempel lengket antara yang satu dengan yang lainnya. Kemudian ada salah seorang yang menusukkan linggisnya ke batu tersebut, untuk mencabutnya. Tatkala batu tersebut bergera, tiba-tiba seluruh kota Mekkah bergetar hebat. Karena peristiwa ini, akhirnya mereka menghentikan usaha mencabut batu tersebut.

Perselisihan Suku-Suku Quraisy

Orang-orang Quraisy membagi tugas untuk masing-masing suku dalam membangun tiap bagian Ka’bah. Pembanungan pintu menjadi bagian Bani Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara rukun Aswad dan rukun Yamani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung kepada mereka. Punggung Ka’bah menjadi bagian Jumah dan Sahm bin Amr bin Hushaish. Hajar Aswad menjadi jatah Bani Abduddar bin Qushay, Bani Asad bin Al Uzza dan Bani Adi bin Ka’ab bin Luay.

Seluruh kabilah di Quraisy mengumpulkan bebatuan untuk pemugaran Ka’bah. Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri, kemudian dengannya mereka membangun Ka’bah. Ketika pembangunan memasuki tahap peletakkan hajar Aswad, terjadi selisih pendapat diantara mereka. Setiap kabilah ingin menempatkan hajar Aswad ketempatnya semula tanpa melibatkan kabilah-kabilah yang lain.

Perselisihan tersebut hingga memicu setiap kabilah ingin untuk saling berperang. Selama empat atau lima malam orang-orang Quraisy berada dalam keadaan seperti itu. Akhirnya mereka bertemu di Masjidil Haram untuk melakukan perundingan. Kemudian Abu Umayyah bin Al Mughirah bin Umar bin Makhzum, salah seorang tertua dari kalangan Quraisy berkata kepada mereka yang berkumpul, ‘Hai orang-orang Quraisy, biarlah konflik kalian ini diselesaikan oleh orang yang pertama kali masuk pintu masjid haram, dia memustuskan perkara kalian.’

Mereka yang hadir mematuhi perintah Abu Umayyah bin Al Mughirah, dan tatkala itu Rasulullah-lah orang pertama yang masuk ke dalam masjid. Ketika mereka melihat Rasulullah  sudah berada di dalam masjid, mereka berkata, ‘ini Al Amin, yang terpercaya. Kami senang! Ini Muhammad.’

Ketika Rasulullah bertemu dengan mereka, maka diceritakan kepada beliau, kemudian berkata, ‘Kalau demikian serahkan kain kepadaku.’ Kainpun diserahkan, kemudian Rasulullah mengambil hajar Aswad yang diperebutkan, kemudian meletakkannya ke dalam kain dan tangannya sendiri seraya berkata :

“Setiap kepala kabilah memegang ujung kain ini, lalu mengangkatnya bersama-sama.”

Mereka mengikuti apa yang diperintahkan Rasulullah. Ketika mereka tiba di tempat hajar Aswad, Rasulullah mengambil hajar Aswad dan meletakkannya di tempat semula, lalu membangun diatasnya. Merekapun akhirnya menuntaskan pembangunan Ka’bah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Referensi : Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam (Akbar Media : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *