Perjalanan Dakwah Pertama Rasulullah Di Luar Mekah

Perjalanan Dakwah Pertama Rasulullah

Alomuslim.com – Setelah berdakwah selama 10 tahun di tengah-tengah kaum Quraisy, akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam harus berdakwah keluar Mekah menuju Thaif. Hal ini dilakukan setelah kematian Abu Thalib dan ummul mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha, dimana ketika itu kaum Quraisy semakin lancang dalam menolak dakwah dan menyakiti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian, Rasulullah menuju Thaif dengan berjalan kaki yang jaraknya sejauh 60 mil dari Mekah. Dalam perjalanan ini Rasulullah di damping oleh anak angkat beliau, Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Selama perjalanan, Rasulullah mendakwahi setiap kabilah yang dijumpai. Beliau mengajak mereka untuk memeluk Islam. Namun tidak satupun diantara orang-orang tersebut yang menerima ajakan Rasulullah.

Setelah sampai di Thaif, Rasulullah tidak menyia-nyiakan waktunya dengan bersegera berdakwah mendatangi para pemuka kaum dan juga penduduk Thaif. Beliau tinggal selama sepuluh hari di tengah-tengah penduduk Thaif. Dan setiap mendakwahi mereka, Rasulullah hanya mendapatkan jawaban yang hampir sama, yakni kata-kata, ‘Keluarlah engkau dari negeri kami”. Bahkan mereka membiarkan sebagian orang yang tidak bermoral menyakiti Rasulullah.

Maka tatkala Rasulullah hendak keluar dari Thaif, para penduduk berkumpul dan mencaci maki dan melempari beliau dengan batu. Hingga berdarah-darahlah kaki beliau dan juga mengakibatkan luka-luka di kepala Zaid bin Haritsah karena berusaha melindungi Rasulullah. Para penduduk Thaif terus melakukan hal tersebut sampai Rasulullah keluar sejauh 3 mil.

Kemudian Rasulullah segera berlindung di kebun, milik seseorang bernama Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Atas pengusiran itu Rasulullah merasa sangat sedih dan hati beliau dipenuhi dengan kegetiran. Pemilik kebun yang menyaksikan kejadian itu merasa kasihan, kemudian mengutus budaknya yang bernama Addas untuk membawakan setangkai anggur. Addas membawakan anggur tersebut dan menaruhnya dihadapan Rasulullah.

Rasulullah mengambil anggur tersebut, sambil mengucapkan, ‘Bismillah’. Maka Addas merasa heran dengan yang diucapkan Rasulullah, karena menurutnya hal tersebut tidaklah dilakukan oleh penduduk negeri itu. Kemudian Rasulullah bertanya kepada Addas, apa agama dan dari mana asalnya. Addas mengatakan kalau dirinya beragama Nasrani dan berasal dari Ninawa (Nineveh). Rasulullah mengatakan bahwa negeri tersebut adalah negeri Nabi Allah, Yunus bin Matta alaihissalam.

Addas bertambah heran, karena tidaklah yang mengetahui hal tersebut melainkan ia pasti seorang Nabi. Diapun bertanya apa yang diketahui Rasulullah mengenai Yunus bin Matta? Beliau menjawab, ‘Dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi, demikian pula dengan diriku’. Seketika setelah mendengar jawaban itu Addas langsung merengkuh tubuh Rasulullah dan mencium kedua tangan dan kaki beliau. Kemudian Addaspun meninggalkan Rasulullah.

Rasulullah keluar dari kebun tersebut untuk pulang kembali ke Mekah. Tatkala sampai di sebuah tempat bernama Qarn al-Manazil, Allah mengutus malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung, yang siap menerima perintah Rasulullah untuk menimpakan al-Akhasyabain (dua gunung di Mekah) kepada penduduk Thaif. Tetapi beliau menjawab :

“Bahkan aku berharap kelak Allah akan memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah Azza wa Jalla semata, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (HR. Bukhari)

Jawaban yang diberikan Rasulullah menunjukkan kepribadian yang istimewa dan akhlak beliau yang sangat mulia. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan harapan beliau tersebut. Dikemudian hari lahirlah beberapa orang yang menjadi sahabat Rasulullah dan menjadi pembela dakwah beliau yang setia, salah satunya adalah Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi.

Salah satu hikmah dari kisah dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di Thaif ini adalah mengajakan agar setiap muslim hendaknya mendoakan kebaikan kepada orang-orang yang menyakitinya. Meskipun ia dapat membalas perbuatan jahat orang-orang tersebut. Cukuplah Allah yang membalas perbuatan mereka, sungguh Allah adalah sebaik-baik pembuat balasan.

Referensi : Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul Yang Agung, Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri (Darul Haq : 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *