Semua Perkara yang Membatalkan Wudhu Menurut Qur’an dan Hadits

perkara yang membatalkan wudhu

Semua Perkara yang Membatalkan Wudhu Menurut Qur’an dan Hadits – Wudhu adalah salah syarat penting untuk sah-nya shalat yang harus benar-benar diperhatikan. Begitu pentingnya berwudhu hingga akan batal atau sia-sia shalat seseorang jika wudhunya tidak sempurna.

Meskipun wudhu sudah kita laksanakan, jika pada prakteknya kita mengalami beberapa hal yang membatalkan wudhu menurut Qur’an dan hadits ini maka shalat kita tetap saja dianggap tidak sah.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Allah tak akan menerima shalat salah seorang dari kalian jikalau ia berhadats sampai ia berwudhu.” (HR.Bukhari)

Dari hadits diatas sekiranya sudah dapat dengan jelas kita pahami tentang pentingnya berwudhu dan menyempurnakan wudhu ketika hendak melakukan ibadah, terutama shalat baik fardhu maupun sunnah. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui sebenarnya apa saja perkara yang membatalkan wudhu menurut Qur’an dan Hadits.

Mari kita ulas selengkapnya!

Semua Perkara yang Membatalkan Wudhu

Setidaknya ada empat perkara pokok yang disebut dapat menjadi penyebab batal wudhu seorang muslim. Dan jika salah satu atau beberapa perkara yang disebutkan ini terjadi pada kita, maka kita diwajibkan untuk kembali mengambil air wudhu sebelum melaksanakan ibadah shalat.

Beberapa diantara 4 perkara yang membatalkan wudhu tersebut ialah;

1. Apa saja yang keluar dari dubur dan qubul

Sesuatu yang keluar dari qubul atau kemaluan dan juga dubur adalah perkara yang dapat membatalkan wudhu. Sesuatu yang keluar dari qubul misalnya adalah (maaf) air kencing, madzi, wadi, darah (nifas/haids), dll. kecuali mani. Semua itu jika keluar saat kita telah berwudhu maka batallah wudhu kita dan harus mengulanginya lagi, begitu juga ketika kita dalam keadaan menjalankan shalat maka shalat kita pun batal karenanya.

Sedangkan yang keluar dari dubur, misalnya adalah kentut, dan juga kotoran ketika kita buang air besar. Maka semua itu dapat menjadi perkara yang membatalkan wudhu kita.

Nah, bagaimana jika kondisi tersebut terjadi ketika kita tengah menjalankan shalat? Seperti yang disebutkan diatas, kita harus menghentikan shalat kita karena wudhu kita sudah batal maka otomatis jika wudhu batal shalat kita pun juga batal.

Contohnya ketika kita sedang rukuk atau sujud, nah tiba-tiba dalam keadaan seperti itu tanpa sengaja kita buang gas (baca:kentut) atau terasa keluar air kencing dari kemaluan kita, walaupun hanya sedikit maka kita harus segera berhenti shalat dengan cara menengokkan wajah ke arah kiri (seperti salam) lalu mengucapkan kalimat tasbih ‘Subhanallah‘. Setelah itu bergegaslah mengambil air wudhu lalu kembali mengerjakan shalat yang sebelumnya batal.

Rasulullah bersabda : “Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar bunyi kentut (angin) tersebut atau mencium baunya.” (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361)

2. Hilang Akal

Banyak sekali kondisi yang mengategorikan ‘hilang akal’ ini, termasuk diantaranya adalah mabuk, pingsan, atau karena tidur yang pulas. Dengan ini sekaligus menjelaskan, bahwa kita tidak boleh langsung melaksanakan ibadah shalat seteleah bangun dari tidur yang nyenyak, meskipun sebelum tidur kita dalam kondisi berwudhu, maka wudhu tersebut tidaklah sempurna jika kita gunakan untuk menunaikan ibadah shalat. Apalagi jika sedang mabuk! tentu anda tahu sendiri apa jawabannya.

Tidur sendiri juga masih dibedakan tergantung bagaimana kondisinya ketika tertidur. Para ulama’ menyebutkan, tidur nyenyak yang dimaksud adalah satu kondisi dimana seseorang tertidur dengan menyandarkan kepalanya atau membaringkan tubuhnya.

Maka tidur yang seperti itu bisa membatalkan puasa. Sebaliknya jika seseorang tertidur dalam keadaan kepala tak bersandar maka itu dikategorikan tidur yang tidak disengaja dan bukan termasuk perkara yang membatalkan wudhu.

Contohnya adalah ketika seseorang melaksanakan ibadah shalat jum’at. Saat khatib khutbah jum’at orang ini tertidur tapi tak menyadarkankepalanya, maka ulama’ menganggap tidurnya tak membuat wudhunya batal. Namun, jika seseorang itu tidur dengan menyandarkan kepalanya di tiang atau di tembol masjid, atau meletakkan kepalanya di lutut maka tidur yang seperti dianggap tidur yang disengaja dan dapat orang tersebut harus wudhu kembali sebelum melaksanakan ibadah shalat jum’at.

3. Bersentuhan kulit dengan yang bukan mahram

Yang dimaksud mahram adalah istri/suami serta orang-orang yang haram untuk kita nikahi, misalnya ibu, adik, kakak, dll. Adapun yang bukan mahram tapi masih kecil atau belum berusia dewasa, asal tidak menimbulkan nafsu maka bukan termasuk perkara yang membatalkan wudhu, jika bersentuhan kulit tanpa adanya pengahalang. Pandangan tersebut adalah yang banyak diyakini oleh sebagian besar ulama dan juga menurut paham dari Imam Syafi’i.

4. Menyentuh dan memegang kemaluan baik milik sendiri maupun orang lain

Untuk perkara yang satu ini berlaku bagi siapapun dan dalam keadaan apapun. Namun, masih ada beberapa perkara yang menjadi pembeda antara batal dan tidaknya wudhu kita ketika menyentuh kemaluan, berdasarkan posisi tangan yang kala itu digunakan untuk menyentuh atau tak sengaja menyentuh kemaluan.

Jika kita tak sengaja menyentuh kemaluan dengan ujung dan samping dari jari-jari kita, dan tangan bagian luar maka itu tidak membatalkan wudhu. Kecuali jika kita menyentuh kemaluan dengan bagian dari telapak tangan atau tangan bagian dalam, maka kita harus kembali berwudhu karena yang demikian adalah salah satu perkara yang membatalkan wudhu.

5. Jima’

Jima’ adalah salah satu perkara yang membatalkan wudhu, sekalipun pada saat melakukannya seseorang tidak mengeluarkan mani. Bahkan ketika seseorang usai melakukan aktivitas tersebut bersama istri/suaminya, maka diwajibkan untuk keduanya agar mandi jinabat untuk membersihak atau mensucikan diri dari hadats besarnya.

Dari Abu Hurairah Ra diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Apabila seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (menggauli istrinya), maka sungguh telah wajib baginya untuk mandi (janabah).” (HR. Al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Ditambahkan pula dalam hadits riwayat muslim : “Sekalipun ia tidak keluar mani.

Apakah Makan dan Minum Membatalkan Wudhu?

Ulama’ sepakat bahwa makanan dan minuman tidak membatalkan wudhu, dan seseorang bisa melaksanakan ibadah shalat usai makan sekalipun ia tidak kemabali mengambil air wudhu. Namun ada beberapa jenis makanan yang bisa menjadi satu perkara yang membatalkan wudhu, selain makanan dan minuman yang diharamkan tentunya. Pemahaman itu berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits sahih, yang artinya :

Pernah ada seseorang yang mengajukan pertanyaan pada Rasulullah saw., “Apakah aku harus berwudhu sesudah makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Jika engkau mau, maka berwudhulah. Namun jika tidak, maka tak mengapa engkau tidak berwudhu (lagi).” Orang tersebut bertanya lagi, “Apakah seseorang harus berwudhu setelah makan daging unta?” Beliau bersabda, “Iya, kamu harus berwudhu (lagi) setelah makan daging unta.” (HR. Ahmad 21358, Muslim 828, dan yang lainnya).

Beberapa ulama’ juga mengemukakan pendapat bahwa makanan yang dimasak dapat menjadi salah satu perkara yang membatalkan wudhu seseorang. Mengacu pada hadits : “Harus wudhu karena makan makanan yang tersentuh api.” (HR.Muslim 814)

Wallahu a’lam bishowab

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *