Ketentuan Hukum Syariat Pinjaman Hutang – Alomuslim

Ketentuan Hukum Syariat Pinjaman Hutang

Ketentuan Hukum Syariat Pinjaman Hutang – Dalam syariat islam pinjaman hutang dikenal dengan sebutan Qardh, menurut bahasa bermakna potongan. Sedangkan menurut istilah syar’i adalah menyerahkan uang kepada orang yang dapat memanfaatkannya; lalu meminta pengembaliannya sebesar uang tersebut.

Hukum Qardh dianjurkan bagi seseorang yang mampu meminjamkannya, berdasarkan firman Allah ﷻ :

مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا فَيُضَٰعِفَهُۥ لَهُۥ وَلَهُۥٓ أَجۡرٞ كَرِيمٞ ١١

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahal yang baik.” (QS. Al Hadid : 11)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ :

“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan dunia dari saudaranya, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat.” (HR. Muslim No. 2699)

Baca Juga : Doa Melunasi Hutang

Hukum Syariat Berkaitan Dengan Pinjaman Hutang

  • Pinjaman menjadi milik dengan diterima, sehingga kapan saja pinjaman itu diterima, maka pada saat itu pula menjadi milik dan tanggungan peminjam.
  • Pinjaman boleh dilakukan dengan tempo, hanya saja menyerahkannya tanpa tempo tertentu lebih baik, karena hal itu meringankan orang yang berhutang.
  • Jika kondisi barang yang dipinjam itu masih utuh sebagaimana pada saat meminjamnya, maka peminjamnya dapat mengembalikannya kepada pemiliknya. Sedangkan jika kondisi barangnya itu telah berubah, baik berkurang ataupun bertambah, maka peminjamnya harus mengembalikan barang sejenis jika menemukan barang yang sejenis, tetapi jika tidak ada maka peminjam harus membayar harganya.
  • Jika dalam pengembalian barang pinjaman itu tidak menemukan kesukaran dalam membawanya, maka pengembaliannya boleh dilakukan ditempat manasaja yang dikehendaki oleh pemberi pinjaman. Sedangkan jika menemukan kesukaran dalam membawanya, maka peminjam harus mengembalikannya di tempat pemberi pinjaman.
  • Pemberi pinjaman haram mengambil keuntungan dari barang pinjaman dengan menambah jumlah pembayaran pinjaman, atau meminta pengambalian barang pinjaman dengan yang lebih baik, atau keuntungan lainnya yang keluar dari akad pinjam-meminjam jika hal itu disyaratkan dan merupakan kesepakatan diantara keduanya. Akan tetapi jika penambahan itu adalah kebaikan dari peminjam, maka hal itu tidak masalah. Karena ketika Rasulullah fdfa meminjam seekor unta yang masih muda, maka eliau mengembalikannya (menggantiya) dengan seekor unta yang usianya memasuki tahun ketujuh, seraya bersabda :“Sesungguhnya manusia yang paling baik adalah orang yang paling baik di dalam mengembalikan hutangnya.” (HR. Bukhari No. 2392, Muslim No. 1600)

Wallahu ‘alam bishawab

Referensi : Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir al Jaza’iri (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *