Puasa Asyura
DASAR ISLAM, PUASA

Sejarah Hari Asyura Dan Keutamaan Puasa Asyura

Alomuslim.com Puasa Asyura merupakan salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan sangat besar, karena ia dikerjakan di salah satu bulan suci kaum muslimin, yakni Al Muharram. Dalam sebuah riwayat dari Abu Qatadah Al Anshoriy radhiyallahu ‘anhu, disebutkan keutamaan mengerjakan puasa Asyura :

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah, beliau menjawab, ‘Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’ Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura. Beliau menjawab, ‘Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu’.” (HR. Muslim no. 1162)

Menurut Imam An-Nawawi dalam penjelasan hadits tersebut ia mengatakan bahwa dosa yang dihapuskan dari mengerjakan puasa Asyura adalah dosa-dosa kecil. Adapun dengan dosa-dosa besar diharapkan dapat diperingan dengan mengerjakan puasa tersebut. (syarh shahih muslim 8 : 46)

Secara bahasa, Asyura bermakna hari ke-10. Dan menurut istilah syariat, puasa Asyura bermakna puasa yang dikerjakan pada hari ke-10 bulan al-Muharram. Puasa Asyura dikenal dan diamalkan tidak hanya oleh kaum Muslimin, tetapi juga oleh orang-orang Yahudi. Dan diantara yang paling bersemangat mengerjakannya adalah orang-orang Syi’ah.

Orang-orang Syi’ah membuat sebuah klaim secara sepihak bahwa puasa Asyura merupakan hari berkabung untuk memperingati pembantaian cucu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Al Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Pada hari Asyura mereka biasa membuat berbagai perayaan untuk mengenang kematian Al Husein. Pembantaian Al-Husein memang terjadi pada tanggal 10 bulan al-Muharram, tetapi jauh sebelum hal itu terjadi, puasa Asyura telah ditetapkan sebagai amalan sunnah bagi kaum muslimin. Sungguh hal ini adalah sebuah kedustaan atas nama syariat Islam.

Dalil Shahih Tentang Puasa Asyura

Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa dalil shahih yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

1. Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha

“Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliyah. Dan Nabi-pun berpuasa Asyura pada masa jahiliyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan telah diwajibakn, beliau berkata, ‘Bagi yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak puasa juga tidak mengapa’.” (HR. Bukhari 2002, Muslim 1125)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah sudah mengerjakan puasa Asyura semenjak beliau masih di Mekkah, ini merupakan fase pertama puasa Asyura. Kemudian ketika beliau hijrah ke Madinah beliau memerintahkan untuk mengerjakan puasa Asyura, bahkan ada yang menyebutkan pada saat itu hukumnya wajib. Ini fase kedua.

Tetapi kemudian setelah turun perintah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, puasa Asyura hanya dianjurkan saja. Ini merupakan fase ketiga.

2. Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

“Ketika Nabi tiba di Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Nabi bertanya, ‘Puasa apa ini?’ mereka menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kamipun ikut berpuasa.’ Nabi berkata, ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Akhirnya Nabipun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa’.” (HR. Bukhari 2004, Muslim 1130)

Hadits Ibnu Abbas ini menunjukkan setelah beberapa waktu Rasulullah tinggal di Madinah, beliau mengetahui bahwa orang Yahudi melakukan puasa juga di tanggal 10 bulan Muharram, maka beliau menanyakannya kepada orang Yahudi tersebut, dan akhirnya beliau kembali memerintahkan manusia untuk berpuasa. Ini adalah fase keempat, dan inilah yang berlaku hingga hari ini.

Untuk menyelisihi kaum Yahudi, Rasulullah memerintahkan untuk mengerjakan puasa satu hari sebelum Asyura yang dikenal dengan puasa Tasu’ah. (HR. Muslim 1134) Atau kalau terlewatkan dapat mengganti dengan puasa satu hari setelah Asyura (11 Al Muharram).

Jadi perkataan orang-orang Syi’ah, yang menyebutkan bahwa puasa Asyura dan perayaan hari Asyura adalah dikhususkan untuk memperingati kematian Al Husein, hanya berlaku untuk golongan mereka saja. Sementara umat Islam memperingati hari Asyura dengan berpuasa adalah dalam rangka ketaatan dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Namun bukan karena tidak merayakan seperti perayaan orang Sy’aih, tidak menjadikan kaum muslimin tidak bersedih dan melupakan sejarah tragedi pembantaian Al Husein, yang justru dilakukan oleh orang-orang Syi’ah. Sungguh itu tidak benar.

Wallahu a’lam.

Referensi :

  • Keutamaan Puasa Asyura, Muhammad Abduh Tuasikal, MSc.
  • Keutamaan Puasa Asyura Dan Sejarahnya, Syahrul Fatwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *