Tata Cara Puasa Qadha Lengkap (Meng-Qadha’ Puasa)

puasa qadha

Tata Cara Puasa Qadha Lengkap – Puasa Qadha’ merupakan kewajiban bagi seorang muslim untuk mengganti puasa Ramadhan sejumlah yang ditinggalkan. Allah SWT memang telah memberikan kemudahan bagi sebagian hamba-Nya, yang memang benar-benar berhalangan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana firman-Nya yang ada di al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 184 :

أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dalam kita Fathul Bahri, Abu Abdillah Muhammad bin Qasim bin Muhammad al Ghazi menerangkan bahwa ada tiga golongan umat yang wajib untuk meng-Qadha puasa. Ketiganya ada sebagai berikut ini.

Pertama, Sseorang yang sedang menderita sakit parah, hingga dikhawatirkan jika melanjutkan puasa yang dilakukan akan menyebabkan mudhorot bagi dirinya. Misal menghambat proses penyembuhan, atau akan menambah para sakit yang diderita. Hingga dikhawatirkan nyawanya akan terancam. Maka yang seperti ini boleh membatalkan puasa atau tidak berpuasa. Namun, harus melakukan puasa Qadha’, atau mengganti puasa sejumlah yang ditinggalkan ketika sudah dalam keadaan sembuh dari sakit.

Poin ini berdasarkan firman Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 185 :

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ي

“Barang siapa dalam kondisi sakit atau dalam perjalanan jauh (dia tidak berpuasa) maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang dia tinggalkan.” 

Keduawanita hamil atau seorang ibu yang sedang menyusui bayinya. Mereka mendapatkan keringanan hukum syari’at dan boleh tidak puasa di bulan Ramadhan. Tapi dengan syarat jika harus mengganti puasa yang telah ditinggalkan di kemudian hari. Ketentuannya adalah jika ibu hamil atau yang menyusui beserta bayinya tadi khawatir/dikhawatirkan akan keselamatannya jika berpuasa, maka mereka hanya wajib men-qadha’ puasa. Namun, jika hanya khawatir/dikhawatirkan akan keselamatan bayinya saja, maka selain puasa qadha’ diluar Ramadhansi ibu/wanita tersebut juga wajib membayar fidyah.

Ketiga, Orang sedang dalam perjalanan jauh/musafir. Yang seperti ini boleh untuk meninggalkan kewajiban puasanya di bulan Ramadhan. Asalkan perjalanan yang dilakukan untuk tujuan yang baik, silaturahmi, mencari nafkah, dan lain sebagainya.

Selain itu ada juga wanita yang sedang dalam masa haid/nifas yang telah pasti haram untuknya berpuasa dan menjalankan ibadah syar’i lainnya. Bagi mereka wajib untukmnegganti puasa sebanyak yang telah mereka tinggalkan di kemudian hari, dan di luar bulan Ramadhan. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ummul Mukminin, Aisyah R.a. Ia berkata :

كاَنَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرٌ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نٌؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Kami pernah dalam kondisi haid, maka Rasulullah memerintahkan kami mengqada puasa dan tidak memerintahkan mengqada shalat.” (H.R. Muslim)

Waktu Menjalankan Puasa Qadha’

Pada dasarnya, kesempatan untuk melakukan puasa qadha’ atau meng-qadha’ puasa Ramadhan yang ditinggalkan cukup panjang. Yakni dari mulai bulan syawal setelah Ramadhan usai hingga nanti saat tiba kembali bulan Ramadhan di tahun depan. Namun, meskipun demikian, hendaknya kewajiban meng-qadha’ puasa ini haruslah segera dikerjakan. Jangan sampai kita menunggu Ramadhan berikutnya semakin dekat. Karena berjaga-jaga jika sampai kita lupa atau khilaf dan tak terasa Ramadhan sudah tiba sedangkan hutang puasa masih banyak. Maka yang demikian adalah salah satu tindakan yang dilarang oleh Allah SWT dan termasuk salah satu tindakan dosa yang diharamkan. Kecuali jika memang ada halangan seperti sakit misalnya, jika memang ada udzur yang demikian maka masih diperbolehkan untuk menundanya hingga setelah sembuh total.

Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah datang ajalnya atau sudah meninggal namun masih meninggalkan hutang puasa? Nah, yang demikian itu adalah satu kewajiban bagi keluarganya untuk membayar hutang puasa dari yang telah almarhum tersebut. Caranya adalah dengan membayarkan fidyah, atau memberi makan fakir miskin sejumlah puasa yang ditinggalkan oleh mendiang. Untuk ketentuan membayar fidyah, anda bisa membacanya disini :

Ketentuan Membayar Fidyah

Dasar hukum kasus seperti ini adalah sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulllah SAW :

مَن مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيُامْ أُطْعِمَ عَنْهُ مَكَانَ يَوْمٍ مِسْكِيْنٌ

Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban puasa, maka dapat digantikan dengan memberi makan kepada seorang miskin pada tiap hari yang ditinggalkannya.” (HR Tirmidzi)

Namun, ada pendapat yang lain dimana mengatakan bahwa membayar fidyah untuk orang yang meninggal tidak diperbolehkan. Tapi, keluarga yang ditinggalkan berkewajiban untuk menjalankan puasa Qadha’ untuk mengganti puasa orang yang telah meninggal tersebut. Pendapat yang kedua ini dinilai sebagai pendapat yang lebih kuat. Berdasarkan Sabda Rasulullah SAW. Dari Aisyah R.a. Nabi SAW bersabda :

مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban qadha puasa, maka walinya (keluarganya) berpuasa menggantikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat men-Qadha’ Puasa Ramadhan

Bagi sebagian dari kita memang lafadz niat bukanlah satu hal yang wajib. Namun, meski demikian juga ada yang merasa bahwa kurang afdhol jika niat dalam beribadah tidak dilafadzkan, maka untuk melengkapinya berikut ini kami juga tambahkan lafadz niat meng-qadha puasa atau niat puasa qadha arab dan latinnya berserta terjemahan atau artinya.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءٍ فَرْضَ رَمَضَانً ِللهِ تَعَالَى

Nawaitu shoma ghodin ‘an qadaa’in fardho Romadhoona Lillahi Ta’alaa

Aartinya : “Aku niat puasa esok hari karena mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *