rasulullah bertengkar dengan istri
DASAR ISLAM, KELUARGA

Ketika Rasulullah Bertengkar Dengan Sang Istri

Kisah Rasulullah Bertengkar Dengan Istri – Seperti halnya kita, Rasulullah adalah manusia biasa, kesehariannya pun tak ubahnya seperti kita bahkan beliau Rasulullah juga tak luput dari perkara yang selalu dihadapi oleh lumrahnya manusia. Namun, karena Rasulullah lebih istimewa dibanding manusia biasa lainnya, maka cara beliau menyikapi segala peristiwa berbeda. Sikapnya yang berbeda dalam mengahadapi satu perkara itulah yang mana harus menjadi suri tauladan kita.

Keseharian Rasulullah yang sama dengan umumnya manusia adalah kebutuhan makan, istirahat, berumah tangga, dan lain sebagainya. Sebagai manusia biasa beliau juga makan dan minum, beliau juga tidur untuk mengistirahatkan raganya yang lelah, dan beliau Rasulullah juga berumah tangga dengan istri-istrinya seperti laki-laki pada umumnya.

Dalam hal berumah tangga, Rasulullah bukan seseorang yang lalu luput dari segala permasalahan suami istri. Beliau juga merasakan susah senangnya manusia yang mengarungi biduk rumah tangga. Seperti umumnya seorang suami, adakalanya Rasulullah SAW bersuka cita dengan penuh keromantisan bersama istri-istrinya. Juga ada masanya beliau bertengkar karena suatu perkara.

Ada sebuah kisah dimana Rasulullah SAW berselisih paham dengan Siti Aisyah. Suatu ketika sang istri, yakni Aisyah, berkata dengan nada yang tinggi, keras lagi lantang kepada Rasulullah SAW dari dalam kamar tidurnya. Kala itu bertepatan dengan sang ayah, yakni Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq bertamu. Otomatis, dari peristiwa itu Abu Bakar pun sudah bisa menerka bahwa sang anak dan menantunya, Rasulullah SAW, sedang dalam satu masalah hingga keduanya bertikai.

Seketika itu juga Abu Bakar as-Siddiq berkata kepada Rasulullah bahwa kiranya ia diberikan izin untuk sebentar saja menemui putrinya, Aisyah. Rasulullah SAW pun mengijinkannya. Ketika Abu Bakar sudah berhadapan denagn putrinya, seketika tangannya terangkat. Abu Bakar hendak memukul sang anak, karena menurutnya sikap Aisyah yang berbicara keras dengan Rasulullah sangatlah tidak pantas.

Mengetahui yang demikian itu, Rasulullah SAW segera mengambil tindakan dengan mencegah Abu Bakar, sebelum tangannya terayun dan mengenai wajah siti Aisyah. Abu Bakar as-Siddiq pun mundur dan mengurungkan niatnya untuk memberi pelajaran kepada Aisyah agar ia tak melakukan perbuatannya lagi. Sesaat kemudian Abu Bakar, memohon untuk undur diri dan meninggalkan anak serta menantunya (Rasulullah) yang sedang bertikai.

Keesokan harinya setelah peristiwa itu, Abu Bakar kembali berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Berbeda dengan saat kedatangannya kemarin, hari itu ia menyaksikan bahwa antara Rasulullah SAW dan anaknya, Siti Aisyah, sudah seperti hari-hari yang lalu. Tidak ada sedikitpun gambaran mereka sedang bertikai, karena memng beliau berdua sudah berbaikan. Siti Aisyah pun terlihat sopan dan sangat hormat kepada Rasulullah SAW, sebagaimana hormatnya sang istri kepada suami.

Tak hanya itu saja, dari kisah lain diceritakan bahwa Rasulullah pernah juga marah kepada istrinya yakni Siti Aisyah karena beberapa perkara yang mendasari. Tapi, dalam kondisi kemarahannya tersebut Rasulullah justru melakukan satu tindakan yang semakin menunjukkan keistimewaan akhlaknya dibandingkan dengan manusia lainnya di seluruh permukaan bumi.

Kala itu, Rasulullah SAW yang marah mengutus kepada istrinya, Aisyah Ra, untuk mendekat dan memejamkan matanya. Mendengar kata Rasulullah, Aisyahpun merasa takut dan terlihat kecemasan dari wajahnya. Ia mengira bahwa akan mendapatkan hukuman dari kesalahan yang dilakukannya hingga membuat Rasulullah marah. Tapi, teryata semua yang dibayangkan dan digambarkan oleh Aisyah kepada Rasullah sepenuhnya salah!

Begitu Aisyah mendekat, tiba-tiba Rasulullah memeluk tubuh istrinya tersebut dan berkata, “Khumaira-ku, telah pergi marahku setelah aku memelukmu.” (HR.Muslim)

Khumaira sendiri adalah panggilan sayang Rasulullah SAW kepada Siti Aisyah, yang artinya pipi yang kemerah-merahan. Subhanallah, begitu mulia akhlak Rasulullah SAW, hingga pada saat marahnya beliau tetap bisa memberikan peringatan dengan penuh kelembutan.

Hikmah dari Kisah Rasulullah Bertengkar dengan Istri

Dari sekelumit kisah teladan Rasulullah SAW yang telah kita ulas diatas. Setidaknya ada dua hikmah yang bisa kita ambil, diantaranya adalah

1. Tidak Melibatkan Orang Lain dalam Masalah Rumah Tangga

Seberat apapun masalah yang sedang mendera rumah tangga kita, hendaklah untuk berusaha sekuat tenaga menyelesaikannya sendiri dengan penuh kebijaksanaan. Tak perlu kita melibatkan orang lain dalam permasalahan tersebut, apalagi orang tua atau mertua. Usahakan dahulu untuk mengatasinya berdua, karena jika kita melibatkan orang tua yang ada malah akan semakin menambah pikiran mereka. Sebagaimana sikap Rasulullah yang mencegah Abu Bakar mencampuri urusan rumah tangga beliau.

2. Meredam Amarah dengan Kelembutan

Hikmah ini dengan sangat jelas tergambar pada sikap Rasulullah saat meredam amarahnya kepada sang istri. Beliau tidak melempar tangannya untuk menyakiti tubuh Aisyah, tapi justru mendekapnya dan memberikan kata-kata penuh kasih sayang yang sarat akan makna. Sungguh muliah sikap Rasullah, yang mana jika kita bisa menirunya pastilah akan tenteram sejahtera rumah tangga kita.

Demikian sekelumit informasi tentang kisah rasulullah bertengkar dengan sang istri, semoga bermanfaat bagi para pembaca yang budiman. Terimakasih

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *