Rukun Ibadah Haji Ketiga - Sa'i
DASAR ISLAM, HAJI

Rukun Ibadah Haji Ketiga : Sa’i

Alomuslim.com – Sa’i adalah berjalan diantara Shafa dan Marwah secara bolak-balik dengan niat beribadah, terdirid dari tujuh putaran dimulai dari Shafa  dan diakhiri di Marwah.

Sa’i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu rukun haji menurut pendapat mayoritas ulama. Barangsiapa yang lupa dan tidak melaksanakan Sa’i, ia harus kembali melaksanakannya ketika sudah mengingat agar ibadah hajinya menjadi sempurna, baik ketika sudah kembali ke negara asal atau selagi masih ada di Mekkah. Karena jika tidak melakukannya, maka hajinya batal dan tidak dapat digantikan dengan dam (denda) atau yang lainnya.

Dalil yang menguatkan pendapat tersebut adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Alla. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.” (QS. A, Baqarah : 158)

‘Aisyah radhiallahu anha menjelaskan makna tentang ayat itu, ia menyebutkan tentang orang-orang Anshar yang bertanya kepada Rasulullah mengenai perihal turunnya ayat tersebut, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk melakukan sa’i diantara keduanya (Shafa dan Marwah), dan tidak membenarkan orang yang meninggalkannya. (HR. Bukhari no. 1561)

Diantara beberapa hadits yang menyebutkan perihal keharusan seseorang melakukan sa’i dan menganggap batal haji tanpa mengerjakannya adalah hadits dari ummul mukminin ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata :

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan thawaf (berkeliling) dan kaum musliminpun melakukannya -yang dimaksud adalah sa’i antara Shafa dan Marwah- dan itu sudah menjadi Sunnah. Aku bersumpah, Allah tidak akan menganggap sah haji orang yang tidak melakukan sa’i diantara Shafa dan Marwa.” (HR. Muslim no. 1277, Ibnu Majah no. 2986)

Ada pendapat lain dari beberapa ulama yang mengatakan bahwa sa’i adalah wajib, dan nukan semata-mata rukun haji. Bagi yang tidak melakukannya, maka dia harus membayar dam dan hajinya dianggap sah. Ulama yang berpendapat seperti ini adalah Abu Hanifah, Ats Tsauri dan Al Hasan Al Bashri.

Sementara itu Anas bin Malik, Abdullah bin Zubair radhiallahu anhumma dan Muhammad bin Sirin berpendapat bahwa sa’i merupakan amalan sunnah dan bukan wajib. Maka barangsiapa yang meninggalkannya, dia tidak dikenai apa-apa. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan menyerupai pendapat Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud radhiallahu anhumma. Karena di dalam mushaf Ibnu Abbas dan Ubay disebutkan, “Maka tidak ada dosa bagi yang tidak berkeliling (melakukan sa’i) antara keduanya (Shafa dan Marwah). 

Seorang ulama mengomentari pendapat ini dengan berkata, “Sesuatu yang telah gugur dalam catatan mushaf jamaah tidak dapat dijadikan sebagai hujjah (penguat pendapat), karena ia tidak pasti berasal dari Allah, dan tidak dihukumi sebagai Al Qur’an, kecuali yang telah dinukil oleh Jamaah antara dua lauh, dan riwayat paling baik dalam penakwilan ayat ini adalah seperti yang telah disebutkan oleh Aisyah.” (At Tahmid, Ibnu Abdil Bar 2/98)

Wallahu a’lam.

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 2, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *