Salah Persepsi Dalam Doa Ketika Memohon Ampunan

salah persepsi dalam doa

Salah Persepsi Dalam Doa Ketika Memohon Ampunan Manusia memiliki sifat yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai tempatnya salah. Karena sifatnya inilah, manusia sering terjatuh dalam perbuatan maksiat dan dosa. Setiap umat islam yang beriman pasti paham, bahwa perbuatan maksiat dan dosa termasuk sejumlah sebab yang pasti mendatangkan kemudharatan bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat.

Namun, adakalanya mereka tertipu dengan dirinya sendri, misalnya ketika melakukan sebuah perbuatan maksiat, mereka akan menunda untuk bertaubat dan mencukupkan dengan hanya membaca Istighfar karena merasa yakin dengan mengandalkan ampunan dari Allah azza wa jalla. Mereka menyangka bahwa apabila seseorang melakukan kemaksiatan kemudian berdoa mengucapkan ; Astaghfirullah, maka dampak negatif atau dosa dari kemaksiatan tersebut akan hilang dan selesailah urusannya.

Persepsi yang paling keliru adalah, ketika sebagian umat islam berdalil menggunakan ayat-ayat serta hadits dari baginda Nabi ﷺ untuk melegalkan perbuatan maksiat mereka. Mereka melakukan berbagai perbuatan maksiat semaunya, kemudian berdoa dengan mengucapkan “Subhanallah wa bi hamdihi”, sebanyak seratus kali, maka apa yang dilakukan akan terampuni seluruhnya. Mereka berdalih menggunakan hadits shahih dari Nabi ﷺ, bahwasanya beliau bersabda :

“Barangsiapa mengucapkan ; ‘Subhanallah wa bi hamdihi’ (Maha Suci Allah dan aku memuji-Nya), sebanyak seratus kali dalam sehari, maka dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih dilautan.” (HR. Bukhari no. 6042, Muslim n0. 2691)

Ini adalah tipuan yang dibuat oleh syaitan, yang selalu mengajak pada keburukan, kebodohan dan hawa nafsu. Mereka telah tertipu oleh syaitan, dengan senantiasa melakukan perbuatan maksiat dan dosa dengan meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa dan mengampuni setiap kesalahan yang mereka kerjakan.

Akhirnya mereka melakukan perbuatan maksiat hingga seumur hidupnya. Inilah contoh orang-orang yang bergantung kepada nash-nash yang berisi pengharapan, menyandarkan diri kepadanya dan memegangnya dengan keyakinan yang kuat akan tetapi mengamalkannya tanpa ilmu.

Hakikatnya ketika seseorang berbuat maksiat, kemudian menganggap remeh perbuatannya dengan keyakinan seperti itu, maka doa yang mereka panjatkan tidak akan dikabulkan, karena doa akan dikabulkan bergantung dengan kesungguhan diri serta keikhlasan. Bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan doa dan memberikan ampunan kepada mereka, sementara mereka senantiasa bermaksiat kepada Allah?

Dari Hudzaifah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda :

“Demi Allah yang jiwaku ini berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh kepada sesuatu yang makruf dan mencegah dari yang mungkar ; atau Allah menurunkan siksa kepada kalian, hingga kalian berdoa kepada-Nya tetapi tidak dikabulkan.” (HR. at-Tirmidzi no. 2169, Ahmad V/388)

Hendaknya kaum muslimin berhenti untuk hanya bersandar pada rahmat dan ampunan serta kemurahan Allah akan tetapi mengabaikan perintah dan larangan-Nya. Karena orang-orang yang hanya bersandar pada ampunan Allah, tetapi terus-menerus berbuat maksiat dan dosa, mereka bukanlah tergolong hamba Allah yang beriman, tetapi mereka adalah seorang pembangkang. Allahul Musta’an.

Referensi :

  • Ad Daa’ Wa Ad Dawaa’, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (Pustaka Imam Asy-Syafi’i : 2016)
  • Doa & Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas (Pustaka Imam Asy-Syafi’i : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *