Saudah Binti Zam’ah, Ummul Mukminin Setelah Wafatnya Khadijah

Alomuslim.com – Gelar ummul mukminin merupakan sesuatu yang istimewa yang hanya bisa di sematkan kepada para wanita mulia yang menjadi istri baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Diantara salah satu ummul mukminin adalah Saudah binti Zam’ah radhiyallahu ‘anha. Saudah merupakan wanita yang pertama dinikahi oleh Rasulullah setelah beliau ditinggalkan oleh Khadijah radhiyallahu ‘anha. Dia dinikahi beberapa bulan setelah wafatnya ibunda Khadijah dengan mahar sebesar 400 dirham.

Pada saat dinikahi oleh baginda Nabi, Saudah sudah berstatus janda dari salah seorang sahabat Rasulullah, Sakran bin Amr. Suaminya telah meninggal beberapa tahun sebelum dirinya dinikahi oleh baginda Nabi. Saudah dan mantan suaminya termasuk golongan As-Saabiquunal Awwaluun (orang-orang yang pertama memeluk Islam).

Mereka termasuk orang-orang yang ikut hijrah pertama kali ke negeri Habasyah (Ethiopia). Tetapi mereka memutuskan kembali ke Mekah untuk mendampingi perjuangan dakwah Rasulullah. Mereka memilih untuk menikmati berbagai kesulitan dan penderitaan selama dapat menyertai baginda Nabi, dari pada hidup nyaman dan tenang tapi jauh dari beliau.

Beberapa waktu setelah kembali dari Habasyah, sang suami, Sakran, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Sakran meninggal dunia di Mekah dan menggoreskan kesedihan yang sangat mendalam di hati Saudah. Sejak itu, ia hidup seorang diri, namun ia menjalaninya dengan sabar dan ridha menerima takdir Allah, karena ia yakin bahwa kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya jauh lebih besar daripada kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Kesabarannya telah mengantarkan dirinya menjadi salah seorang wanita yang mulia. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendakinya dinikahi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Setelah dinikahi oleh baginda Nabi, ia berusaha sekuat tenaga agar dapat meringankan beban dan penderitaan beliau saat menghadapi tekanan dari kaum musyrikin. Ia sadar bahwa dirinya tidak mungkin dapat mengisi ruang kosong dalam hati Rasulullah yang ditinggalkan oleh ibunda Khadijah.

Salah satu bentuk kemuliaan dan kebesaran hatinya sebagai seorang istri, Saudah yang selalu berusaha ingin membahagiakan baginda Nabi, sampai memberikan jatah hari giliran tinggalnya kepada istri yang lebih dicintai oleh baginda Nabi yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, demi mendapatkan keridhaan beliau. Saudah juga sangat pandai menyenangkan hati baginda Nabi. Dirinya sering membuat beliau tersenyum dengan cerita-cerita yang disampaikannya.

Saudah harus mengalami kesedihan untuk kedua kalinya, kali ini kesedihannya begitu pedih, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia. Saudah merasa kehilangan segalanya dalam sekejap mata. Kesedihan yang dirasakannya sungguh sangat menyayat hati, meskipun demikian ia tetap menguasai diri dan menyerahkan segalanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun ia pantas untuk berbangga, karena kelak dirinya akan kembali menjadi istri yang mendampingi baginda Nabi di Surga kelak.

Saudah hidup sebagai janda Nabi shallallahu alaihi wa sallam selama beberapa tahun, dan hingga pada masa akhir pemerintahan Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Allah mentakdirkannya untuk kembali kepada-Nya. Saudah radhiyallahu ‘anha merupakan wanita teladan agung bagi para istri kaum muslimin, anak-anak mereka dan juga para wanita sepanjang masa.

Referensi : 35 Sirah Shahabiyah Jilid 1, Mahmud Al-Mishri (Al-I’tishom : 2014)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may like