Sebab Dibolehkannya Asuransi Komersial

sebab dibolehkannya asuransi komersial

Sebab Dibolehkannya Asuransi Komersial – Hukum haramnya asuransi telah sangat jelas, kami pernah membahasnya pada tulisan kami sebelumnya. Untuk mendapatkan penjelasan mengenai pengharamannya, Anda bisa merujuk kepada artikel tersebut disini. Dalam tulisan kali ini, kami akan sampaikan pendapat ulama mengenai pengecualian hukum haramnya asuransi sehigga menjadi diperbolehkan untuk dimanfaatkan oleh umat muslim.

Dalam buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, yang disusun oleh Dr. Erwandi Tarmizi, MA hafidzahullahu ta’ala, beliau memasukkan sub bagian yang membahas tentang pengecualian hukum haram asuransi komersial dengan memberikan beberapa pandangan dari para ulama.

Baca Juga : Pengertian Asuransi Syariah Dalam Islam

Kondisi Yang Menyebabkan Diperbolehkannya Asuransi Komersial

1. Apabila keberadaan asuransi dalam sebuah akad hanya sebagai pengikut

Misalnya : pada kasus pembelian barang elekstronik, mobil, tiket angkutan umum, darat, laut dan udara dan lain-lainnya, yang tercantum dalam akad pembelian kewajiban membayar asuransi.

Hal ini dikecualikan, karena status asuransi disini hanya sebagai pengikut dan bukan tujuan dalam transaksi, maka keberadaan asuransi disini tidak merusak akad dan hukumnya boleh.

2. Apabila asuransi komersial tersebut merupakan suatu kebutuhan orang banyak

Misalnya : Suatu negara mewajibkan setiap pemilik kendaraan bermotor membayar asuransi terhadap pihak ketiga jika terjadi kecelakaan. Maka warga negara tersebut tidak ada pilihan, selain membayar asuransi. Hukum ini tidak diharamkan karena dia membayar dalam rangka terpaksa yang tidak mungkin mendapat izin mengemudi tanpa membayar asuransi sedangkan dia sangat membbutuhkan untuk mengemudi kendaraan bermotor.

3. Apabila asuransi komersial diterima tanpa premi

Misalnya : Asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan kepada para karyawannya tanpa mewajibkan mereka membayar premi. Maka hukumnya boleh, karena karyawan hanya mendapat hibah dari perusahaan dan hibah tidak disyaratkan harus terbebas dari gharar.

Senada dengan pendapat diatas, jawaban Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, salah seorang ulama besar dari Arab Saudi, ketika ditanya tentang hukum menggunakan asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan dengan cuma-Cuma tanpa pegawai harus membayar premi, “Hukumnya boleh, karena karyawan yang mendapat pelayanan kesehatan tersebut tidak membayar premi asuransi.”

Sementara untuk memanfaatkan ganti rugi apabila terjadi resiko, jenis asuransi pada no 1 dan 2 diatas, para ulama berbeda pendapat, adapun pendapat tersebut :

Pendapat pertama : Tidak boleh dimanfaatkan uang ganti rugi yang diberikan, kecuali seukuran dengan uang yang telah dia bayar selama ini ke pihak asuransi tersebut. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama kontemporer.

Pendapat kedua : Boleh dimanfaatkan uang ganti rugi yang diberikan oleh pihak asuransi. Namun, yang lebih baik ia mengambil klaim ganti rugi dan jika dia termasuk fakir miskin halal baginya memanfaatkan uang tersebut. Dan jika dia bukan fakir miskin, maka kelebihan dari premi yang pernah dibayarkan disalurkan untuk fakir miskin atau kepentingan umum. Wallahu ‘alam.

Referensi : Harta Haram Muamalat Kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA (BMI Publishing : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *