Sejarah Runtuhnya Dinasti Bani Umayyah Dan Berdirinya Dinasti Bani Abbasiyah

Alomuslim.com – Setelah terjadi pemberontakan pada masa khalifah dinasti Bani Umayyah yang terakhir, yakni Marwan Al Himar pada tahun 132 Hijriyah dan menyebabkan terbunuhnya sang khalifah di tangan pemberontak, yang tak lain dilakukan oleh orang-orang dari Bani Abbasiyah. Maka pada saat itu berakhirlah seluruh kekuasaan Bani Umayyah atas kaum muslimin, dan sebagian dari keturunan mereka menyelamatkan diri ke Eropa, yang kemudian melanjutkan dinastinya di Andalusia, Spanyol.

Pemberontakan Bani Abbasiyah dipimpin oleh Abdullah bin Ali, yang memerangi khalifah Marwan Al Himar di lokasi pertempuran di dekat wilayah Maushil. Khalifah Marwan kalah dalam pertempuran tersebut, lalu dia kembali ke istananya di Syam. Namun Abdullah melakukan pengejaran, hingga akhirnya khalifah Marwan melarikan diri ke Mesir. Pengejaran terus dilanjutkan oleh saudaranya Abdullah, yang bernama Shaleh, dan keduanya bertemu di desa Bushir. Akhirnya khalifah Marwan berhasil dibunuh pada bulan Dzulhijjah tahun 132 Hijriyah.

Kemudian diangkatlah khalifah dinasti Bani Abbasiyah yang pertama, Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, atau yang dikenal dengan As-Saffah atau Abu Al-Abbas. As-Saffah merupakan keponakan dari Abdullah bin Ali, pimpinan yang melakukan pemberontakan terhadap khalifah Marwan. As-Saffah adalah cucu dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas, dan ia merupakan satu keluarga dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari kakek mereka Abdul Muthalib. Oleh sebab itu kenapa dinasti itu disebut dengan dinasti Bani Abbasiyah.

Pusat pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah yang pertama berada di Kufah. Berdirinya dinasti Bani Abbasiyah sudah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa salllam, melalui lisan beliau :

“Akan muncul penguasa dari kalangan keluargaku pada suatu zaman yang carut marut dan penuh dengan fitnah. Dia disebut As-Saffah. Dia suka memberi harta dengan jumlah yang banyak.” (HR. Ahmad)

Rasulullah juga pernah memberitahukan hal tersebut kepada pamannya, Al Abbas, bahwa khalifah akan ada di tangan anak cucunya. Sejak itulah Bani Abbas membayangkan datangnya khilafah tersebut. Tatkala khilafah berada di tangan Bani Abbas, saat itu tidak ada seorang penduduk bumi yang lebih banyak bacaan Al Qur’annya dan ibadahnya dari pada mereka.

Referensi : Tarikh Khulafa, Imam As-Suyuthi (Pustaka Al Kautsar : 2015)

Leave a Comment