Shalahuddin Al Ayyubi, Panglima Pembebas Kota Suci Al Quds

Shalahuddin Al Ayyubi

Alomuslim.com – Kota suci Al Quds, yang telah direbut dari Romawi oleh umat muslim pada masa khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu di tahun 15 Hijriyah, kemudian berhasil direbut kembali oleh orang-orang Eropa dengan semangat perang salib mereka pada tahun 492 Hijriyah. Ketika itu pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah sedang mengalami kegoyahan dengan banyaknya pemberontakan oleh raja-raja wilayah Islam.

Ketika kerajaan Eropa menguasai kota suci Al Quds, mereka melakukan kekejaman yang luar biasa terhadap kaum muslimin dan juga kaum Yahudi yang tinggal di kota tersebut. Mereka membantai sekitar tujuh puluh ribu orang, yang diantaranya adalah para ulama, para ahli ibadah dan orang-orang alim. Mereka juga menghimpun orang-orang Yahudi di tempat peribadatannya lalu membakarnya.

Pada saat itu dikirimkan seruan jihad oleh khalifah di Baghdad, namun seruan tersebut tidak mampu memenangkan kaum muslimin untuk merebut kota suci Al Quds. Kerajaan Eropa, justru semakin kuat dan mampu bertahan di wilayah Syam. Setelah menemui banyak kekalahan dalam upaya merebut kota suci Al Quds, akhirnya semangat jihadpun memudar dari dada kaum muslimin. Pemerintahan dinasti Bani Abbasiyah disibukkan dengan berbagai pemberontakan para sultan dan raja-raja kecil dari berbagai wilayah Islam. Islam mengalami kegelapan, jauh dari kejayaan.

Tetapi, cahaya terang kemudian Allah turunkan kepada kaum muslim, ketika pada tahun 532 Hijriyah lahir seorang bayi yang akan menjadi pemimpin kaum muslimin melawan tantara salib untuk merebut kembali kota suci Al Quds, dia adalah Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi atau yang diberi gelar Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin muda menunjukkan bakat luar biasa dalam pertempuran dibawah asuhan Sultan Nuruddin Zinki. Shalahuddin muda sangat mengagumi Sultan Nuruddin Zinki, karena dialah orang yang menggelorakan semangat jihad kepada kaum muslimin untuk merebut kembali kota suci Al Quds. Nuruddin Zinki berhasil menaklukan beberapa wilayah dan menyatukannya dibawa kekuasannya, di Damaskus.

Shalahuddin selalu terlibat dalam penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Nuruddin Zinki, bahkan Sultan memberinya kepercayaan untuk merebut Mesir yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang Syi’ah dari khilafah ‘Ubaidiyah. Setelah Sultan Nuruddin Zinki wafat pada tahun 569 Hijriyah, Shalahuddin diangkat sebagai sultan, menggantikan putra mahkota yang masih sangat kecil.

Pada tahun 583 Hijriyah, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi menyatukan para sultan dan raja-raja kecil di wilayah Islam untuk merebut kota suci Al Quds dari kerajaan Eropa. Sultan Shalahuddin berhasil menaklukan beberapa wilayah di Syam yang dikuasai oleh kerajaan Eropa. Hingga akhirnya kaum muslimin bertemu dengan tentara salib di wilayah bukit Hittin, sebelah utara Yerusalem.

Terjadilah peperangan besar di wilayah bukit Hittin. Kekuatan kaum muslimin saat itu diperkirakan sebesar 60.000 orang, sementara kekuatan tentara salib hampir mencapai 50.000 orang dengan persenjataan yang lebih lengkap. Tetapi, dengan kecerdasan dalam mengatur strategi perang, Sultan Shalahuddin akhirnya berhasil memimpin kaum muslimin meraih kemenangan gemilang atas tentara salib, bahkan dapat menangkap raja mereka, yakni Guy de Lusignan.

Kemudian kaum muslim melanjutkan perjalanan menuju Baitul Maqdis untuk menembus benteng kokoh dari tentara salib yang tersisa. Akhirnya, kaum muslimin berhasil menembus benteng tentara salib, kota suci Al Quds berhasil direbut kembali setelah dikuasai oleh orang-orang Eropa selama 91 tahun.

Setelah berhasil merebut Al Quds, Sultan Shalahuddin merubah semua yang telah dilakukan oleh orang-orang Eropa. Sultan membangun kota suci Al Quds yang baru, yang penuh kedamaian dengan memberikan kebebasan pada setiap orang untuk tinggal dan menjalani ibadahnya.

Sultan Shalahuddin wafat pada tahun 589 Hijriyah, atau enam tahun setelah berhasil merebut kota suci Al Quds. Diakhir hidupnya, Sultan Shalahuddin hanya meninggalkan baju besi perangnya, kuda serta uang satu dinar dan tiga puluh dirham, yang dikirimkan kepada khalifah Bani Abbasiyah di Baghdad. Bahkan dengan hartanya tersebut tidak cukup untuk membiayai pemakamannya.

Itulah kisah Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima yang telah membebaskan kota suci Al Quds dari kekejaman tentara salib.

Referensi : Tarikh Khulafa, Imam As-Suyuthi (Pustaka Al Kautsar : 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *