shalat subuh dan isya
DASAR ISLAM, SHALAT

Shalat Subuh Dan Isya : Anjuran Dan Ancaman Meninggalkannya

Shalat Subuh Dan Isya : Anjuran Dan Ancaman Meninggalkannya – Shalat subuh dan shalat isya memiliki keutamaan dengan derajat yang lebih tinggi dibandingkan shalat fardhu lainnya. Secara khusus banyak dari para ulama membahas keutamaan dan anjuran untuk melaksanakan shalat subuh dan isya secara berjamaah dalam kitab-kitab yang mereka tulis.

Diantaranya adalah kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib, sebuah kitab yang disusun oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, beliau menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan tentang keutamaan dan ancaman meninggalkan shalat subuh dan shalat isya berjamaah, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ :

“Barangsiapa berjalan di kegelapan malam ke masjid-masjid, niscaya dia akan bertemu Allah pada hari kiamat dengan cahaya.” (HR. Ath Thabrani & Ibnu Hibban)

Dan diantara keutamaan lainnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu, dari Rasulullah ﷺ bersabda :

“Barangsiapa shalat isya dengan berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat setengah malam. Dan barangsiapa shalat subuh dengan berjamaah maka seolah-olah dia telah sholat semalam suntuk.” (HR. Malik, Muslim dan Abu Dawud)

Baca Juga : Seperti Shalat Semalam Penuh

Sementara hadits yang memperingati tentang ancaman meninggalkan shalat subuh dan shalat isya berjamaah, yakni hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda :

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh, seandainya mereka mengetahui pahala keduanya niscaya mereka akan menghadirinya walaupun dengan merangkak..” (HR. Bukhari, Muslim)

Dan juga hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhu, dia berkata :

“Kami dulu apabila tidak melihat seseorang dalam shalat subuh dan isya, maka kami akan berburuk sangka kepadanya.” (HR. Al Bazzar, Ath Thabrani dan Ibnu Khuzaimah)

Sungguh, siapakah yang senang dicap sebagai orang munafik? Naudzubillah tsuma naudzubillah.

Referensi : Shahih At Targhib Wa At Tarhib Jilid 1, Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani (Darul Haq : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *