Siapakah Dzulqarnain Yang Kisahnya Disebutkan Dalam Qur’an?

Siapakah Dzulqarnain

Alomuslim.com – Dalam Qur’an disebutkan mengenai kisah seseorang bernama Dzulqarnain, yang diberikan anugerah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kekuasaan sepanjang timur dan barat. Kisahnya diceritakan dalam penggalan surat al-Kahfi [18] dari ayat 83 sampai ayat 99. Siapa sebenarnya Dzulqarnain tersebut? Apakah dia seorang Nabi? Kenapa kisahnya diceritakan dalam Al Qur’an?

Kisah Dzulqarnain diceritakan dalam Al Qur’an terkait dengan pertanyaan dari kaum Yahudi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Pertanyaan ini seperti sebuah pengujian terhadap Rasulullah. Karenanya Al Qur’an datang untuk menjawab pertanyaan mereka sekaligus menjadi bukti yang mengukuhkan kebenaran kenabian, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dari hal tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi sangat mungkin telah mengetahui kisah dan hakikat identitas Dzulqarnain. Kemungkinan ini menunjukkan bahwa dalam kitab yang dipegang oleh orang-orang Yahudi telah menceritakan kisah Dzulqarnain. Tetapi Al Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengungkapkan secara terperinci siapakah identitas Dzulqarnain yang sebenarnya.

Sehingga banyak diantara para ulama ahli sejarah maupun tafsir yang melakukan kajian ilmiah dalam rangka mencari tahu siapa sebenarnya Dzulqarnain. Sebagiannya melakukan kajian dalam rangka memecahkan misteri lokasi dinding penghalang Ya’juj dan Ma’juj, yang memiliki keterkaitan cerita dengan Dzulqarnain. Akan tetapi tampaknya sebagian besar dari penjelasan mengenai Dzulqarnain hanyalah ijtihad (pendapat) yang dituturkan oleh para ulama melalui penulusuran kitab-kitab ulama pada masa lalu atau berdasarkan ilmu Tarikh dan sejarah.

Karenanya mereka berselisih dalam menjelaskan mengenai identitas Dzulqarnain, setidaknya menjadi empat pendapat :

Pendapat pertama, Dia adalah Iskandar Al-Maqduni (Alexander Macedonia)

Namun disayangkan, ulama yang menyetakan pendapat ini bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan secara dha’if, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai dalil yang menguatkan pendapat ini. Dan fakta sejarah juga menyebutkan bahwa Iskandar Al-Maqduni merupakan seorang kafir yang salah satu gurunya adala Aristoteles yang juga kafir. Sementara ayat-ayat yang ada menunjukkan bahwa Dzulqarnain merupakan seorang yang shalih dan juga raja yang alim.

Pendapat kedua, Dzulqarnain adalah seorang raja pada masa Nabi Ibrahim

Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa Dzulqarnain hidup bersamaan dengan masa Nabi Ibrahim alaihissallam. Ibnu Hajar menganggap kuat pendapat ini dan membawakan beberapa penjelasan dari para sahabat dan ulama generasi tabiin, yang menunjukkan adanya pertemuan antara Dzulqarnain dengan Nabi Ibrahim. Akan tetapi penjelasan-penjelasan tersebut terdapat beberapa kritikan dari para ulama.

Pendapat ketiga, Dia merupakan seorang raja dari Arab

Pendapat ini juga disebutkan oleh Ibnu Hajar dengan menyertakan berbagai perbedaan pendapat tentang identitas pribadi Dzulqarnain, apakah dia termasuk dari kalangan raja-raja Humair atau raja-raja Hairah. Namun ulama ahli sejarahpun meragukan pendapat ini dan menganggapnya jauh dari kebenaran.

Pendapat keempat, Dzulqarnain seorang raja Persia bernama Qouresy

Pendapat ini dikeluarkan oleh Abul Kalam Azad dan juga Hamid Al-Aulaqi yang merupakan pakar sejarah terkemuka dari India, yang melakukan penelitian dalam mencari hakikat identitas Dzulqarnain dan juga berusaha memecahkan misteri tentang Ya’juj dan Ma’juj.

Pendapat ini diambil oleh Dr. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh, penulis buku Ensiklopedi Akhir Zaman. Dia menyebutkan bahwa tidak ada satu rajapun yang sesuai dengan kisah ini kecuali Qouresy atau Khoresh, Maharaja Persia yang membebaskan kaum Yahudi dari perbudakan Babilonia. Pada saat Qouresy berkuasa, kerajaan Persia merupakan kerajaan Islam, sebelum akhirnya mengalami distorsi sejarah sehingga menjadikan Persia berikutnya sebagai kerajaan penyembah raja mereka.

Terlepas dari pendapat mana yang lebih dikuatkan, setiap pendapat tersebut merupakan hasil dari ijtihad (hasil pemikiran) para ahli sejarah dalam mengungkap identitas Dzulqarnain. Dan ini merupakan bagian dari usaha melakukan penelitian ilmiah karena keterbatasan informasi dari Al Qur’an dan hadits yang mengisahkan tentang Dzulqarnain.

Wallahu a’lam.

Referensi : Ensiklopedi Akhir Zaman, Dr. Muhammad Ahmad Al-Mubayyadh (Granada Mediatama : 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *