Sumber Hukum Islam Aswaja

Sumber Hukum Islam Aswaja – Menyikapi tentang masalah suber hukum Islam, alangkah baiknya jika kita berpedoman kepada sumber hukum Islam golongan Aswaja atau Ahlus sunnah wal jama’ah. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dengan beberapa rangkaian lafadznya oleh Abu Daud, at-Tirmidzi, dll. Rasulullah SAW bersabda yang diantaranya :

Orang Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, Orang Nasrani terpecah-pecah menjadi 72 golongan sdan umatku tergolong-golong menjadi 73 golongan. Kesemuanya di neraka kecuali satu. Mereka (sahabat) bertanya ‘Ya Rasulullah, siapakah yang selamat?‘ Nabi SAW menjawab ‘Ahlusunnah wal jama’ah‘ Dan kemudian bertanya lagi ‘Apakah assunnah wal jamaah itu? Beliau Rasulullah SAW lantas menjawab,’Apa yang aku berada di atasnya (ajaran), hari ini, dan beserta para sahabatku. (HR. Thabrani dan Tirmidzi).

Lalu bagaimana sumber hukum Islam yang digunakan oleh para golongan Aswaja atau Ahlussunnah wal jama’ah? Simak ulasan kami berikut ini.

Sumber Hukum Islam Aswaja

Untuk menyelesaikan segala permasalahan mengenai hukum, golongan Aswaja selalu berpedoman kepada 4 hal yang menjadi sumber hukum Islam. Dua yang pertama adalah sumber hukum Islam yang paling utama, yakni Al-Qur’an dan hadits atau sunnah Rasulullah SAW. Sedangakan dua yang lainnya adalah sebagai pelengkap, yakni hukum Ijma’ dan Qiyas.

Allah Ta’ala berfirman dalam surat an-Nisa ayat 59 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Imam Syafi’i juga telah menegaskannya dalam kitab al-Risalah karya beliau, yang terdapat pada halaman ke 36. Yang artinya :

Seseorang tak diperbolehkan menghukumi halal atau haram, kecuali ia telah mengerti dalilnya. Sedangkan untuk mengetahui dalil didapatkan dari al-Qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas.”

Untuk lebih jelasnya, berikut ini penjelasan singkat mengenai keempat sumber hukum Islam aswaja yang disebutkan diatas.

1. Sumber Hukum Islam Aswaja : Al-Qur’an

Sebagai seorang muslim, tentu yang pertama menjadi rujukan hukum mengenai apa saja tak ada lain yang paling utama adalah al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai sumber hukum dan pedoman hidup manusia diseluruh muka bumi sangat terjamin tentang keasliannya. Allah SWT sendiri yang telah menjamin penjagaan al-Qur’an dari upaya-upaya buruk yang dilakukan oleh tangan-tangan kotor. Semenjak lafadz al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW, turun ke jaman sahabat, hingga sampai sekarang di masa umat akhir zaman tak ada satu huruf pun yang ditambahkan atau pun dikurangi dari al-Qur’an.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.‘ (QS al-Hijr ; 9)

2. Sumber Hukum Islam Aswaja : Hadits/Sunnah

Sumber hukum islam yang kedua adalah hadits atau sunnah Rasulullah SAW. Apa itu sunnah? Sunnah adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi SAW dan juga para sahabat. Yang termasuk dalam sunnah adalah semua dari imu, keyakinan perbuatan, ucapan dan juga ketetapan yang telah dibuat.

Pada prakteknya, hadits atau sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat digunakan untuk menjelaskan detail apa yang termaktub dalam al-Qur’an. Alasannya, karena di dalam al-Qur’an banyak sekali dalil yang menghukumi sesuatu dalam konteks yang umum. Dan kedudukan hadits sebagai sumber hukum islam kedua adalah untuk menjelaskannya secara lebih terperinci kepada umat.

Firman Allah SWT :

وَاَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl : 44)

Dikuatkan dengan firman Allah SWT dalam surat al-Hasyr ayat ketujuh :

وَمَاءَاتَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْاوَاتَّقُوْااللهَ, اِنَّ اللهَ شَدِيْدُاْلعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras sikapnya”. (Al-Hasyr: 7)

3. Sumber Hukum Islam Aswaja : al- Ijma’

Dalil yang menguatkan mengapa Ijma’ diangkat menjadi sumber hukum Islam ketiga oleh golongan Aswaja adalah berdasarkan firman Allah SWT

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Ijma’ sendiri, penjelasan singkatnya adalah kesepakatan yang dibuat oleh jumhur ulama’ atau para mujtahid untuk menghukumi suatu perkara baru, sepeninggal Rasulullah SAW. Jadi, keberadaan Ijma’ adalah ketika saat Nabi SAW telah wafat. Suatu ketika ada perkara-perkara baru, maka para ulama’ atau mujtahid membuat kesepakatan tentang hukum perkara tersebut. Namun, dalam penetapannya masih berdasarkan dasar hukum yang diambil dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Contoh dari hasil hukum Ijma’ adalah kesepakatan adzan dua kali di masa kehalifahan Utsman bin Affan Ra, dan ketetapan  shalat sunnah tarawih selama bulan Ramadhan.

Ijma’ sendiri dibedakan menjadi dua jenis. Diantaranya adalah Ijma’ Bayani dan Ijma’ Sukuti. Penjelasannya :

Ijma’ Bayani, adalah ketika semua mujtahid berpendapat baik dalam bentuk ucapan ataupun tulisan yang menunjukkan tentang adanya kesepakatan.

Ijma’ Sukuti, adalah ketika beberapa atau sebagian dari ulama’ Mujtahid telah berpendapat namun sebagian lainnya diam. Tapi diamnya sebagian ulama’ Mujtahid bukan karena malu atau takut berpendapat, melainkan karena mereka juga telah setuju atau sepakat.

Pada jenis Ijma’ yang kedua ini, masih terjadi perbedaan pendapat pada beberapa ulama’. Ada yang menyatakan bahwa bisa diikuti, sebagian lain berpendapat sebaliknya. Alasannya adalah diamnya ulama’ adalah suatu sikap yang belum bisa jelas atau belum bisa dipastikan tentang setuju atau tidaknya. Sedangkan Ijma’ Bayati sudah ditemukan satu kesepakatan yang pasti, dan bagi umat wajib untuk mengikutinya sebagai sumber hukum islam setelah al-Qur’an dan al-Hadits.

Hukum Ijma’ menjadi sumber hukum Islam aswaja yang ketiga, berdasarkan firman Allah SWT di surat an-Nisa ayat 59, yang berbunyi :

ياأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْاأَطِيْعُوْااللهَ وَأَطِيْعُوْاالرَّسُوْلَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu”.

Serta sabda Baginda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih, yang artinya :

“Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

4. Sumber Hukum Islam Aswaja : Qiyas

Qiyas, dalam segi bahasa dapat diartikan mengukur.  Qiyas adalah satu upaya untuk menentukan hukum suatu perkara yang kejelasan hukumnya tidak terdapat dalam al-Qur’an, Hadits maupun Ijma’ para ulama Mujtahid. Pada prakteknya, qiyas dilakukan dengan mengukur atau menyamakan suatu perkara baru dengan perkara yang lainnya untuk penentuan hukum karena terdapat beberapa sebab yang sama diantara kedua perkara tersebut.

Satu perkara yang bisa diambil sebagai contoh dalam penerapan hukum Qiyaz adalah ketika membicarakan tentang hukum menggunakan narkoba. Berdasarkan rukum Qiyas yang meliputi 4 perkara, yakni : al-ashl, al-far’u, al-hukmu, dan yang terakhir adalah as-sabab, maka disimpulkan bahwa narkoba itu haram. Jika kita hanya mengambil hukum dari al-Qur’an dan hadits, maka tidak akan ditemukan hukum tentang keharaman narkoba, tapi jika ditinjau dari kesamaan sebabnya, maka ditemukan bahwa narkoba sama memabukkan seperti halnya khmr. Selain itu, narkoba adalah konsumsi termasuk makanan dan minumak yang membawa mudharat, maka disimpulkan hukum narkoba adalah haram.

Allah SWT berfirman dalam surat al Hysr ayat 2 :

فَاعْتَبِرُوْا يأُوْلِى اْلأَيْصَارِ
“Ambilah ibarat (pelajaran dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

Demikian tadi sumber hukum Islam aswaja atau sumber hukum Islam yang digunakan oleh golongan Ahlusunnah wal jam’ah dalam menentukan hukum suatu perkara. Hal ini menunjukkan bahwasanya golongan Aswaja tak pernah sekalipun meninggalkan dalil dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW dalam penentuan hukumnya. Keduanya lebih diutamakan daripada penggunaan akal. Maka untuk menghukumi sesuatu yang tidak ditemukan kejelasan hukumnya secara spesifik dalam dua sumber hukum Islam yang utama, saat itulah digunakan hukum pelengkap Ijma’ dan Qiyas. Namun, tetap berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadits.

Sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may like