Ketentuan Mengenai Sunnah Aqiqah

Alomuslim.com – Aqiqah, arti sebenarnya adalah rambut yang ada pada kepala bayi sewaktu lahir. Tetapi kemudian secara makna mengalami perubahan, aqiqah menjadi sebuah istilah untuk menyebut domba atau kambing yang disembelih dalam rangka kelahiran bayi. Karena ketika rambut si bayi tersebut dicukur, dibarengi dengan prosesi penyembelihan domba atau kambing.

Aqiqah disunahkan untuk dikerjakan pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi, yakni mulai dihitung tepat setelah bayi keluar dari rahim ibunya maka pada saat itu terhitung sebagai hari pertama. Bagi orangtua bayi diperintahkan untuk menyembelih dua ekor domba atau kambing jika bayinya laki-laki dan satu ekor domba atau kambing jika bayinya perempuan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Setiap bayi yang lahir disertai aqiqahnya, maka alirkanlah darah (sembelihlah hewan atas Namanya) dan singkirkanlah gangguan darinya (dengan mencukur rambutnya).” (HR. Bukhari 5471, at-Tirmidzi 1515, Ibnu Majah 3164)

Diriwayatkan pula dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“(Potonglah) dua ekor kambing yang sehat untuk bayi laki-laki, dan satu ekor untuk bayi perempuan.” (shahih. HR. at-Tirmidzi 1513, Ahmad 6/31)

Selanjutnya, daging hasil sembelihan aqiqah dapat dimakan untuk sendiri (sebagiannya), lalu sebagian lainnya dijadikan jamuan makan untuk para tamu yang datang untuk menyaksikan kelahirannya, dan sebagian lainnya disedekahkan (kepada faikir miskin).

Adapun hewan yang dapat dijadikan untuk aqiqah memiliki kriteria yang sama dengan hewan kurban, yaitu berupa kambing yang bebas dari cacat dan kriteria lainnya. Wallahu a’lam. 

Referensi : Shahih Fikih Sunnah Jilid 1, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim (Pustaka Azzam : 2015)

Leave a Comment